Pusaran Arus Globalisasi Dan Perubahan Sosial Baru

Pusaran Arus Globalisasi Dan Perubahan Sosial Baru

0
BAGIKAN

Bantennfo (opini)- Banyak orang menyayangkan keadaan yang dihadapinya. Manusia mengeluh sejadi-jadinya, tentang kondisi sosialnya, mengenai lingkungan tempatnya merajut hidup, tentang tidak kondusifnya situasi dan kondisi dewasa ini. Orang bahkan mencapai frustasi sosial (Social Frustration) bahkan depresi sosial (Social Depression), oleh keadaan-keadaan yang tak disukanya itu. Sebagian di antara kita lantas tidak siap menghadapinya.

Apa yang sesungguhnya sedang terjadi? Menurutku, masyarakat sedang dilanda kesepian di tengah keramaian (lonely in the crowd). Mereka hidup di bawah tekanan keadaan (Social Pressure). Dunia yang kita huni dewasa ini tengah berjungkir balik. Kita hidup di kolong ketidakpastian akibat mengalir kuatnya arus perubahan menuju terbentuknya norma-norma sosial baru.

Arus besar ini bersumber dari globalisasi. Efek globalisasi dikontribusii oleh kemajuan teknologi komunikasi dan innformasi, mempengaruhi terhadap relasionalitas sosial. Orang boleh saja terhubung oleh perangkat teknologi cerdas Smartphone, namun keterhubungan di antara mereka sangatlah kering, karena sulit menyertakan sepenuh hati namun sekedar membuang waktu.

Selain karena efek globalisasi, konstelasi politik kita juga tengah mencari bentuk atau sebutlah tengah mencari perimbangan-perimbangan baru. Relasi-relasi pikiran kolektif sosial kita dengan masa lalu juga belum sepenuhnya sirna. Interdependensi dalam tatanan global tak terhindarkan, di mana hubungan antar negara maju dengan negara dunia ketiga masuk dalam “jebakan” imperialisme ekonomi dan politik.

Baca Juga :   Mantap! Tangsel Siap Gelar Event Barebow Vaganza

Pengaruh lingkungan global melahirkan orientasi perubahan sosial yang destruktif. Masyarakat semakin pragmatis dan eksploitatif. Perubahan sosial politik dan arus globalisme semakin mendorong hancurnya kemurnian nilai-nilai budaya pada tatanan masyarakat. Manusia tergerus dengan doktrinasi globalisasi yang menghendaki kapitalisme kolektif, agar individu dapat berlomba-lomba dalam segala bentuk lini. Paradigma ini yang tentunya menjadi hama bagi tatanan sosial dimana globalisasi memberikan penawaran secara paksa untuk menjadikan bangsa-bangsa yang konsumtif.

Setiap waktu orang bermain perangkat Whatsapp. Kadang kita melihatnya tersenyum, karena orang asyik bersenyum-senyum entah dengan siapa. Di sekitar orang yang asyik bermain perangkat pada gadget cerdasnya, cenderung orang tidak dipedulikannya. Hari ini manusia seperti sudah tercerabut dari akar-akar sosialnya.

Dalam masyarakat-bangsa seperti itu, penghargaan dan martabat seseorang ditentukan oleh seberapa update teknologi yang dipunya, hingga problematika mengenai globalisasi ini telah memakan moral seseorang. Nilai-nilai religi dalam agama tidak lagi ampuh untuk menggiring ke arah jalan yang benar. Manusia telah diperbudakkan oleh zaman.

Di samping itu, gelombang teknologi informasi yang antar lain ditandai meluasnya penggunaan media sosial dalam interaksi sesama telah ikut mendukung beragam distorsi informasi dalam membentuk opini, bahkan mindset dari sebagian besar pengguna teknologi informasi. Tentu tidak dapat diabaikan sisi positif dari fungsi teknologi informasi dan penggunaan media sosial, tetapi pemanfaatan instrumen informasi tersebut tanpa landasan etik dan moral yang kuat bagi kemaslahatan hidup bersama, maka ia akan rentan digunakan bagi kepentingan sempit sesaat para pengguna media sosial tersebut, tanpa mempertimbangkan sisi negatif terhadap rusaknya fondasi moral dalam membangun kehidupan bersama.

Baca Juga :   Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Cirendeu Gelar Diskusi Rutin

Efek globalisasi ini sangat terasa bagi kehidupan masyarakat di hampir semua segmen sosial yang menuntut revitalisasi pendidikan moral ke arah pembentukan karakter. Fenomena kemerosotan moral (demoralisasi) yang terjadi di hampir semua sektor kehidupan masyarakat Indonesia, di bidang sosial, politik, ekonomi, budaya, dan hukum, telah menimbulkan keprihatinan yang luar biasa, yang bila tidak diperbaiki akan dapat memberikan dampak yang lebih serius terhadap masa depan Indonesia.

Oleh :

Nama: Emyr Mochammad Noor

TTL: Jakarta, 12 September 1994

Asal Institusi: Universitas Muhammadiyah Jakarta

Organisasi: Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Cirendeu (KOMICI) Cabang Ciputat.

Cp: 081299242794

TINGGALKAN KOMENTAR

nineteen − 18 =