Rusaknya Situs Salakanagara dan Mitos Syeikh Jangkung

Rusaknya Situs Salakanagara dan Mitos Syeikh Jangkung

0
BAGIKAN

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi, M.Pd.I
Co-Founder Mercusuar Institute

Salakanagara adalah sebuah kerajaan kuno di Pulau Jawa yang diyakini keberadaanya di awal milenium dunia. Kira-kira tahun 130 masehi, telah berdiri sebuah kerajaan kuno pra Islam, yang diyakini berpusat di desa Cihunjuran, Pandeglang, Banten sekarang ini.

Seperti dikatakan oleh Ajie Queen, Budayawan Pandeglang, pada awal tahun 2000 sempat dilakukan sebuah penelitian arkeologis yang dilakukan bersama Claude Gulliot, seorang Arkeolog terkemuka yang berasal dari Prancis.

Bersama Banten Heritage saat itu Gulliot mengunjungi desa Cihunjuran, Pandeglang untuk melihat situs-situs pra Islam masa Hindu-Budha. Di dapati di Cihunjuran banyak situs-situs tempat penyembahan dewa-dewa, seperti batu Lingga raksasa.

Lingga yang melambangkan dewa Shiwa menurut Budi Prakoso, Pendiri Banten Heritage, biasanya tersusun dari batu lonjong berjumlah ganjil, bisa satu, tiga, atau lima. Saat diketemukan, Lingga raksasa yang ada di desa Cihunjuran tersebut berjumlah tiga buah dengan ketinggian lebih dari dua meter.

Claude Gulliot seperti keterangan Budi, menduga situs di desa Cihunjuran ini sebagai tempat suci yang digunakan sebagai tempat peribadatan keluarga kerajaan Salakanagara yang dipimpin oleh Prabu Angling Dharma beragama Shiwa. Budi menyebut pada awalnya Gulliot hanya berasumsi demikian, karena untuk meyakinkannya perlu dilakukan penelitan lebih lanjut dan serius.

Saat diketemukan oleh Banten Heritage, kondisi ketiga Lingga raksasa ini beberapa diantaranya sudah rusak. Salah satu Lingga menjadi penyangga menahan tanah bagian atas agar tidak amblas, Lingga yang lain sudah dalam posisi roboh, dan Lingga sisanya masih tegak berdiri.

Menurut Ajie Queen, Budayawan Pandeglang, saat itu Banten Heritage berinisiatif untuk membuat pelang nama dan membungkusnya dengan kain putih sebagai tanda, tanpa maksud menyakralkan Lingga yang masih tegak berdiri. Walau bagaimanapun Lingga ini merupakan artefak kuno yang dapat digunakan sebagai alat pembelajaran sejarah dan arkeologi, bahwa di Banten pernah ada sebuah peradaban kuno, yang menjadi pusat peradaban pra Islam di Pulau Jawa.

Baca Juga :   Dewan Pembina Hilman Tolak Basa-basi Ahok minta maaf

Akhirnya oleh Balai Arkeologi dan Cagar Budaya Nasional ditetapkan bahwa Lingga raksasa ini sebagai tempat cagar budaya yang harus di jaga dan dilindungi sebagai aset historis dan budaya dari Banten. Kelak situs budaya ini akan menjadi daya tarik bagi wisatawan asing dan domestik yang tertarik dengan budaya dan peradaban kuno pra Islam di Banten.

Mitos Syeikh Jangkung.
Ketika penulis coba menyinggahi tempat ini, Minggu, 18 Oktober 2020 lalu, di dapati tempat ini sudah ramai dan memiliki infrastruktur yang cukup memadai. Lapangan parkir yang cukup luas, jalan setapak yang baik, WC, dan fasilitas umum lainnya.

Untuk masuk ke situs Cihunjuran ini, setiap orang harus membayar sejumlah Rp.10.000. Penggunaan WC atau kamar mandi dikenakan Rp.2000. Uang parkir mobil Rp.15.000 dan mendapatkan karcis. Meskipun dalam kondisi wabah Covid-19, ratusan pengujung datang ke Situs Cihunjuran ini. Kebetulan di situs ini terdapat pemandian air alami, dimana terdapat beberapa kolam di dalamnya. Tidak diketahui pasti kemana uang itu akan dikumpulkan dan disetorkan kemana, menurut beberapa narasumber menyebut uang itu masuk ke kas LSM-LSM setempat.

Selain ramai sebagai tempat pemandian, ratusan pengunjung tersebut juga menziarahi dan mengharapkan berkah, kepada makam Syeikh Jangkung, yang diyakini bisa mengabulkan banyak keinginan dan hajat. Syeikh Jangkung sendiri adalah nama lain dari Prabu Angling Dharma dan bukan seorang muslim.

Setelah diselidiki, kuburan yang dianggap sebagai makam Syeikh Jangkung ini ternyata adalah Lingga terakhir yang saat itu masih berdiri, kemudian roboh atau mungkin dirobohkan dan dihadapkan ke arah kiblat, layaknya sebuah kuburan muslim. Dan tempat ini kemudian di keramatkan oleh para pengunjung. Ramainya pengunjung untuk berziarah ke makam Syeikh Jangkung ini, setidaknya baru beberapa tahun belakangan. Masyarakat setempat sebenarnya tidak meyakini disana ada sebuah makam wali. Namun orang luar Cihunjuran bahkan diluar Banten banyak yang menziarahi.

Baca Juga :   Accrual Basis dan Cash Basis dalam Perspektif Islam

Mengembalikan Fungsi Situs Lingga Raksasa.
Rubuhnya Lingga raksasa, dan berubah posisinya, bahkan menjadikan fungsinya sebagai kuburan, artinya telah merubah situs ini dari bentuk yang asli, secara tidak langsung, bisa dikatakan hal ini sebuah tindakan yang dalam kategori merusak cagar budaya itu sendiri, padahal ancaman merusak sebuah situs cagar budaya konsekwensinya sangat besar.

Sesuai dengan UU 11 tahun 2010 Pasal 105, menyebut “Setiap orang yang dengan sengaja merusak Cagar Budaya, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)”

Situs Lingga raksasa ini sudah sepatutnya dikembalikan kepada fungsi aslinya sebagai cagar budaya. Pemerintah setempat yang memiliki otoritas sudah seharusnya memperhatikan hal tersebut. Terlebih lagi perangkat Majelis Ulama dan Ormas-ormas Islam setempat harus memberikan edukasi bahwa tempat itu bukan makam seorang wali yang layak untuk diziarahi, melainkan tempat pemujaan berhala. Hal ini menjadikan masyarakat muslim jatuh kepada kemusyrikan karena menziarahi batu Lingga raksasa yang dikira sebagai makam wali keramat.

Pengembalian fungsi situs Lingga raksasa ini akan berguna untuk penelitian dan pendidikan, selain itu juga bisa menjadi sumber pemasukan kas daerah setempat, dan membantu masyarakat dalam kesejahteraan ekonomi. Hal tersebut Juga bisa memelihara umat Islam dari salah paham terhadap situs kuno pra Islam ini, yang bahkan dikhawatirkan bisa merusak akidah umat Islam. Semoga Pemangku kebijakan, Ormas-Ormas Islam, terlebih Majelis Ulama bisa memperhatikan hal tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

3 × 2 =