Pendidikan Bukan Alat Untuk Menghasilkan Robot Industri

Pendidikan Bukan Alat Untuk Menghasilkan Robot Industri

0
BAGIKAN

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi (Direktur Eksekutif Mercusuar Institute)

Menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban bagi laki-laki dan perempuan muslim. Apalagi dalam Islam, Rasulullah Saw menegaskan ini yakni, _“thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin”._ Dalam pendidikan, sejatinya tujuan dari menuntut ilmu, untuk menjadi manusia yang baik. “Baik” disini bukan dalam artian sekular, seperti tidak melakukan perbuatan jahat yang bersifat duniawi, layaknya mencuri, merampok dan tindakan kriminal lainnya. “Baik” dalam arti _beyond_ dari urusan dunia, yakni dalam artian sesuai dengan tuntunan syariat Allah yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw, singkatnya baik dunia akhirat. Kebaikan ini tentunya tidak lepas dari konsep-konsep kunci penanaman adab. Sesuai pula dengan Pancasila sila kedua, Manusia yang Adil dan Beradab. (Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Adab & Akhlak Penuntut Ilmu, Bogor: Pustaka At-Taqwa, 2010).

Jika kita merujuk pada penjelasan Syed Naquib Al-Attas bahwa, “Tujuan pendidikan adalah untuk melahirkan manusia yang baik. Apa yang dimaksudan dengan ‘baik’ dalam konsep kita tentang ‘manusia baik’? Unsur asasi yang terkandung dalam konsep pendidikan Islam adalah penanaman adab, karena adab dalam pengertian yang luas di sini dimaksudkan meliputi kehidupan spiritual dan material manusia yang menumbuhkan sifat kebaikan yang dicarinya.” Jadi model ideal manusia baik adalah manusia yang sukses dalam proses pendidikan, dimana mereka memiliki kekayaan spiritual dan material. (Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, Kuala Lumpur: ISTAC, 2001).

Baca Juga :   Apapun yang Terjadi, Jangan Berhenti Bernyanyi !

Dalam kesempatan lain bahkan Al-Attas menjelaskan bahwa manusia yang baik itu adalah, “Manusia yang insaf akan tanggungjawab dirinya kepada Tuhannya Yang Hak; manusia yang memahami serta menyelenggarakan penunaian keadilan terhadap dirinya dan diri-diri lain dalam masharakatnya; manusia yang dalam serba-serbi tingkah lakunya senantiasa mengasuh dirinya menuju ke arah kesempurnaan sebagai insan adabi.” (Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, Kuala Lumpur: ISTAC, 2001).

Jadi, manusia yang baik sudah semestinya kenal akan Tuhannya, mengerti tujuan dan fungsinya di dunia, dan paham bahwa dirinya bukanlah alat produksi industri kapitalis semata. Dalam hal ini, Tujuan utama dalam pendidikan, bukanlah semata-mata untuk mendapatkan keuntungan duniawi (materi-ekonomi). Jika kita telusuri, konsep yang menjadi dasar industrialisasi pendidikan adalah konsep filsafat Barat, yang berdasarkan materialisme semata.

Konsep filosofinya berasal dari pemikiran Francis Bacon yang mengatakan _knowledge is power_, katanya, “ilmu adalah alat kekuasaan.” Jadi jelas,dalam paradigma sekular ini, tujuan utama dalam pendidikan adalah untuk meraih keuntungan-keuntungan ekonomi dan kepentingan kekuasaan. Maka wajarlah lahirlah manusia-manusia pragmatis, yang mengejar keuntungan duniawi semata. (Adnin Armas, Epistemologi Islam: Syed Muhammad Naquib al-Attas. Jakarta: 2011).

Baca Juga :   Kita Disuruh Berproses, Bukan Berhasil

Jika kita tau akan hakikat pendidikan, tentu kita akan menjadi manusia sempurna. Dimana pendidikan yang benar bertujuan untuk membentuk adab yang baik. Pembentukan adab haruslah diawali dengan pembenahan akal dan jiwa. Tingkah laku yang baik berasal dari pengetahuan yang baik. Sebaliknya tingkah laku yang jelek bersumber dari pengetahuan yang buruk.

Idealnya manusia yang berpendidikan adalah mereka yang melakukan integrasi dalam pemenuhan kebutuhan dunia, demi kepentingan akhiratnya. Sehingga tepat apa yang diutarakan oleh Syed Naquib Al-Attas, bahwa, pengetahuan yang tertinggi adalah ilmu yang dibingkai dengan ibadah. Yakni ilmu yang telah mencapai taraf tingkatan ihsan, yaitu ibadah yang diraih, menjadi ma’rifah kepada Allah. Sehingga manusia berpendidikan itu, tidak diperalat hanya sekedar menjadi alat pemenuhan pragmatisme, atau bahkan sekedar menjadi robot-robot penunjang dalam Industrial yang kapitalistik itu.

 

(FN)

TINGGALKAN KOMENTAR

4 × two =