Pramoedya dan Ingatan Sejarah Masa Lalu

Pramoedya dan Ingatan Sejarah Masa Lalu

0
BAGIKAN

Oleh : Cendhy Vicky V

Banteninfo (opini)- Siapa yang tak kenal Pramoedya yang yang kerap disapa Pram? Kita baru saja memperingati kelahiran Pram—sosok yang gaung dalam dunia kesusastraan—pada enam Febuari kemarin. Bahkan mesin pencari, Google, juga ikut memperingati, dengan menampilkan figur Pram pada laman utamanya.
Kontribusinya yang besar pada dunia kesusastran membuat bangsa ini banyak berhutang budi kepadanya. Namun yang terjadi Pram kini (hanya) dianggap seperti seorang aktor yang memaikan peran dalam episode sejarah republik ini. Pram sebagai bagian dari cerita. Setelah itu ia hilang. Padahal sosok Pram menyimpan banyak misteri juga ambisi. Kesusastraanya yang terkait erat dengan sejarah, Nusantara dan Indonesia, adalah bentuk dari cintanya kepada negeri maritim ini.
Membaca Pram dalam hal ini tentu bukanlah membaca semua karyanya yang jumlahnya puluhan itu sampai selesai. Lebih tepat jika kita menginterpretasikan karyanya bukan dari sudut pandang sastra semata. Akan tetapi dari sudut pandang sejarah. Sehingga kita dapat menggali, memahami, sekaligus menghayati Pram sebagai Bapak yang berjuang dalam ruang pengertian manusia Indonesia dari sejarahnya sendiri.
Namun dapatkah kita memahami semangat akan sejarah dari Pram dengan budaya keberaksaraan dan literasi yang saat ini rendah? Jawaban atas pertanyaan ini sungguhlah sulit. Karena terdapat kensekuensi logis dari upaya menggali pemikiran Pram.
Sebagai sosok yang sangat nasionalis dan amat menjaga martabat Indonesia, nyatanya tidak berbanding lurus dengan perilaku generasi selanjutnya terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi dasar serta acuan berdirinya Indonesia.
Munculnya Saskia Gothik dan Habib Riziek yang “menghina” Pancasila adalah contoh kecil pemahaman dan pemaknaan akan sejarah Indonesia yang kurang. Tentu fenomena ini adalah konsekuaensi logis dari (asumsi minimal) kurangnya minat baca.
Masalah membaca sejarah
Indonesia kini sedang mengalami krisis keaksaraan dan literasi. Kita dapat melihat catatan UNESCO (2012) hanya 0,001. Dengan artian bahwa hanya terdapat 1 pembaca aktif dari 1000 orang. Kenyataan ini sungguh kontra produktif dengan apa yang dilakukan oleh Pram. Membaca dan menulis adalah keniscayaan.
Keanehan lainnya adalah bahwa saat ini kita hidup di era (paling tidak) serba bebas. Seharusnya era kebebasan dapat dimanfaatkan untuk membaca dan menulis yang lebih. Kita dapat belajar banyak dari sosok ini bahwa menulis dibawah “todongan” senjata, di jeruji besi, dan di pengasingan jauh lebih sulit. Ini tentu fakta yang tak dapat dibantah.
Pram sudah mengamanahkan kita sebagai generasi penerus—khususnya mahasiswa—untuk membuat sejarahnya sendiri. Berupaya memahami masa lalu sebagai cermin masa depan adalah bagian yang tak terpisahkan dari mancari identitas dan jati diri bangsa.
Ditengah kegamangan budaya dan literasi, memahami Pram dari polemik politik dan sastranya adalah suatu hal yang keliru. Warisan Pram lebih jauh lagi dari pada itu. Sebagai saksi sejarah Pram tentu punya ambisi dan motivasi. Menyaksikan Nusantara dihisap oleh bangsa dari Utara, Pram tidak tinggal diam. Warisan Pram adalah harapan dan cita-cita agar Indonesia tidak lagi menjadi bangsa nomor dua, tiga, inferior, atau yang lebih buruk: dijajah.
Membaca riwayat hidup Pram seperti membaca riwayat orang kalah/tertindas. Gagal menerima penghargaan Ramon Magsaysay, hidup hampir separuh hidupnya di pengasingan/penjara, banyak karyanya yang dibakar adalah salah satu dari fragmen hidup Pram yang menyedihkan.
Pram yang kita kenal tak akan binasa oleh senapan dan tirani. Meski dipenjara Pram tetap membela Indonesia dihadapan neo-kolonilisme dan neo-imperialisme. Ia tetap menentang meski dengan hanya mesin tik. Terlepas sebagai penulis yang produktif, Pram, jelas menderita.
Masa lalu kerap menjadi batu loncatan bagi perbaikan masa depan. Pengertian semacam ini tentu mengandung dua asumsi. Pertama masa lalu erat kaitannya terhadap peristiwa-peristiwa positif yang berguna sebagai motivasi bagi masa depan yang lebih baik. Kedua bahwa masa lalu (sejarah) erat kaitannya/cenderung dengan tragedi-tragedi (penderitaan) tertentu, yang menjadi pelajaran berharga bagi masa depan. Sehingga sebisa mungkin tragedi tersebut tidak akan terulang.
Membaca Pram kita tidak dapat jika hanya menggunakan asumsi yang pertama. Mengingat kontribusinya yang sudah di berikan untuk Indonesia. Asumsi kedua pun sama baiknya jika dipelajari secara serius.
Pengertian sejarah mengenai peristiwa akan masa lalu haruslah dirubah. Karena sejarah bukan hanya tentang peristiwa masa lalu, akan tetapi bagaimana kita bisa mengingat masa lalu, khususnya peristiwa-peristiwa itu.
Lewat wawancara dengan wartawan Tempo (1999), Pram mengatakan “sejarah itu kan rumah tempat orang melanglangi dunia. Jadi, kalau dia tak tahu dari mana ia berangkat, ia tak mengerti tujuan.” Dari pendapat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa siapa yang tidak mengetaui masa lalu, maka tidak akan mengetahui masa depan.
Disini penderitaan Pram mengandung sebuah makna yang mendalam akan harapan tersebut. Sehingga penderitaan dan harapan seperti dua sisi uang logam yang tak dapat dipisahkan.
Dengan pengertian diatas setidaknya kita dapat memberi kesimpulan awal bahwa sejarah bukan merupakan suatu peristiwa an sich yang telah selesai, sebagaimana yang dikatakan oleh ilmu sejarah—dalam pemikiran Walter Benjamin.
Singkatnya, memahami sejarah dengan ingatan berarti memahami sejarah sebagai sesuatu yang memiliki relevansinya bagi subjek yang mengingatnya di masa kini. Dalam hal ini tragedi orang menderita dan tertindas, justru ingatan menjadi sumber pengetahuan dalam mewujudkan cita-cita yang belum tuntas di masa lalu.
Lewat pengertian ingatan ini, Pram tidak (hanya) akan menjadi poster, lukisan, wallpaper, gambar kaos, dan pin yang berguna sebagai pajangan semata. Lebih jauh dari itu, harapan Pram, akan (Nusantara dan) Indonesia yang jaya mengalir dalam denyut nadi generasi saat ini. Sebab kita mengingatnya.
Dengan demikian penderitaan Pram tidak sia-sia. Penderitaannya dapat berubah menjadi kebahagiaan dan orang kalah dapat menjadi pemenang dalam perjalanan sejarah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Wiratmo Soekito bahwa Pram adalah sosok Promethen.
Figur Prometheus yang tak kenal kompromi dalam menghadapi Zeus. Dan kita sebagai generasi baru Indonesia menjadi putri-putri Genesis, yang bukan menaruh belas kasihan pada Pram di lepas pantai Kaukasus, justru mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada sosok yang kerap merokok ini. Pram dapat tersenyum di alam bakanya.
Sikap kita
Dengan menggali karya-karyanya, riwayat hidup, dan alasan sikap politiknya kita dapat mengambil berkah yang luar biasa. Bahwa warisan dari Pram untuk Indonesia bukanlah Bumi Manusia, Arus Balik, Gadis Pantai, Larasati, atau Panggil Aku kartini Saja.
Warisan dari Pram untuk Indonesia adalah Pram itu sendiri, sebagai manusia yang amat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, martabat bangsa, dan integritas kerja yang luar biasa.
Hanya dengan membaca dan menulis kita dapat mengingat masa lalu. Tak ada jalan lain. Lewat cara ini kita dapat menghindari belenggu stagnansi sejarah kita sendiri. Dengan membaca, mengingat dan menulis kita bekerja untuk keabadian. Keabadian masa lalu dan masa depan kita yang lebih baik. Dengan keyakinan bahwa arus harus berbalik dari Selatan ke Utara, dari Indonesia ke Eropa (dunia).
*Penulis adalah pegiat sosial-budaya di Forum of Student in Ciputat (FORMACI) dan pegiat Anti-Korupsi di Tangerang Transparency Public Watch (TRUTH)

Baca Juga :   GAPLE STRATEGI ORGANISATORIS

TINGGALKAN KOMENTAR

twelve + sixteen =