Said Iqbal Masuk Angin ?

Said Iqbal Masuk Angin ?

0
BAGIKAN
Foto: Said Iqbal dan kawan-kawan / istimewa

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi (Pimpinan DPD Federasi SP KEP Banten)

Press conference antara elit pimpinan serikat buruh Andi Gani KSPSI dan Said Iqbal KSPI dengan Presiden Jokowi (30 September 2019), membuat gaduh kaum buruh di akar rumput. Banyak yang kecewa, dan menganggap gerakan buruh sudah digembosi, karena Presidennya khususnya Said Iqbal yang selama ini kritis kepada pemerintah, ternyata sudah “masuk angin.”

Namun demikian banyak juga yang membela, boleh jadi ini adalah siasat politik semata. Mereka yakin Presiden KSPI Said Iqbal tetap konsisten memperjuangkan hak-hak buruh.

Beberapa hari sebelumnya (25 September 2019), sudah lebih dulu dilakukan pertemuan antar dua pimpinan konfederasi serikat buruh, yakni Andi Gani Presiden KSPSI dan Said Iqbal Presiden KSPI. Dalam pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa buruh tidak akan beroposisi dengan pemerintah. Buruh tidak memiliki niat untuk menjegal presiden terpilih keputusan KPU, dan dimenangkan dalam sengketa di MK untuk dilantik.

Buruh boleh mendukung atau kecewa dengan Said Iqbal, katakanlah karena manuver politik yang dibuatnya demi menjadi bagian dari kekuasaan, dalam hal ini menjadi menteri tenaga kerja. Tapi itu tidak sepenuhnya buruk, karena kekuasaan itu sudah semestinya diisi oleh orang-orang baik, sehingga menghasilkan keberpihakan kepada rakyat.

Baca Juga :   Peduli Petani Millenial, Pemuda Tani Indonesia dan FKK HIMAGRI Gelar Dialog

Apa salahnya punya ambisi menjadi menteri? Semua boleh, sah-sah saja toh, jika kapasitas orang tersebut mumpuni. Tapi apakah strategi manuver politik yang dimainkan Said Iqbal juga sudah dikomunikasikan ke semua pimpinan aliansi? Saya yakin sudah, kita positif saja.

Coba kita berpikir, mungkin kita mesti mendukung keinginan Said Iqbal, karena kita tau Said Iqbal adalah salah seorang yang mengerti tentang buruh. Siapa tau Iqbal akan mencabut Peraturan-peraturan pemerintah yang merugikan kaum buruh, seperti PP 78 tentang pengupahan, misalnya.

Dan boleh jadi, Iqbal jika menjadi menteri, bisa mempengaruhi Jokowi untuk membatalkan kenaikan iuran BPJS dan tidak merubah UU Ketenagakerjaan. Daripada merubah UU Ketenagakerjaan, lebih baik pemerintah membuat UU untuk Perlindungan Ketenagakerjaan yang sampai sekarang belum ada.

Tapi jika bukan itu yang menjadi alasan Iqbal, ya mungkin benar Iqbal sudah “masuk angin” karena dinginnya ruangan di Istana.

Kita tentu ingat apa yang dikatakan oleh salah seorang Founding Fathers kita, Haji Agus Salim, yang mengatakan “Leiden is Lijden” Memimpin adalah menderita. Kita tidak kekurangan sosok-sosok hebat dalam perjuangan Republik ini. Tidak kurang-kurang mereka memberikan contoh, apa itu pemimpin?

Baca Juga :   FKPT Banten Sosialisasikan Pencegahan Radikalisme dan Terorisme kepada Tokoh Agama dan Masyarakat Pesisir

Haji Agus Salim hidup mengontrak meskipun dirinya adalah pejabat negara. Muhammad Hatta, Sang Proklamator tidak bisa membeli sepatu, padahal dia adalah pemimpin negeri. Muhammad Natsir tidak mampu membeli baju, bahkan ada tambalan di bajunya, padahal Natsir adalah Perdana Menteri Republik.

Mereka hanya sebagain contoh dari para pejuang yang benar-benar memperjuangkan nasib rakyatnya. Mereka bukan tidak bisa untuk kaya, tapi mereka lebih memilih menderita bersama rakyat.

Bukan rahasia umum jika elit-elit di Republik ini sekarang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada orang banyak. Kita tentu tidak menuduh Iqbal sebagai Elit dari gerakan buruh, yang mementingkan dirinya sendiri. Tapi kalau masuk angin? Kalau elit pimpinannya sudah dijinakkan, apalah arti buruh partikelir hendak berharap.

Sekarang kita benar-benar membutuhkan panutan dalam perjuangan membela kepentingan rakyat, khususnya kepentingan buruh di Indonesia. Buruh di Indonesia belum sejahtera, bahkan masih banyak yang bekerja kontrak karena sistem outsourcing, dibayar upah dibawah standar dan bahkan masih banyak yang menganggur karena banyak tenaga kerja asing unskill workers yang mudah mendapatkan pekerjaan ketimbang rakyat Indonesia sendiri.

(FN)

TINGGALKAN KOMENTAR

2 × 5 =