ZAINAL ABIDIN AHMAD: PEJUANG DAN ARSITEK MASYUMI (Bagian 1)

ZAINAL ABIDIN AHMAD: PEJUANG DAN ARSITEK MASYUMI (Bagian 1)

0
BAGIKAN
Hadi Nur Ramadhan (Kanan) Peneliti Pusat Kajian Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia

Di antara para tokoh-tokoh Pergerakan Islam dari Partai Masyumi yang sering diceritakan oleh Kakek sewaktu saya masih sekolah Madrasah Tsanawiyah adalah Prof. Haji Zainal Abidin Ahmad. Karya-karyanya sudah saya baca sejak duduk dibangku Madrasah Kelas 1 Muallimin dan menjadi rujukan wajib training advance Pelajar Islam Indonesia (PII). Sebagai alumni dari Sekolah Thawalib Padang Panjang Sumatera Barat, beliau diamanatkan oleh Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim (penulis kitab Ushul Fiqh As-Sulam) untuk mengajar pada kelas tertinggi (1929-1933).

Salah satu buku referensi yang dipakainya ketika itu ialah buku The New World of Islam karya Lottrop Stoddard yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Amir Syakib Arselan berjudul Hadirul Alam Islamy. Karena pengaruh ajaran yang diberikannya pada waktu itu membangkitkan semangat jihad para siswa Sumatera Thawalib, maka pemerintah kolonial melarang beliau mengajar (onderwijsverbod). Pada waktu itu pemerintah Hindia Belanda memberlakukan “wilde schole ordonantie”, yaitu ordonasi yang sengaja dibuat untuk melumpuhkan apa yang dinamakan oleh penjajah dengan “sekolah-sekolah liar”.

Baca Juga :   Orang-Orang Tiongkok di Masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683)

Dalam dunia karang-mengarang, Allahuyarham Zainal Abidin Ahmad adalah seorang penulis produktif. Buku-buku karangannya cukup berkualitas seperti: Konsepsi Politik dan Ideologi Islam, Konsepsi Negara Bermoral menurut Imam al-Ghazali, Negara Adil dan Makmur menurut Ibnu Sina, Piagam Madinah: Konstitusi Negara Tertulis yang Pertama di Dunia, Ilmu Politik Islam, Memperkembangkan dan Mempertahankan Pendidikan Islam di Indonesia, Riwayat Hidup Imam al-Ghazali, Riwayat Hidup Ibnu Rusyd, Dasar-Dasar Ekonomi Islam, dan beberapa tulisan lainnya yg masih berserakan di majalah-majalah lawas.

Karya-karyanya ini merupakan hasil pengembaraan intelektual beliau sewaktu menjelajah dunia Eropa dan Timur Tengah.

Dalam jagat dunia kewartawanan ia juga pernah memimpin sejumlah media massa yang berpengaruh di Nusantara seperti “Panji Islam” (1934-1942) Medan, “Al-Manar”  (1937-1942) Medan, “Fadjar Asia” (1943-1942) Singapura, “Berita Melayu” (1944-1945) Singapura, “Indonesia Raya” (1947-1948) Yogyakarta, “Pemandangan” (1950) Jakarta, dan “Harian Abadin” (1951-1957) Jakarta.

Pada tahun 1957 Himpunan Pengarang Muslim Indonesia (HPI) di Jakarta mengadakan angket untuk seluruh pembaca tanah air, menyebut sepuluh orang pengarang Islam terkemuka. Antara lain: 1. HAMKA, 2. Isa Anshari, 3. Mohammad Natsir, 4. Tamar Djaya, 5. Moenawwar Khalil, 6. Zainal Abidin Ahmad, 7. Hasbi As-Shiddiqiy, 8. Firdaus AN, 9. Ahmad Hassan, 10. Zaenal Arifin Abbas.

Baca Juga :   Komplek NABE mengadakan Gerakan Shalat Subuh Berjama’ah

Cendikiawan Melayu-Minangkabau yang dianugerahi gelar profesor oleh Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta pada 1982 ini sudah aktif berpolitik sejak usia belia. Bahkan di zaman Belanda, pada usia 23 tahun, ia sudah ikut mendirikan serta memimpin Partai Persatuan Muslimin Indonesia (Permi),  Partai Islam Indonesia (PII), dan kemudian sebagai aktifis Partai Masyumi. Ia sempat menjadi Wakil Ketua DPR untuk masa jabatan 1955-1959.Selain tokoh “Bulan Bintang” seperti M Natsir, Kasman Singodimedjo, Mohamad Roem, Prawoto Mangkusasmito dan Soekiman. Ia juga sebagai seorang ‘tink-tank’ (pemikir dan ideolog) Masyumi yang menjalankan mesin roda politik dalam berjuang. Karya-karyanya menjadi bacaan wajib bagi para anggota dan kader Masyumi di berbagai daerah. (Bersambung)

Oleh: Hadi Nur Ramadhan (Peneliti Pusat Kajian Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)

TINGGALKAN KOMENTAR

4 × 4 =