Pesawat SJ 182 Jatuh, LBH Transportasi Minta Menhub Mundur Dari Jabatan

Pesawat SJ 182 Jatuh, LBH Transportasi Minta Menhub Mundur Dari Jabatan

0
BAGIKAN

Jakarta (11/1/2021) – Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak yang lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 14.36 WIB, Sabtu (9/1/2021) itu mengalami hilang kontak pada 14.40 WIB. Kemudian dinyatakan jatuh di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang.

Dengan insiden tersebut, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Transportasi mengklaim peristiwa tersebut menjadi catatan buruk bagi dunia penerbangan Indonesia diawal tahun.

Sembari menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) atas kejadian tersebut, LBH Transportasi memberikan catatan sebagai berikut:

1. Jatuhnya Sriwijaya Air SJ182 patut dicurigai akibat tidak terawatnya pesawat selama masa pandemi Covid 19, sebagaimana kita tahu akibat pandemi banyak pesawat di grounded, crew pesawat di nonjob kan bahkan sampai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Minimnya pendapatan operator yang tidak sebanding dengan mahalnya perawatan pesawat patut dicurigai, operator mengabaikan perawatan pesawat sehingga kelayakan terbang terabaikan dan regulator diam.

2. Disisi lain, minimnya jam terbang pilot akibat terbatasnya jumlah penerbangan patut juga menjadi perhatian atas menurunnya keterampilan, kecakapan dan kemampuan terbang pilot. Belum lagi minimnya jumlah penerbangan tentu berdampak pula pada minimnya penghasilan pilot dan crew pesawat, yang memungkinkan pilot dan crew menambah jam terbang disaat kondisi tubuh yang tidak optimal.

3. Kondisi penerbangan disaat pandemic covid-19 memang sangat memprihatinkan, semua energi dan biaya difokuskan pada aspek kesehatan penerbangan penanggulangan Covid -19, namun seyogyanya keprihatinan ini tidak dijadikan alasan pengabaian prinsip keselamatan penerbangan – kelayakan terbang, sebagai hal yang utama.

Baca Juga :   FPI Dilarang, KAMMI Banten : Pemerintah Pusat Gagal Paham!

4. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tanggal 17 Desember 2020 melalui release media akhir tahun, sudah memperingatkan dan mengajak Regulator dan Operator Transportasi menjalankan Rekomendasi KNKT Demi Keselamatan Transportasi, namun sangat disayangkan berdasarkan data KNKT – Regulator dalam hal ini Kementrian Perhubungan dan operator maskapai, hampir tidak menjalankan semua rekomendasi KNKT tahun 2019 dan tahun 2020 tidak ada satupun yang dijalankan untuk keselamatan penerbangan;

5. Padahal Tahun 2020, kecelakaan moda penerbangan ada 24 kasus, sudah ada 20 rekomendasi, yang kesemuanya belum dilaksanakan. Sedangkan rekomendasi tahun 2019 baru dilaksanakan 18%, sisanya 82% belum dilaksanakan.

6. Hal ini menunjukkan komitmen Menteri Perhubungan untuk memastikan aspek keselamatan penerbangan sangatlah rendah. Padahal tahun 2019 ada 30 kecelakaan dari 956.000 keberangkatan, jadi poinnya 31,38. Sementara tahun 2020 ada 24 kecelakaan dari 350.000 keberangkatan, jadi poinnya 68,57 artinya, jumlah kecelakaan tahun 2020 memang berkurang dibandingkan tahun 2019. Namun karena jumlah operasional transportasi juga berkurang, rate of accident atau poin rating-nya tetap tinggi.

7. Oleh karenanya patut dicurigai minimnya komitmen regulator dalam hal ini Kementrian Perhubungan dalam pengawasan dan penerapan prinsip keselamatan penerbangan – aspek kelayakan terbang pesawat pada operator menjadi salah satu factor penyumbang terjadinya kecelakan Sriwijaya Air SJ182.

Baca Juga :   Enam Menteri Baru, Jokowi Resmi Otak-Atik Kabinet Indonesia Maju

Dalam keterangan tertulis tersebut, LBH Transportasi menuntut agar Menhub RI mundur dari jabatannya.

“Menuntut Menteri Perhubungan RI mundur dari jabatannya karena minimnya komitmen pada factor keselamatan penerbangan, maupun karena ketidakmampuan memastikan ditaatinya prinsip keselamatan penerbangan oleh operator,” kata Hermawanto, Direktur Eksekutif LBH Transportasi, Minggu (10/1/2021).

“Kedua, menuntut operator dan juga regulator untuk tetap memastikan keselamatan penerbangan dalam hal ini kelayakan terbang pesawat sebagai bagian penting untuk ijin terbang, selain factor kesehatan dari pandemi Covid-19 selama penerbangan. Ketiga, menuntut Regulator dan Operator untuk melaksanakan rekomendasi KNKT secara penuh demi keselamatan penerbangan,” lanjut Hermawanto.

Selain itu, pihaknya juga menuntut agar Operator dan Regulator memastikan pemenuhan hak para korban insiden SJ 182.

“Keempat, menuntut Operator dan juga Regulator memastikan hak-hak korban jatuhnya Sriwijaya Air SJ182 maupun ahli warisnya dipenuhi secara patut, minimal sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan,” pungkasnya.

Kendati demikian, hingga saat ini tim gabungan TNI hingga Basarnas masih menelusuri serpihan pesawat Sriwijaya Air tersebut yang diperkirakan jatuh pada kedalaman 20-30 meter. (MAS)

TINGGALKAN KOMENTAR

two × 4 =