Pangeran Kasunyatan; Jaringan Keilmuan Syeikh Burhanudin Ulakan dan Sultan Banten abad-16

Pangeran Kasunyatan; Jaringan Keilmuan Syeikh Burhanudin Ulakan dan Sultan Banten abad-16

0
BAGIKAN

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi, M.Pd.I
Co-Founder Mercusuar Institute

Syeikh Burhanuddin Ulakan adalah tokoh sentral dalam penyiaran Islam di Minangkabau, meskipun Minangkabau sudah lebih dulu bersentuhan dengan Islam jauh sebelum Syeikh Burhanuddin lahir, diyakini Syeikh Burhanuddin Ulakan yang mematenkan Islam di Minangkabau (w.1111 hijriyah). Sehingganya lahirlah falsafah hidup Minangkabau yaitu;

“Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato, adat mamakai”

Terjemahan bebasnya, adat bersendikan kepada syariat yang berlandaskan pada Al Qur’an, yang mana syariat memberikan aturan, lembaga adat yang melaksanakan aturan syariat tersebut.

Tersebutlah sebuah riwayat yang ditulis oleh Buya Martiwin, Tuanku Bagindo, berjudul Sejarah Syeikh Burhanuddin Pembawa Masuknya Islam di Minangkabau, ketika Syeikh Ahmad Al Qushasi (w.1071 hijriyah) di Madinah menugaskan muridnya Syeikh Abdullah Arif untuk berdakwah ke Nusantara. Dalam perjalannya Syeikh Abdullah Arif dibekali dengan beberapa kitab, salah satunya kitab tasawuf Tuhfah al Mursalah Ila Ruhi Nabi, karya Syeikh Al Burhanpuri. Selain itu Syeikh Abdullah Arif diberikan dua buah botol, yang satu berisi air dan yang satunya kosong. Diperintahkan oleh gurunya jika singgah disuatu negeri, maka timbanglah pasir di negeri tersebut dengan air yang ada di dalam botol, jika beratnya sama, maka Syeikh Abdullah Arif diperintahkan untuk menetap dan tinggal untuk mengajarkan agama Islam.

Ketika kapal yang ditumpangi Syeikh Abdullah Arif diterpa ombak dan karam, terdamparlah dirinya di pesisir barat pulau Sumatera, daerah Tiku, Minangkabau, diselamatkan oleh warga sekitar dan dirawat sampai sembuh. Setelah sehat kembali Syeikh Abdullah Arif teringat pesan akan gurunya, bahwa jika tiba disuatu negeri maka timbanglah berat pasir di negeri tersebut dengan air yang dibawa dari Madinah.

Atas izin Allah Syeikh Abdullah Arif menemukan maksud yang dituju oleh gurunya Syeikh Ahmad Al Qushashi, pasir di Ulakan, Pariaman beratnya sama dengan air dalam botol yang dibawanya, maka menetaplah Syeikh Abdullah Arif di Ulakan, dan mulai mengajar. Ramailah orang Minangkabau datang untuk belajar agama Islam, salah satunya Syeikh Burhanuddin Ulakan.

Baca Juga :   Pemprov Dan Pemkot Rebutan Proyek Revitalisasi Banten Lama

Singkat cerita tugas Syeikh Abdullah Arif di Ulakan Pariaman dicukupkan, karena melihat perkembangan murid-muridnya yang pesat dan menghasilkan kaderisasi ulama yang cukup baik, khususnya Syeikh Burhanuddin Ulakan, beliau diperintahkan untuk melanjutkan menuntut ilmu ke Aceh, kepada adik seperguruannya Syeikh Abdurrauf Singkil di Aceh, maka berangkatlah Syeikh Burhanuddin Ulakan ke Aceh.

Riwayat Syeikh Abdullah Arif ini mahsyur di Minangkabau, dan digelari orang sebagai Tuanku Syeikh Madinah. Dan dibangunkan orang sebuah surau di pesisir Pariaman, dimana suraunya masih ada sampai sekarang, dengan nama Surau Tuanku Syeikh Madinah. Tidak diberitahukan kemana Syeikh Madinah pergi, ada satu riwayat beliau wafat dan di makamkan di Pesisir Pariaman, riwayat lain beliau pergi melanjutkan perjalanan dakwah.

Barulah oleh penulis dapati satu riwayat yang bersambung tentang Syeikh Madinah ini dalam naskah Kuna Sajarah Banten, yang disunting secara filologis oleh Hoesein Djayadiningrat. Disebutkan dalam Sajarah Banten, Syeikh Madinah diminta untuk datang oleh penguasa Banten ke Kesultanan Banten dan diminta mengajarkan Islam kepada keluarga Sultan. Besar kemungkinan penguasa yang meminta Syeikh Madinah adalah Maulana Yusuf untuk dijadikan guru bagi anaknya Maulana Muhammad, dan juga kelak Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir.

Sajarah Banten meriwayatkan, setelah Syeikh Madinah mengajarkan Islam dan menikahi salah seorang putri raja di Minangkabau, dirinya datang ke Banten. Besar kemungkinan menurut penulis putri yang dimaksud dalam Sajarah Banten adalah putri seorang Datuk atau raja lokal di Ulakan, bukan putri raja Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung, karena sistem pemerintahan di Minangkabau yang federal tidak terpusat, setiap daerah memiliki raja-raja atau datuk yang memiliki kekuasaan teritori yang terbatas.

Baca Juga :   Kasunyatan Pusat Pendidikan Kesultanan Banten

Secara jelas Syeikh Madinah dalam catatan naskah kuna Sajarah Banten ini, datang ke Banten dan menjadi guru bagi putra mahkota Maulana Muhammad. Pangeran Banten ini menjadi penguasa Banten saat usianya baru 9 tahun pada 1580 masehi. Kemudian Maulana Muhammad harus gugur tahun 1596 masehi, di usianya yang masih muda 25 tahun, ketika Kesultanan Banten melakukan ekspansi wilayah menyerang Palembang. Maulana Muhammad meninggalkan seorang putra yang baru berusia lima bulan, Abdul Qadir, yang kelak dikenal sebagai Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir (w. 1651 M).

Syeikh Madinah kemudian menetap dan tinggal di Banten, tepatnya daerah Kasunyatan. Di sini Syeikh Madinah menjadi pemimpin tertinggi lembaga pendidikan bagi keluarga istana di Kasunyatan. Syeikh Madinah pun dinikahkan kepada salah seorang putri penguasa Banten. Jadilah Syeikh Madinah penghubung bagi dua kerajaan yaitu Minangkabau dan Banten. Syeikh Madinah di akhir hayatnya dikenal dengan nama Pangeran Kasunyatan dan juga populer dengan nama Kiyai Dukuh.

Karena genealogisnya yang bersanad kepada Syeikh Ahmad Al Qushashi, jelas bahwa Syeikh Madinah adalah seorang pengamal sekaligus guru ilmu tasawuf tarekat Syatariah. Di sini akhirnya, menurut penulis tidak mengherankan jika keluarga istana Kesultanan Banten sejak masa Maulana Muhammad atau bahkan pendiri Kesultanan Banten Maulana Hasanuddin adalah pengamal tasawuf tarekat Syatariah. Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir ketika kelak menjadi Sultan mengirimkan utusan ke tanah suci, besar kemungkinan menggunakan rekomendasi gurunya, yaitu Syeikh Madinah untuk mendapatkan salinan kitab-kitab keilmuan Islam dari Syarif Mekkah. Tidak diketahui pasti kapan Pangeran Kasunyatan meninggal, namun diyakini makam peristirahatan terakhirnya berada di Lawang Abang, Kasunyatan, komplek pemakaman para raja dan bangsawan Kesultanan Banten.

TINGGALKAN KOMENTAR

4 × three =