Perjuangan Patih Wargadireja Menjemput Surga Menjadi Syuhada (Bagian 1)

Perjuangan Patih Wargadireja Menjemput Surga Menjadi Syuhada (Bagian 1)

0
BAGIKAN

Selepas VOC bangkrut 31 Desember 1799, Pemerintahan Kolonial Belanda mengambil alih semua asetnya di Nusantara. Begitu juga dengan Kesultanan Banten yang merupakan wilayah kekuasaan VOC.

Meskipun entitas Kesultanan Banten masih ada,  kedaulatannya sebagai Negara merdeka telah lama dirampas oleh VOC. Sejak Sultan Ageng Tirtayasa dikudeta Maret 1683 dan mangkat 1685, VOC mengangkat dan melantik Sultan Haji sebagai sultan boneka. Sejak itulah Kesultanan Banten hilang kewibawaannya sebagai sebuah negara yang berdaulat.

Semua hubungan diplomatik internasional diputus oleh VOC, bandar pelabuhan internasional Kesultanan Banten dialihkan ke Batavia. Sultan hanya menjadi alat bagi VOC, tidak ada lagi otoritas. Kondisi ini akhirnya membuat Sultan Haji depresi, dia menyesali perbuatan jahatnya pada ayahnya sendiri. Sultan Haji hanya berkuasa sebentar, 4 tahun.

Ketika VOC terbelit kasus korupsi yang mengakibatkan pembubarannya tahun 1799, membawa angin segar bagi Kesultanan Banten untuk benar-benar merdeka dari cengkraman kekuasaan VOC. Peluang besar ini tidak disia-siakan oleh Sultan Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799)  yang saat itu berkuasa, didukung oleh Patih Wargadireja, penasehat politiknya yang cerdas dan berani. Sultan mulai melakukan perlawanannya secara terbuka.

Baca Juga :   PEMUDA DAN KEBANGKITAN ISLAM

28 Januari 1807 Herman Willem Daendels Gubernur Jenderal  yang ditunjuk pemerintah kolonialisme Belanda, berkuasa di Nusantara termasuk Kesultanan Banten, mengirimkan sejumlah pasukan militer Belanda untuk mengamankan aset berharganya yakni Kesultanan Banten.

Proyek jalan raya Anyer – Panarukan sepanjang 1000 km langsung menjadi program utama pembangunan Gubernur Jenderal yang baru ini. Proyek mega infrastruktur ini menuntut Sultan Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin yang berkuasa di Banten mengirimkan sejumlah 1500 orang lebih rakyat Banten sebagai pekerja. Namun hal tersebut urung dipenuhi oleh Sultan.

Apalagi Patihnya Wargadireja membunuh utusan Belanda yang dikirim Daendels ke Banten. Sejumlah pos-pos penting yang dikuasai VOC dulu kemudian direbut dan diambil alih oleh Patih Wargadirja.

Mengetahui bahwa aset-aset VOC di Kesultanan Banten dinasionalisasi oleh Sultan Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin, membuat Gubernur Jenderal yang baru ini murka. Sehingganya Daendels mengirimkan ribuan tentara profesional Belanda untuk menumpas perlawanan Kesultanan Banten.

Kemenangan Patih Wargadireja merebut kembali aset-aset Kesultanan Banten yang lama dikuasai VOC, membuat rakyat Banten bersuka-cita dan bersyukur kepada Tuhan. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Dalam 1×24 jam,  Daendels dan  pasukannya sudah tiba di perbatasan Kesultanan Banten. Dr. Mufti Ali mengatakan Daendels membawa setidaknya 10.000 pasukan bersenjata lengkap.

Baca Juga :   Kerajaan Sunda adalah Banten, Penguasa Selat Sunda

Perang besar terjadi antara tentara profesional Belanda melawan rakyat Banten yang di pimpin oleh Patih Wargadireja sebagai Panglima. Perlawanan sengit terjadi, banyak rakyat Banten gugur dalam perang. Sejumlah ulama terus membangkitkan semangat perjuangan. Bahwa ini adalah jihad akbar, kemerdekaan di depan mata mesti diperjuangkan.

Tidak mudah bagi Kesultanan Banten mempertahankan kemerdekaannya. Persenjataan modern yang dibawa militer Belanda membuat pasukan Kesultanan Banten berhasil dipukul mundur. Namun demikian perjuangan rakyat Banten tidak surut. Setiap pasukan menjemput pahala besar sebagai seorang syuhada. Ribuan pejuang Kesultanan Banten gugur.

Dr. Mufti Ali pakar sejarah Kesultanan Banten ini mengatakan, setelah beberapa jam mematahkan perlawanan perjuangan rakyat Kesultanan Banten, Ibukota Surosowan berhasil diduduki. Sultan dan keluarganya ditawan oleh Daendels dan pasukannya. Mendengar jatuhnya istana Sultan, membuat Patih Wargadireja melunak. Ancaman Daendels yang akan membunuh Sultan dan keluarganya membuat Patih Wargadireja menyerah. (Bersambung)

 

Penulis: Jemmy Ibnu Suardi,  Pemerhati Sejarah Mercusuar Institut

TINGGALKAN KOMENTAR

five × 5 =