Menakar Kota Serang menjadi Kota Pendidikan dan Kebudayaan

Menakar Kota Serang menjadi Kota Pendidikan dan Kebudayaan

0
BAGIKAN

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi, M.Pd.I (Direktur Mercusuar Institute)

Secara administratif, Serang terbagi dua menjadi sebuah kota dan kabupaten yang menjadi Ibukota Provinsi Banten. Secara historis, khususnya kota Serang, merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Banten. Sebagai sebuah ibukota provinsi, Kota Serang memiliki peran strategis dibanding kota-kota lain di Provinsi Banten. Apalagi Kota Serang tidak bisa lepas dari nama besar Kesultanan Banten.

Mewarisi sejumlah warisan arkeologis dan situs-situs penting zaman Kesultanan Banten. Pemkot Serang semestinya menjadi mercusuar dalam mengembangkan dan memelihara warisan budaya yang berharga tersebut. Diketahui Kesultanan Banten adalah salah satu Negara berdaulat penting yang pernah hadir di Nusantara, yang memiliki peran global. Sebagai tempat persinggahan pelayaran Internasional, Banten pernah menjadi pusat niaga bangsa-bangsa Asing dan mengalami akulturasi budaya yang khas dibandingkan Kesultanan lainnya. Banten menjadi magnet berkumpulnya masyarakat Internasional, dengan pengaruh Islam sangat dominan dalam kebudayaannya. Hal ini nampak jelas misalnya dalam seni ilmu beladiri, amalan-amalan ibadah, seperti zikir dan puasa menjadi nilai utamanya.

Dalam dunia pendidikan, Kesultanan Banten tidak sedikit mencatatkan nama putera terbaiknya di kancah internasional. Sebut saja Ulama besar, Syeikh Nawawi Al Bantani, sebelum merantau ke Mekkah menuntut ilmu, Nawawi kecil belajar di pesantren milik ayahnya. Tradisi keilmuan yang kuat di Banten pada masanya, menjadi penanda bahwa Banten adalah pusat pendidikan Islam yang terkemuka.

Baca Juga :   Ironi Keterpurukan Ekonomi Indonesia

Warisan intelektual ini kemudian melekat pada Serang, sebagai kota pesantren. Lembaga pendidikan Islam ini usianya jauh lebih tua dibandingkan lembaga pendidikan modern ala Barat. Pun demikian, Hoesein Djajadiningrat adalah putra Banten, orang Indonesia yang pertama meraih gelar Doktor dari pendidikan Barat, Universitas Leiden Belanda, tahun 1913. Hoesein lahir di Kramatwatu, Serang. Jadi secara akademis, baik pendidikan Islam ataupun pendidikan Barat, orang Banten adalah pioneer dalam kemajuan dan memiliki peran yang cukup signifikan.

Di zaman kontemporer, Ibukota Provinsi Banten ini, secara infrastruktur memiliki beberapa universitas penting. Dua diantaranya yakni Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Ditambah lagi beberapa perguruan tinggi swasta lainnya. Secara demografis, dalam 10 tahun terakhir, jumlah penduduk kota Serang mengalami pertumbuhan signifikan. Data BPS 2017 menunjukkan penduduk Serang berjumlah 666.000 orang. Belum lagi ditambah sejumlah pendatang, khususnya para mahasiswa yang belajar di dua Universitas Negeri tersebut.

Kekayaan khazanah pendidikan dan kebudayaan warisan Kesultanan Banten, ditambah dengan infrastruktur pendidikan kontemporer yang baik, sejatinya layak mempertimbangkan kota Serang dijadikan sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan. Narasi besar ini tentunya perlu menjadi perhatian serius bagi pemerintah, khususnya pemerintah kota Serang. Hal ini mesti menjadi pertimbangan serius dalam mengambil kebijakan pembangunan kota Serang.

Baca Juga :   BESARAN UMP DI BANTEN PERLU DIREVISI

Misalnya Pemkot Kota Serang memberikan perhatian khusus kepada lembaga pendidikan Pesantren di Kota Serang, keberadaan pesantren saag ini seolah terpinggirkan oleh alokasi anggaran pembangunan sekolah-sekolah umum. Anggaran pendidikan mesti dialokasikan juga ke pesantren. Kemudian program mengentaskan buta aksara, baik aksara latin maupun aksara Al-Qur’an. Stigma Serang sebagai Kota pendidikan dan kebudayaan tentunya akan paradoks, jika di sejumlah desa, dan Kampung, misalnya masih dijumpai sejumlah warga Serang yang belum bisa membaca.

Romantisme sejarah masa lalu bisa menjadi pijakan penting membuat kebijakan-kebijakan operasional, dalam mengelola pemerintahan daerah. Alas pikir ini akan membuat Kota Serang lebih cepat berkembang dan menjadi kota maju, mengejar ketertinggalan pembangunan dari kota lainnya di Indonesia secara modern. Meskipun klaim kota pendidikan sudah lebih dulu diambil oleh beberapa kota, seperti Yogyakarta, Bandung, dan Padang. Kota Serang bukan tidak mungkin memenuhi prasyarat sebagai kota Pendidikan dan Kebudayaan berikutnya. Menjadi kota yang modern adalah keharusan, dengan pengembangan pembangunan infrastruktur, berdasarkan kepada nilai-nilai kearifan lokal yang luhur. Bukan tidak mungkin, masa kejayaan Kesultanan Banten bisa diaplikasikan di Kota Serang.

(FN)

TINGGALKAN KOMENTAR

eighteen − six =