Pemanfaatan Limbah Plastik Dengan Metode Ecobrick Dalam APE (Alat Permainan Edukatif) Sebagai...

Pemanfaatan Limbah Plastik Dengan Metode Ecobrick Dalam APE (Alat Permainan Edukatif) Sebagai Usaha Perubahan Lingkungan Dimasa Pandemi

0
BAGIKAN

Oleh: Apriyani
(Mahasiswa Pendidikan Kimia, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa)

Sampah merupakan salah satu masalah yang pelik di Indonesia. Tidak hanya di negara ini, masalah sampah menjadi masalah besar yang belum terpecahkan di dunia. Setiap tahun masalah sampah, terutama yang mendominasi masalah sampah plastik semakin meningkat apalagi pada masa pandemi, kebijakan karantina didirikan dibanyak negara telah menyebabkan peningkatan permintaan belanja online untuk pengiriman ke rumah, yang pada akhirnya meningkatan jumlah limbah rumah tangga dari bahan paket yang dikirim. Banyak tindakah untuk mengurangi sampah plastik. Misalnya, dengan cara mendaur ulang kembali sampah adalah salah satu cara efektif untuk mencegah polusi, menghemat energi, dan meletarikan alam. Tapi, karena pandemi banyak negara menunda kegiatan daur ulang sampah untuk megurangi penularan infeksi virus, peserta AS membatasi program daur ulang di banyak tempat kota (hampir 46%), karena pemerintah mengkhawatirkan risiko Covid-19 menyebar di fasilitas daur ulang. Menurut UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengolahan sampah, dijelaskan bahwa sampah merupakan permasalahan nasional sehingga pengolahannya perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat. Berdasarkan hasil data, di Indonesia terdapat jumlah timbunan sampah secara nasional sebesar 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton per tahun dan jika menggunakan asumsi, sampah yang dihasilkan setiap orang per hari adalah sebesar 0,7 kg.

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka saya tertarik untuk membuat gagasan dalam bidang Pemanfaatan Sampah yaitu, Smart People Creative: Pemanfaatan Limbah Plastik Dengan Metode Ecobrick Dalam APE (Alat Permainan Edukatif) Sebagai Usaha Perubahan Lingkungan Dimasa Pandemi. Dengan adanya program ini, diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca untuk memanfaatkan limbah plastik dengan menggunakan ecobrick sebagai media untuk meningkatkan kreativitas serta menanamkan nilai-nilai untuk mencintai dan menjaga kelestarian lingkungan.

Ecobrick merupakan solusi agar limbah plastik lunak khususnya seperti; plastik bekas bubble wrap, tas plastik (kresek), kemasan makanan plastik, dan plastik minuman saset yang merupakan bahan limbah dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ecobrick yang berarti bata ramah lingkungan, dimana bahan utamanya menggunakan plastik bersih dan kering yang dimasukan kedalam botol plastik dengan kepadatan yang telah ditetapkan. Ecobrick memungkinkan kita sebagai pengguna plastik untuk mengambil tanggung jawab pribadi atas plastik kita. Ada beberapa implementasi kreatif yang telah diciptakan dengan menggunakan teknik ecobrick yaitu Alat permainan edukatif (APE) yang merupakan sebuah alat permainan yang terbuat dari bahan limbah sampah plastik dengan menggunakan teknik ecobrick sebagai salah satu pemanfaatan sampah dalam menjaga kelestarian lingkungan. Karya-karya yang dihasilkan dari teknik ecobrick ini dapat digunakan sebagai media untuk merangsang perkembangan fisik motorik halus anak, emosional, kreativitas, seni, dan dapat digunakan untuk merangsang perkembangan kognitif anak.

Baca Juga :   PSBB Untuk Penanganan Covid-19, Sudah Tepatkah?

Setidaknya ada beberapa langkah untuk pelaksanaan program ini:

  • Persiapan

Mengumpulkan limbah botol minuman plastik, mencuci semuanya dengan seksama, kemudian dikeringkan. Ukuran botol disesuaikan dengan kebutuhan. Dianjurkan untuk menggunakan botol berukuran antara 300ml hingga 600ml agar tidak terlalu lama dalam proses pembuatannya. Karena Semakin besar botol, semakin lama pula waktu pembuatan serta semakin banyak plastik yang dibutuhkan untuk mengisi botolnya. Setelah botol-botol sudah siap, carilah tonggak kayu yang digunakan untuk tahap memadatkan nantinya.

  • Pembuatan Ecobrick
  1. Kumpulkan berbagai macam kemasan plastik, seperti bubble wrap, kemasan mie instan, minuman instan, bungkus plastik, kantong plastik dan sebagainya. Harus dipastikan bahwa plastik bebas dari semua jenis makanan (yang tertinggal di dalamnya), dalam keadaan kering dan tidak dicampur dengan bahan lain seperti klip, benang, kertas, dan sebagainya.
  2. Memotong plastik yang bersih dan kering, lalu memasukkannya ke dalam botol. Tahap ini dapat merangsang kemampuan koordinasi mata dan tangan pada anak untuk melakukan gerakan motorik halus seperti memotong, mencubit, meremas dan menjepit dengan memasukkan benda ke dalam mulut botol. Pada saat menghias, anak akan mewarnai dengan cat, melakukan pelekatan, dan pemotongan, sehingga keterampilan motorik halus anak akan terstimulasi begitu pula dengan aspek seninya. Bahan-bahan yang diisikan ke dalam botol tidak dapat dicampur dengan kertas, gelas, logam, benda tajam dan bahan lain selain plastik. Bahan plastik yang dimasukkan ke dalam botol plastik harus dipadatkan hingga sangat padat dan mengisi seluruh ruang di dalam botol plastik. Cara memadatkannya dengan menggunakan alat tonggak kayu yang sudah disiapkan.
  3. Proses terakhir, setelah semua botol plastik telah diisi dengan kemasan plastik sampai benar-benar padat, botol-botol plastik siap untuk diatur dan digabungkan menjadi berbagai macam APE (Alat Permainan Edukatif), APE yang dibentuk dapat berupa; mobil, boneka, menara, ulat, kupu-kupu, pesawat, roket atau bentuk lain sesuai dengan kreativitas guru dan anak-anak. Proses Pembuatan ecobrick dalam APE (Alat Permainan Edukatif).
Baca Juga :   Ancaman Sampah dan Limbah di Banten

Kesimpulan yang dapat diambil adalah program ini merupakan upaya dalam membantu program pemerintah supaya sampah plastik tidak semakin meningkat. Maka, dengan adanya Program Pemanfaatan Limbah Plastik Dengan Metode Ecobrick Dalam Pembuatan APE (Alat Permainan Edukatif), diharapkan selain untuk mengurangi permasalahan sampah plastik, program ini juga dapat meningkatkan kemampuan kreativitas dalam mengolah sampah serta dapat menanamkan nilai-nilai untuk mencintai dan menjaga kelestarian lingkungan sejak dini. Sebagai seorang yang berada pada masa dimana ilmu pengetahuan semakin berkembang dan terus menerus mengembangkan ide kreativitasnya, akan sudah menjadi keharusan untuk dapat mengambil peluang di era penuh perubahan ini. Serta mampu memilah hal yang positif dan negatif untuk diri sendiri.

Referensi:

Daniar W, S., Bernardus, A, P,A. 2019. Perancang Infografis Instruksional Kampanye R3 (Reduce, Reuse, Recycle) Ecobrick. Semarang: Universitas Dian Nuswantoro Semarang

Palupi, W,. Dkk. 2019. Pemanfaatan Sampah Ecobrick Sebagai Media Pembelajaran Anak Usia Dini. Semarang: Universitas Sebelas Maret

Pemerintah Pusat. 2008. Undang-UndangĀ  (UU) Tentang Pengolahan Sampah. Diakses Pada Https://Pelayanan.Jakarta.Go.id

Somani, M., Srivastava, A.N.,Agummadivilli, S.K., Sharma, A., 2020. Indirect Implications Of Covid-19 Towards Sustainable Environment: An Investigation In Indian Context Biores. Techno. Rep 11, 100491

Ma, et all. 2020. Suggested Guideline For Emergency Treatment Of Medical Waste During COVID-19: Chinnes Experience Waste. Dipos. Sustain. Energy 2, 81-84

Sayuti, S. Permasalahan Sampah Dan Solusinya. Banten: Dinas Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (DLHK). URL: Https://Dlhk.Bantenprov.Go.Id/Upload/Article-Pdf/PERMASALAHAN%20SAMPAH%20DAN%20%20SOLUSINYA.Pdf. Diakses Pada 18 Februari 2021

TINGGALKAN KOMENTAR

five × three =