Pembaratan Banten yang Gagal 1900-1930

Pembaratan Banten yang Gagal 1900-1930

0
BAGIKAN
Foto: Ilustrasi peta kekuasaan kesultanan Banten / guruips.com

Oleh Jemmy Ibnu Suardi (Peneliti Mercusuar Institute)

Setelah gugurnya Sultan Ageng Tirtayasa di tangan VOC Belanda 1683, dan menjadi penanda bercokolnya kekuasaan penjajah secara de facto, pada detik yang sama sejatinya upaya Pembaratan kepada Banten dimulai. Klausul – klausul perjanjian penjajah dengan Sultan Boneka VOC Belanda, Sultan Haji, yang membatasi ruang gerak Kesultanan dan memutuskan hubungan internasionalnya, pelan-pelan menghilangkan pengaruh Sultan sebagai pemangku otoritas tunggal di Banten.

Pemerintah Kolonial Belanda benar-benar mendapatkan momentumnya tatkala VOC, perusahaan dagang Belanda bangkrut diakhir tahun 1799 . Pemerintah Kolonial Belanda dengan masif mendirikan lembaga pendidikan ala Barat. Beberapa didirikan di wilayah Nusantara, khususnya Banten. Menurut Mufti Ali, sekolah Belanda yang didirikan di Banten tahun 1861, juga bersamaan dengan didirikannya sekolah pengkaderan Pendeta pribumi. Sekolah Belanda dengan kurikulum Barat, memiliki tujuan khusus, yakni untuk pemenuhan pegawai pemerintah di wilayah kolonialisme, Banten. (Mufti Ali, Banten dan Pembaratan, hal. 1)

Baca Juga :   Komplek NABE mengadakan Gerakan Shalat Subuh Berjama’ah

Sekolah-sekolah ala Barat tersebut, memperkenalkan dan mengajarkan aksara latin, bahasa Belanda, dan keterampilan-keterampilan sebagai pegawai administrasi. Mulailah disana Pembaratan melalui jalur pendidikan. Meskipun Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan beberapa sekolah ala Barat di Banten, yakni di Serang, Tangerang, Rangkasbitung, dan Pandeglang, rakyat Banten pada umumnya enggan menyekolahkan anak-anaknya disekolah-sekolah bentukan Belanda. Tercatat sensus literasi dan pendidikan yang dilakukan Pemerintah kolonial tahun 1930. Jumlah peserta didik di sekolah-sekolah ala Barat sangat sedikit. Anak-anak Banten lebih banyak sekolah di lembaga pendidikan Islam, yakni Pesantren. (Mufti Ali, Banten dan Pembaratan, hal. 199)

Pesantren sebagaimana dikatakan oleh M. Natsir adalah benteng dan markas perjuangan kemerdekaan melawan penjajahan kolonialisme Belanda. Keberadaan pesantren sangat vital dan penting. Lembaga pendidikan Islam ini sejatinya tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, tapi juga sebagai pusat kaderisasi pejuang-pejuang kemerdekaan. (M.Natsir, Kubu Pertahanan Mental dari Abad ke Abad, hal. 6-7)

Baca Juga :   Tradisi Tasawuf di Kesultanan Banten 1596-1799

Hal ini praktis membuat mayoritas rakyat Banten pada umumnya buta akan aksara latin. Namun demikian mayoritas orang Banten lebih pandai membaca huruf Arab Pegon ketimbang huruf Barat (Latin). Mufti Ali mencatat, hanya ada 991 orang atau 0.19% dari sejumlah 514.359 penduduk Serang tahun 1930 yang bisa membaca dan menulis huruf latin. Upaya Pembaratan di Banten kalaupun tidak ingin dikatakan gagal, telah menghabiskan daya upaya, sehingga Pembaratan lewat jalur pendidikan bisa dikatakan belumlah berhasil. Rakyat Banten tetap berjuang mengangkat senjata, untuk mendapatkan kemerdekaan dari penjajahan kolonialisme Belanda (Mufti Ali, Banten dan Pembaratan, hal. 205-206)

TINGGALKAN KOMENTAR

fourteen − thirteen =