Orang-Orang Tiongkok di Masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683)

Orang-Orang Tiongkok di Masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683)

0
BAGIKAN
Foto: Ilustrasi

Oleh Jemmy Ibnu Suardi (Peneliti Mercusuar Institute)

Sebagai sebuah Negara Berdaulat, Kesultanan Banten memiliki rakyat dengan latar belakang etnik yang beragam. Masyarakat Internasional telah banyak  singgah dan menetap di Banten. Sebut saja orang Denmark, Inggris, Perancis, Belanda dan Portugis. Juga dari suku bangsa yang ada di Nusantara, seperti Jawa, Bugis, Makassar, Melayu yang pada saat  itu, mereka masing-masing merupakan penduduk sebuah negara berdaulat, kemudian Imperialisme Barat datang, memaksa mereka untuk mengungsi ke tempat aman dari penjajahan, Kesultanan Banten. (Claude Guillot, 2008:104)

Khusus etnik Tionghoa, eksistensi mereka bahkan ada jauh sebelum lahirnya Kesultanan Banten, orang Tionghoa sudah melakukan kontak dagang dan banyak menetap di ujung barat pulau Jawa ini. Jauh ratusan tahun sebelum Barat menemukan rute ke Nusantara, masyarakat Tiongkok sudah banyak yang merantau ke Banten, dan membentuk perkampungan. Hubungan dagang Tiongkok – Kesultanan Banten, sudah terjalin sejak abad ke-13, dimana Banten menjadi pemasok lada terbesar ke Tiongkok. (Claude Guillot, 2008:211)

Baca Juga :   Sekolah Kristen Pertama di Banten

Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, dalam catatan Claude Guillot, Sultan banyak memperkerjakan orang-orang Tiongkok dalam proyek infrastrukturnya. Tidak hanya sebagai pekerja kasar, Sultan bahkan menempatkan orang-orang Tionghoa dalam jabatan penting. Syahbandar yang menguasai pelabuhan Kesultanan Banten bernama Kaytsu dan Chakradana adalah beberapa orang Tionghoa yang menjadi kepercayaan Sultan.

Meskipun Sultan Ageng Tirtayasa menempatkan orang Tionghoa dalam jabatan penting, Sultan mensyaratkan mereka untuk masuk Islam terlebih dahulu. Sehingganya banyak orang-orang Tionghoa yang merantau ke Banten masuk Islam, dan kemudian bahu- membahu membangun Kesultanan Banten. (Claude Guillot, 2008:97)

Kiyai Ngabehi Cakradana, Syahbandar Kesultanan Banten era Sultan Ageng Tirtayasa, seorang Tionghoa Muslim yang tak hanya lihai mengatur perekonomian Negara, juga dipercaya Sultan sebagai pimpinan proyek pembangunan infrastruktur. Sultan memerintahkannya untuk membangun beberapa bendungan, kemudian sejumlah komplek perumahan, bahkan istana baru yang di buat di Tirtayasa, juga diarsiteki oleh Cakradana. (Claude Guillot, 2008:75)

Baca Juga :   Komitmen Terhadap Pemberdayaan ummat, Presiden ISABC Luncurkan Program KSB2

Rakyat Kesultanan Banten etnik Tionghoa, ditempatkan oleh Sultan di sebelah barat ibukota, diluar kota Berbenteng. Disana orang-orang Tionghoa membuat sebuah perkampungan. Orang-orang yang berhak tinggal di dalam benteng hanya orang-orang beragama Islam. Seolah Sultan ingin mengadopsi tanah Haram, yang hanya dihuni oleh orang-orang yang beriman. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat hunian, kampung yang banyak dihuni oleh orang-orang Tiongkok dan pendatang asing baik Eropa maupun Asia ini, adalah pusat perdagangan internasional.

TINGGALKAN KOMENTAR

15 + ten =