Pesan Untuk Ibu Pertiwi dalam Naskah Drama “Jangan Menangis Indonesia” Karya Putu...

Pesan Untuk Ibu Pertiwi dalam Naskah Drama “Jangan Menangis Indonesia” Karya Putu Wijaya

0
BAGIKAN
Foto: Khairunnisa (Mahasiswa UIN Jkt)

oleh: Khairunnisa (Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Tahun 2020 akan menjadi sejarah di indonesia bahkan juga dunia.  Bencana dibidang kesehatan yang menyerang hampir seluruh negara termasuk indonesia menyebabkan terjadi krisis diberbagai bidang, bidang: ekonomi, pendidikan, politik, sosial, dan budaya. Wabah virus Covid-19 mulai menyebar di indonesia pada bulan Maret 2020 hingga saat ini. Akibat virus tersebut sudah ribuan korban berjatuhan. Hal ini bukanlah masalah yang dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Ini adalah masalah bersama yang juga harus diselesaikan bersama. Pemerintah, tim medis, dan seluruh elemen masyarakat harus bahu-membahu memahami dan menekan laju pertumbuhan penyebaran virus.

Apapun keadaannya roda kehidupan harus tetap berjalan. Namun, semua dilakukan dengan tetap meamatuhi protokol kesehatan. Begitu pula dalam hal politik, pergantian kekuasaan pemerintahan harus tetap dilakukan karena tidak ada yang dapat memprediksi sampai kapan virus ini akan menyerang. Presiden Jokowi menetapkan hari pencoblosan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 pada tanggal 9 Desember 2020. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2020 tentang pemungutan suara pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2020 sebagai Hari Libur Nasional.

Masyarakat indonesia saat ini mengalami tekanan dengan berbagai krisis yang terjadi. Khususnya pada masa pandemi ini masyarakat mengalami tekanan mental dan juga tekanan finansial bagi masyarakat kelas menengah kebawah.  Putu Wijaya memberikan kritik sosial yang terdapat dalam naskah drama Jangan Menangis Indonesia, di dalamnya  terkandung pesan untuk ibu pertiwi saat ini. Hal itu dapat kita lihat pada kutipan berikut

Baca Juga :   Urgensi Peran Kelembagaan Pertanian di Provinsi Banten untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani

DALANG (Digumamkan dengan tembang)

Berbagai hal beruntun menerpa tak putus-putus. Krisis ekonomi, suhu politik meninggi, huru-hara, teror bom, tsunami, gempa bumi, sar, flu burung, demam berdarah, kebejatan moral, narkoba, judi, korupsi, ketidakberdayaan hukum, kebejatan para pemimpin, kasus-kasus yang mencederai hak azasi manusia. Risau, bingung, was-was, semua mendambakan kehidupan yang lebih baik. Tangan gelagapan berpegangan mencoba bertahan agar tak terjadi kebangkrutan apalagi kemusnahan. Tapi di celah yang kecil, masih terlihat, terdengar dan terasa sebuah harapan apabila kita bersedia untuk menerima, belajar, ngeh, kemudian membelikkan kekalahan menjadi kemenangan masih ada sebuah janji.

Kutipan naskah di atas menggambarkan kondisi indonesia yang dituangkan pengarag melalui monolog tokoh Dalang tentang beragam kesusahan di indonesia. Di tahun 2020 negara indonesia dipenuhi gejolak dalam berbagai bidang. Belum selesai masalah Covid-19 yang menciptakan keresahan dan rasa was-was, rakyat sudah diresahkan dengan keputusan pemerintah mengenai pengesahan UU Cipta Kerja yang menuai aksi buruh dan segenap mahasiswa. Kemudian dalam bidang pendidikan, untuk menekan laju pertumbuhan virus maka ditetapkan kebijakan  School From Home, hampir satu tahun Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dilaksanakan yang menyebabkan banyak keluhan dari orang tua siswa serta siswa yang sudah mulai jenuh dengan pembelajaran tersebut. Tak habis sampai disitu bencana alam meletusnya gunung Semeru menjadi permasalahan baru.  Namun, pada kutipan naskah di atas pengarang menyelipkan harapan kecil bagi semua masalah yang terjadi, jika masyarakat indonesia bersedia menerima segala yang telah terjadi, belajar dan mengambil pelajaran kemudian berjuang untuk membalikkan kekacauan yang terjadi menjadi kemenangan untuk indonesia yang lebih baik. Selain itu, penulis juga menginterpretasikan kata ‘janji’ dan ‘harapan’ pada naskah sebagai simbol dari secercah cahaya seorang pemimpin. Pesan ini bisa di refleksikan bagi calon pejabat yang akan memimpin nanti setelah terpilih dalam Pilkada 2020. ‘Janji’ dan ‘harapan’ di masa kampaye diharapkan dapat ditepati untuk kesejahteraan indonesia.

Baca Juga :   Naksir Seseorang yang Sama dengan Sahabat, Harus Bagaimana?

Korupsi yang sudah menjadi budaya di kalangan pejabat. Semoga tidak terjadi pada masa krisis saat ini. Banyaknya penyaluran dana untuk kesehatan dan bantuan sosial semoga tidak menjadi peluang untuk melakukan korupsi. Putu Wijaya menguraikan bagaimana koruptor dalam naskah Jangan Menangis Indonesia  oleh tokoh Dalang  ketika ia membacakan esai korupsi. Berikut ini kutipannya

DALANG
Terimakasih korupsi. Aku begitu mencintaimu. Kau adalah bagian dari takdirku. Hidupku tak akan terang-benderang dengan puluhan rembulan, tanpa korupsi. Siangku tidak akan sejuk walau matahari menggigit dengan ganas di seluruh permukaan bumi, tanpa pertolonganmu kau adalah badai perubahan yang paling radikal, yang menyelamatkan kecoak bengek ini, tampil bergengsi sebagai manusia kelas satu.

Putu Wijaya menuangkan kegundahan atas segala permasalahan yang terjadi di Indonesia. Ini adalah hasil interpretasi beliau dari apa yang dilihat, dengar, rasakan, lalu mengekspresikannya melalui naskah Drama Jangan Menangis Indonesia.

Untuk semua yang terjadi, mari sama-sama kita bangkit karena sercercah harapan hanya dapat menjadi jalan keluar jika semua sadar, percaya, dan berusaha. Seluruh masyarakat indonesia harus menyadari akan keadilan, keamanan, dan tanggung jawab. Semua permasalahan di negeri ini akan terselesaikan jika semua yang mengaku Warga Negara Indonesia sadar akan pentingnya kerja sama untuk Indonesia yang lebih baik. (W)

TINGGALKAN KOMENTAR

twelve − 12 =