Pesan Lestari

Pesan Lestari

0
BAGIKAN
Foto: Zaki Nabiha

oleh Zaki Nabiha

Hampir sebagian penduduk desa tidak menyadari. Saat  terlelap. Ketika malam merayap, berlalu dari puncaknya. Sang penjaja harapan tengah bersiasat. Membungkus hegemoni dengan gula-gula simpati.

Hitung mundur, hari pencoblosan tinggal sebelas hari lagi. Pemandangan konsolidasi tim pemenangan terlihat setiap malam hingga dini hari. Perintah yang sudah disebar lewat Whatsapp Group dirasa belum cukup. Beberapa orang mulai berdatangan memenuhi undangan rapat penting yang sifatnya tertutup.

Sudah empat puluh menit lewat dari waktu yang tertera pada undangan, beberapa nama belum juga terlihat. Taplak meja pimpinan rapat bercorak batik beberapa kali dirapihkan. Di atasnya, tersimpan tumpukan berkas-berkas. Tingginya dua kali air mineral dalam kemasan gelas.

“Semua peserta punya waktu yang sama dengan kita. Tapi apa yang kita miliki, tidak semua mereka punya. Logistik kita melimpah. Simpul-simpul suara  yang sudah bergabung, sudah tak terhitung jumlahnya. Belum lagi dukungan dari jaringan birokrasi. Tidak ada alasan bagi kita untuk kalah. Kita harus menang. Bagaimanapun caranya !”.

Rapat berjalan tidak sampai satu jam.  Setelah laporan perkembangan dari semua unsur tim pemenangan, rapat ditutup ketua, arahan yang disampaikan singkat. Tidak ada guyonan atau lelucon seperti biasanya. Ruang rapat seolah beku. Suasana begitu tegang.

*****

Keputusan yang sulit. Menerima atau menolak, pasti akan menimbulkan polemik. Menolak artinya tidak tahu berterima kasih. Menerima, maka konsekuensinya harus siap mental dengan segala bentuk konfrontasi.

Tapi, seperti dugaan orang-orang. Tak ada daya ia untuk menolaknya. Maka, bisa dipastikan pilihan ke-dua jawabannya. Menurutnya, dengan modal kemampuan, kapasitas mental dan verbal yang dimiliki jauh di atas rata-rata semua orang, peduli setan dengan kabar angin, gossip atau isu yang nanti akan berkembang. Justru, itu semua bak pintu masuk, semacam panggung gratisan untuk menjelaskan dan menarik dukungan.

Baca Juga :   Polemik Dibalik Kota Tangerang Selatan Sebagai Kota Layak Pemuda

*****

Hanya satu. Ia masih teringat pesan Lestari. Gadis desa yang bercita-cita memiliki klinik, tempat mengabdikan diri sebagai bidan desa.  Harapan Lestari sederhana, ia tidak ingin bayi-bayi yang lahir bernasib serupa dengan Paiman, suaminya. Setiap kata-kata  yang keluar dari ranum bibir Lestari mampu mengendalikan sepak terjang orang yang sudah membantu mewujudkan impiannnya. Tapi pagi itu berbeda. Setelah Paiman mengutarakan keputusannya, menjadi ketua tim pemenangan sebuah partai politk.

di tepian waktu, ku hamparkan pandang

duri berserakan siap dituai

timbul khawatir atas dirimu sayang

derapmu nan gagah beranjak lunglai

terpapar laku cemar

tenggelam bersama sampan serakah

“Apakah ini intuisi dari seorang istri ?”. Di saat-saat genting dan krusial. Tatkala ia akan menentukan keputusan beresiko tinggi, entah mengapa pesan itu selalu terngiang.

*****

Paiman. Terlahir sebagai piatu. Ibunya meninggal tatkala tangis pertama Paiman pecah. Pendarahan hebat musababnya. Walaupun Paraji  sudah bekerja extra keras. Besar dalam keluarga miskin yang terbelit hutang besar mengharuskan Paiman turut berjibaku bersama kakak dan bapaknya. Karena sawah, asset satu-satunya peninggalan keluarga berpindah tangan. Untuk menebusnya, Paiman terpaksa harus turun tangan, menjadi petani penggarap, kuli bangunan, atau apa saja.

“Sekali lagi, maafkan bapak. Tahun depan mudah-mudahan kamu bisa masuk Tsanawiyah”, permohonan maaf yang selalu Paiman dengar menjelang penerimaan siswa dan tahun ajaran baru dimulai.

*****

Paiman memiliki banyak teman. Selain otaknya encer, ia juga rupawan. Mimik, gesture dan diksi yang digunakan, membuat lawan bicara nyaman. Itulah yang membuat Karso, pemilik dua gudang dan penggilingan padi bersimpati. Karso orang yang dikenal ringan tangan. Tapi hal itu dilakukan jika ia berkepentingan. Praktik ijon dan rente sudah biasa Karso lakukan. Orang-orang desa sudah banyak yang menjadi korban, termasuk bapaknya Paiman. Maka, pada diri Paiman, Karso mencium potensi besar jika diurus dengan benar.

Baca Juga :   Demokrasi Riba

“Selamat Pay, kamu sekarang sudah jadi Sarjana, dadi “wong terdidik”, Karso memeluk Paiman cukup lama. Bulir air mata menetes di bahu jas-nya. Momen yang sudah lama sekali Karso nantikan. Dua putrnya yang diharapkan memakai toga seperti Paiman tak mampu mewujudkan. Narkoba merenggut anaknya Karso yang pertama ketika sedang menempuh kuliah semester lima. Nyawa anaknya yang ke-dua melayang dijalanan. Balap liar, adu kecepatan tengah malam. Menurut orang-orang desa, itu karma baginya.

*****

Kehidupan Paiman dan Lestari sebetulnya baik-baik, berjalan seperti keluarga muda lainnya. Paiman mengajar di Madrasah Tsanawiyah sedangkan Lestari menjadi bidan desa. Orang-orang bahkan memujinya sebagai pasangan ideal.

Namun keadan berubah. Semenjak Paiman menjadi ketua tim sukses pemenangan. Ritme dan gaya hidup Paiman berubah drastis. Puncaknya adalah ketika salah satu stasiun televisi memberitankan operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK terhadap ketua tim pemenangan berinisial ‘P’, pengusaha yang juga Caleg berinisial ‘K’ bersama oknum KPUD disebuah restoran ternama. Lestari menyaksikannya dengan air mata bercucuran. Sesenggukan, tangis ia tahan. Sambil bibirnya yang ranum mengucap istghfar. Kekhawatiran yang sedari awal ia takutkan akan kejadian.

Entah, apakah setelah Paiman mengenakan rompi orange, dengan kapasitas mental dan verbal yang dimiliki jauh di atas rata-rata semua orang mampu menjelaskan. Atau menggunakan kalimat sakti seperti elit-elit politik yang sudah lebih dulu mengenakannya, “saya dizhalimi”.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

4 + twelve =