Melebarkan Sayap Dakwah, Ekspansi Kesultananan Banten ke Palembang

Melebarkan Sayap Dakwah, Ekspansi Kesultananan Banten ke Palembang

0
BAGIKAN

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi, M.Pd.I
Co-Founder Mercusuar Institute

Tersebutlah dalam Naskah Kuna Sajarah Banten, bahwa tibanya Syeikh Madinah selepas singgah dari Ranah Minang, menetap dan mengajar di Banten, Syeikh Madinah menjadi guru putra mahkota Kesultanan Banten yang kelak menjadi penguasa Kesultanan Banten ke-3, Maulana Muhammad.

Ketika ayahanda Maulana Yusuf sakit-sakitan, tibalah adiknya Pangeran Jepara untuk menjengkuk kakanda yang terbaring sakit, namun Kesultanan Banten menaruh curiga, untuk apa Pangeran Jepara datang dengan bala tentaranya ketika kakaknya Maulana Yusuf sedang meregang nyawa?

Tahun itu 1580, jelaslah bahwa pangeran Jepara ingin merebut kuasa, dilihatnya putra mahkota yang masih kanak-kanak, tidak layak menguasa Kesultanan Banten yang agung ini. Mangkatnya Maulana Yusuf menjadi duka bagi Kesultanan Banten, raja besar penakluk Pakuan Padjadjaran itu pun akhirnya telah tiada.

Masih basah pusara Maulana Yusuf, perebutan kekuasaan terjadi, Pangeran Jepara berambisi merebut tahta Kesultanan Banten. Pertempuran hebat tak terhindarkan, pasukan laut dan darat Pangeran Jepara menyerbu ibukota kesultanan Banten, Surosowan.

Ki Demang Laksamana Jepara tewas ditangan Mangkubumi Kesultanan Banten, pasukan Pangeran Jepara kocar-kacir dan terpukul mundur kembali ke Jepara. Maulana Muhammad akhirnya bertahta di singgasana, 9 tahun usianya, ditemani Mangkubumi yang membantu pemerintahannya.

Maulana Muhammad dalam perhatian penuh Syeikh Madinah, di Kasunyatan dididiknya, diajarinya tentang Islam dari lahir sampai bathin, dari eksoteris sampai esoteris, mulai urusan fikih hingga tasawuf, jadilah Maulana Muhammad seorang pemuda yang tampan, cerdas, alim, ahli dalam agama dan pemerintahan. Setiap Jum’at selalu Maulana Muhammad sendiri yang menjadi imam dan khatibnya.

Baca Juga :   Kukerta Kelompok 52 UIN SMH Banten Hadirkan Fino Badut

Penguasa Kesultanan Banten itu, Maulana Muhammad masih muda, 25 tahun, baru saja memiliki seorang putra yang usianya baru lima bulan, Abdul Qadir namanya. Semangat jihadnya membara, sang Maulana memiliki keinginan mengikuti jejak leluhurnya, berdakwah sampai ujung samudera.

Kebetulan intrik politik istana sedemikian rupa kuat memprovokasi Maulana Muhammad untuk menyerang Palembang. Mahapatih berkata, di duga bahwa Palembang masih kafir, karena disana bertahta raja Sriwijaya yang beragama Budha. Berkobarlah semangat dakwah pemuda penguasa Kesultanan Banten ini. Apalagi permintaan adindanya Pangeran Mas anak Pangeran Pangiri cucu Sunan Prawoto Demak, berkeinginan untuk bertahta di Palembang dan menjadikan Palembang sebagai taklukan Kesultanan Banten.

Ditemuilah sang guru, Syeikh Madinah, memohon restu bahwa perjuangan dakwah ini sungguh agung nilainya. Ayahanda Maulana Yusuf telah berjaya dengan menaklukan Pakuan Padjajaran demi dakwah Islam, begitu pula Nenenda Maulana Hasanuddin menaklukan Banten Girang demi dakwah Ilallah. Maka sudah sepantasnya Palembang menjadi sasaran selanjutnya.

Maulana Muhammad berangkat dengan armada lautnya yang saat itu terkuat di pulau Jawa. Pasukan darat yang ada di Lampung, Seputih dan Semangka berangkat pula melalui darat menuju Palembang. Berhari-hari sudah perjalanan menuju Palembang. Tibalah pasukan Kesultanan Banten dan Palembang saling berhadapan. Lewat darat dan laut Maulana Muhammad mengepung Palembang

Naskah Kuna Sajarah Banten menyebut, saat itu 1596 menjadi penanda penguasa muda Kesultanan Banten memiliki gelora dakwah yang membara. Disebutkan bahwa pasukan darat telah berhasil mengepung Palembang. Tentu pekerjaan berat menanti, karena Palembang memiliki pasukan angkatan laut yang cukup kuat. Berhari-hari perang terjadi, korban berjatuhan disana-sini. Pekik takbir menghiasi semangat juang yang suci ini.

Baca Juga :   Komunitas Baca Pandeglang luncurkan #PandeglangMendongeng

Pertempuran hebat pun terjadi, pasukan darat berhasil merangsek ke dalam ibukota Palembang, hanya menunggu waktu Palembang akan jatuh. Semangat bahagia wujud bahwa perjuangan ini akan meraih kemenangan. Lain halnya di laut, Maulana Muhammad yang ada di kapal Indrajaladri, mesti berjibaku menghadapi serangan sengit armada laut Palembang.

Berkumandanglah azan ashar penanda waktu sholat tiba, diberilah tanda bahwa perang dihentikan sementara, kedua kubu saling menarik diri, tembak-menembak dihentikan. Maulana Muhammad memimpin sendiri sebagai imam sholat, tak dikira ini adalah sholatnya yang terakhir. Sang imam, Maulana Muhammad ditembak dalam sholatnya. Tubuhnya jatuh tersungkur digeladak kapal dengan tidak hentinya mengucap kalimat takbir, tahmid, dan tahlil. Pasukan penjaga tak bisa berbuat banyak, sang Maulana telah tiada.

Seluruh pasukan terpukul, awan gelap menaungi pasukan Kesultanan Banten. Pasukan darat dan laut akhirnya mundur teratur, padahal kemenangan sudah di depan mata, pasukan tak yakin bahwa Maulana Muhammad sudah tersungkur. Pemuda alim itu telah gugur, demi menapaki jejak leluhur yang agung, Allah memberinya pahala sebagai seorang syuhada.

Jasad sang Maulana kembali pulang, membawa kemenangan hakiki, menjadi syuhada, pemuda alim itu kemudian digelari Pangeran Seda Ing Rana, bersemayam di serambi masjid Agung Kesultanan Banten. Sang guru Syeikh Madinah pun larut dalam duka yang mendalam, sang Maulana meninggalkan seorang putera berusia lima bulan. Syeikh Madinah memberikan perhatian penuh kepadanya, yang kelak akan menjadi Sultan Agung penguasa ujung barat pulau Jawa, Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir.

TINGGALKAN KOMENTAR

seventeen + 19 =