Merawat Nalar, KAMMI Serang Gelar Nobar The End Game

Merawat Nalar, KAMMI Serang Gelar Nobar The End Game

0
BAGIKAN

Serang (13/06/2021) – Kebijakan Publik PD KAMMI Serang menggelar nonton bareng dan bedah film “The End Game: Ronde Terakhir Melawan Korupsi”. Nobar dihadiri oleh kader-kader KAMMI dari berbagai Komisariat dibawah naungan KAMMI Serang dengan animo yang luar biasa pada Minggu (13/06/2021) siang.

Kegiatan Nobar menghadirkan Iqbal Muta’al, Ketua Umum PK KAMMI FKIP Untirta sebagai pemantik diskusi dan Aldi Agus Setiawan, Ketua Umum PD KAMMI Serang yang memberikan Welcoming Speech. Perlu diketahui, film dokumenter yang berdurasi 2 jam ini diproduksi oleh WatchDoc.

Pada bagian awal film menyuguhkan potongan film Kinipan, berbagai wabah penyakit yang dialami dunia dari masa ke masa serta kalimat ‘AGAMA DALAM KARANTINA’ sebelum masuk ke bagian film The End Game. Dalam film ini menampilkan potret perjalanan KPK secara singkat dari mulai berdiri, prestasi, hingga kasus-kasus yang menimpa pimpinan dan pegawai KPK sebagai upaya perlawanan untuk menggentarkan taji lembaga antirasuah.

Bagian inti dari film ini berisi kesaksian dari 16 pegawai KPK termasuk Novel Baswedan yang dinyatakan tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) serta terancam dipecat. TWK dianggap sebagai salah satu metode yang dilakukan Firli Bahuri, Ketua KPK untuk melakukan pembersihan dari dalam.

Baca Juga :   KAMMI Serang Adakan Diskusi Publik Sikapi PHK Masal Pekerja Giant Supermarket

“KPK memiliki peran yang sangat vital dalam pemberantasan korupsi di negeri yang korup ini, kita sama-sama melihat jumlah uang yang sangat fantastis yang berhasil diselamatkan oleh KPK di era Jokowi saja dapat digunakan untuk membangun 3.000 Puskesmas dan 1.750 Sekolah Dasar. Saya merasa sangat miris dengan apa yang menimpa KPK saat ini bukan hanya pelemahan tetapi pembersihan pegawai-pegawai KPK yang masih memiliki akal sehat,” tutur Iqbal saat memantik forum.

Upaya pelemahan KPK dimulai sejak masuknya revisi UU KPK kedalam Prolegnas secara mendadak yang ditandai dengan penolakan masyarakat dari berbagai elemen termasuk mahasiswa. Setelah disahkannya revisi UU KPK oleh DPR maka status pegawai KPK adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) sehingga harus mengikuti TWK, tetapi berdasarkan kesaksian dari pegawai KPK yang ditampilkan dalam film ini bahwa TWK yang dilakukan tidak layak disebut TWK karena materinya dianggap sangat absurd dan kontroversial.

Baca Juga :   KI Banten Gelar Rapat Koordinasi PPID dan Evaluasi Monev Tahun 2020

Terdapat berbagai materi yang dianggap tidak relevan dengan pemberantasan korupsi seperti “apakah orang Jepang itu kejam?”, “apakah orang Cina itu semua sama saja?”, “memilih antara Pancasila dan Al-Qur’an”, bahkan pertanyaan-pertanyaan seksis untuk perempuan seperti “kalau pacaran ngapain aja?” dan “kenapa belum menikah?”. Framing isu Taliban juga dilakukan untuk menghancurkan reputasi pegawai KPK.

Agus Setiawano selaku demisioner Ketua Departemen Kebijakan Publik KAMMI Untirta berpendapat, “kita (mahasiswa) harus terus melakukan kritik dan pergerakan karena kalau kita diam saja kebenaran akan terancam”.

Foto bareng peserta diskusi film

“Standing position kita mesti jelas, yang kita bela bukanlah hanya perkara instansi KPK secara general. Tapi ini menyangkut Tes Wawasan Kebangsaan yang absurd dan terkesan tidak transparan. Apalagi pertanyaan yang disampaikan asesor cenderung tidak sesuai dengan konteks kebangsaan,” ungkap Aldi Agus Setiawan selaku Ketua Umum KAMMI Daerah Serang di sela-sela diskusi. (AI/002)

TINGGALKAN KOMENTAR

four × one =