Tradisi Tasawuf di Kesultanan Banten 1596-1799

Tradisi Tasawuf di Kesultanan Banten 1596-1799

0
BAGIKAN
Foto: Ilustrasi Kesultanan Banten / merdeka.com

Oleh Jemmy Ibnu Suardi (Peneliti Mercusuar Institute)

Tasawuf adalah salah satu disiplin ilmu yang banyak digandrungi oleh umat Islam abad ke-17. Banyak lahir ulama-ulama di Nusantara yang terlibat dan menjadi tokoh kunci dalam penyebaran ilmu-ilmu tasawuf. Sebut saja Syeikh Hamzah Fansuri, Syeikh Syamsuddin Sumaterani, Syeikh Nuruddin ar Raniri, Syeikh Abdurrauf Singkil, Syeikh Burhanudin Ulakan, dan nama-nama besar ulama Nusantara lainnya.

Begitu juga di Banten, diketahui bahwa pendiri Kesultanan Banten adalah seorang Ulama zuriyat Nabi Muhammad Saw. Sunan Gunung Djati atau yang dikenal Maulana Syarif Hidayatullah, mengutus anaknya Maulana Hasanuddin untuk berdakwah ke Banten. Sehingganya Maulana Hasanuddin melakukan Islamisasi di ujung barat pulau Jawa ini, dan mendirikan pemerintahan Islam, Kesultanan Banten. Gelar Maulana yang melekat pada Maulana Hasanuddin, lalu penerusnya Maulana Yusuf dan kemudian Maulana Muhammad, adalah gelar keulamaan sebagai pengakuan akan ketinggian ilmu agama dan derajat kewalian yang dimilikinya. (Hussein Djayadiningrat, Tinjauan Kritis atas Sajarah Banten, hal. 128).

Kesultanan Banten juga tidak bisa dilepaskan dari tradisi tasawuf yang kuat.  Sultan Abu al Mafakhir Mahmud Abdul Qadir, Sultan Banten ke-4 yang berkuasa tahun 1596-1651, gandrung dengan ilmu tasawuf, dan tertarik dengan doktrin sufi Wujudiyah  Syeikh Hamzah Fansuri, Aceh. Namun karena Syeikh Hamzah Fansuri telah tiada, dan diganti dengan Syeikh Nuruddin ar Raniri, tidak mengurangi antusiasme Sultan Abu al Mafakhir untuk mempelajarinya. Tercatat Sultan mengirimkan surat kepada Syeikh Nuruddin ar Raniri agar menjelaskan konsep-konsep tasawuf. Sehingganya Syeikh Nuruddin ar Raniri menulis sebuah kitab berjudul Jawhar al-Haqa’iq, khusus menjawab tentang pertanyaan seputar tasawuf, dari Sultan Banten Abu al Mafakhir. (Mufti Ali, Dkk. Konsep Manusia Tuhan, hal. 3)

Baca Juga :   Mau Bahagia di Dunia, Lakukanlah Hal ini!

Doktrin tasawuf Wujudiyah atau Wahdatul Wujud yang kemudian lebih dikenal dengan istilah “Martabat Tujuh” bersumber dari kitab Tuhfah ar Mursalah ila Ruh al-Nabi karangan Syeikh Muhammad Fadhullah al Burhanpuri. Ketertarikan akan Ilmu tasawuf tersebut membuat Kakek dari Sultan Ageng Tirtayasa ini, kemudian mengirimkan utusan kepada Syarif Zaid penguasa Mekkah (1631-1666),  untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang ilmu tasawuf. Sultan mengutus tiga orang kepercayaannya, yakni Lebe Panji, Tisna Jaya, dan Wangsaraja. (Mufti Ali, Dkk, Konsep Manusia Tuhan, hal. 197-198)

Kecintaan Sultan Abu al Mafakhir akan ilmu tasawuf, mendorongnya untuk menyalin kitab Insan Kamil karangan Syeikh Abdul Karim al Jilli (w. 832 H/1428 M), yakni pengikut dari Syeikh Ibn al ‘Arabi al-Andalusi (w. 638 H/1240 M). Sultan Abu al Mafakhir menyalin dan menerjemahkannya kedalam bahasa Jawa Banten, salinan kitab Insan Kamil tersebut terdiri dari dua jilid, setebal 1703 halaman. Sultan-sultan Banten, tidak hanya dikenal cakap dalam mengelola pemerintahan, tapi juga dikenal alim dan cinta akan ilmu-ilmu agama. Setidaknya kita bisa menyebut beberapa diantaranya yakni,  Sultan ke-4, Sultan Abu al Mafakhir Mahmud ‘Abd al-Qadir (1596-1651), Sultan ke-5, Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), Sultan ke-13, Sultan Abu al-Nashr Muhammad’ Arif Zaynal ‘Ashiqin (1753-1777), dan Sultan ke-15, Sultan Abu al-Mafakhir Muhammad ‘Aliyuddin (1777-1799). Mereka  ikut terlibat dalam diskursus keilmuan Islam,  dan berperan besar dalam membangun tradisi menulis dan penyalinan kitab-kitab penting pada zamannya. (Mufti Ali, Dkk. Konsep Manusia Tuhan, hal. 2-4).

Baca Juga :   Perjuangan Patih Wargadireja Menjemput Surga Menjadi Syuhada (Bagian 2)

Dalam perkembangannya kitab yang di salin Sultan Abu al Mafakhir tersebut disalin ulang di masa Sultan Abu Nashr Muhammad ‘Aliyuddin Zaynal ‘Ashiqin (1753-1777). Penyalinan kitab Insan Kamil tersebut dilakukan oleh Syeikh Abdullah bin Abdul Qahhar al Bantani, yang juga merupakan penyebar tarekat Syatariah di Banten dan sekitarnya. (Martin van Bruineseen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, hal. 268-269).

Kitab Insan Kamil karangan Syeikh Abdul Karim al-Jilli ini, selama bertahun-tahun menjadi pegangan utama dalam pengamalan ilmu tasawuf di Kesultanan Banten. Selepasnya kitab Insan Kamil terjemahan bahasa Jawa Banten tersebut, diambil alih oleh Snouck Hurgronje, dan kini keberadaannya bisa kita jumpai di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. (Mufti Ali, Dkk. Konsep Manusia Tuhan, hal. 4)

TINGGALKAN KOMENTAR

13 − 5 =