PSBB Untuk Penanganan Covid-19, Sudah Tepatkah?

PSBB Untuk Penanganan Covid-19, Sudah Tepatkah?

0
BAGIKAN

Oleh: Vidi Pangestu

Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 adalah penyakit baru yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan radang paru. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Gejala klinis yang muncul beragam, mulai dari seperti gejala flu biasa (batuk, pilek, nyeri tenggorok, nyeri otot, nyeri kepala) sampai yang berkomplikasi berat (pneumonia atau sepsis).

COVID-19 adalah penyakit baru dan para peneliti masih mempelajari bagaimana cara penularannya. Dari berbagai penelitian, metode penyebaran utama penyakit ini diduga adalah melalui droplet saluran pernapasan dan kontak dekat dengan penderita. Droplet merupakan partikel kecil dari mulut penderita yang dapat mengandung virus penyakit, yang dihasilkan pada saat batuk, bersin, atau berbicara. Droplet dapat melewati sampai jarak tertentu (biasanya 1 meter).

Droplet bisa menempel di pakaian atau benda di sekitar penderita pada saat batuk atau bersin. Namun, partikel droplet cukup besar sehingga tidak akan bertahan atau mengendap di udara dalam waktu yang lama. Namun, masyarakat diwajibkan untuk menggunakan masker kain yang menutupi hidung dan mulut untuk mencegah penyebaran droplet. Dari sini beberapa daerah mulai menerapkan Social & Physical Distancing serta PSBB

PSBB merupakan singkatan dari Pembatasan Sosial Bersakala Besar yang bertujuan untuk menekan angka penyebaran virus Covid-19. PSBB sendiri pertama diterapkan di Provinsi DKI Jakarta yang merupakan pusat penyebaran virus Corona yang mulai berlaku sejak 10 April 2020. Hingga saat ini sedikitnya ada 4 Provinsi dan 72 Kabupaten/Kota yang telah menerapkan PSBB.

Baca Juga :   Memahami Feminis, Menuntut Keadilan

Hingga artikel ini ditulis, dikutip dari website covid19.go.id (17 Mei 2020) menyatakan sebanyak 17.514 positif, 4.129 sembuh, dan 1.148 meninggal dunia di Indonesia. Jakarta sendiri sebagai pusat penyebaran sedikitnya dilaporkan 4.126 positif, 1.295 sembuh, dan 460 meninggal dunia.

Kurva penyebaran virus pun masih fluktuatif dan belum dapat dikatakan menujukkan penurunan yang signifikan. Namun, daerah yang melaksanakan PSBB semakin hari semakin terlihat bebas berkeliaran dimana mana. Kondisi ini tentunya membuat PSBB kian lama dinilai sudah tidak efektif untuk diterapkan. Orang mulai bebas keluar rumah, ke supermarket beramai-ramai bahkan mengadakan bukber karena saat ini sedang dalam momentum Ramadhan. Hal ini membuat pemerintah pusat memberikan statement untuk mulai berdamai dengan keadaan.

Dikutip dari kompas.com “Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menegaskan soal hidup berdamai dengan virus corona, sebagaimana sempat dibicarakan Presiden Joko Widodo. Menurut Yuri, hidup damai dengan virus corona artinya beradaptasi dengan pola hidup baru dengan menjalankan protokol kesehatan secara ketat.” Hal ini menegaskan bahwa tak lama lagi kita “diharuskan” hidup berdampingan dengan Covid-19.

Baca Juga :   Ironi Keterpurukan Ekonomi Indonesia

Menurut penulis langkah yang diambil pemerintah diawal sudah salah. Pemerintah menurut penulis “menyepelekan” virus ini. Pun dengan masyarakat di Indonesia yang menganggap “tidak ada apa-apa”. Jika pemerintah dari awal sudah tegas mungkin Covid-19 tidak akan separah ini. Sistem PSBB sendiri menurut penulis hanya sistem “penghibur” atau “pengganti” istilah lockdown padahal menurut penulis jika lockdown diterapkan sejak awal masyarakat tentunya tidak akan bertindak seperti sekarang. Dilihat dari sisi ekonomi lockdown dan PSBB sama – sama merugikan. Dilansir dari tirto.id Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri dalam paparannya menyatakan tindakan lockdown akan membawa dampak ekonomi yang cukup besar kepada Indonesia. Sebab, kebijakan lockdown disertai dengan penghentian aktivitas kebanyakan pekerja. Namun kondisi saat ini tak ada bedanya dengan lockdown. Sekolah ditutup, kantor ditutup, kegiatan diluar rumah dilarang. Perbedaan nya hanya masyarakat masih boleh “berkeliaran”. Lalu bagaimana nanti? Kita ikuti saja arahan dari pemerintah. Mari kita sama sama saling membantu satu sama lain. Jangan egois serta taat kepada peraturan.

TINGGALKAN KOMENTAR

17 − seven =