Krisis Lahan Makam Covid-19 di Tangerang Raya, DPRD Sarankan Pemprov Banten Manfaatkan...

Krisis Lahan Makam Covid-19 di Tangerang Raya, DPRD Sarankan Pemprov Banten Manfaatkan Tanah Sedimentasi Situ

0
BAGIKAN

Tangerang Selatan (13/7/2021) – Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten, Budi Prajogo menyarankan agar Pemprov Banten memanfaatkan tanah sedimentasi situ-situ yang merupakan aset provinsi sebagai penyediaan lokasi makam baru bagi pasien Covid-19 yang meninggal dunia.

“Hal tersebut dinilai perlu dilakukan karena ada krisis lahan makam jenazah Covid-19 di wilayah Tangerang raya,” ujarnya, Selasa (13/7/2021).

Politisi PKS ini juga menyarankan kepada Pemprov Banten agar berkoordinasi dengan Pemkot Tangsel terkait pemanfaatan lahan sedimentasi untuk dijadikan makam.

“Melihat kurangnya lahan untuk pemakaman korban Covid-19 di Tangerang raya, Pemprov Banten bisa memanfaatkan sedimentasi situ-situ seperti Situ Gintung atau Situ Tujuh Muara untuk dikaji dengan melakukan koordinasi dengan Pemkot Tangel,” kata Budi.

Baca Juga :   300.000 Dosis Vaksin Diajukan, Wali Kota Serang Siap Disuntik Pertama

Ia mengatakan, pemanfaan sedimentasi situ-situ bisa menjadi solusi untuk atasi semakin menipisnya lahan penguburan seperti di Tangerang Raya.

Banyaknya korban Covid-19 dan terbatasnya lahan pemakaman membuat terjadinya kedaruratan, sehingga menyediakan tempat pemakaman dan sistem pemakaman yang cukup untuk lonjakan kematian akibat covid-19 mendesak dilakukan Pemprov Banten.

Situ Gintung, kata Budi, merupakan sebuah situ yang terletak di Kelurahan Cireundeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan memiliki luas sekitar 28 hektare. Sedangkan Situ Tujuh Muara adalah salah satu situ besar di kawasan Tangerang Selatan. Situ itu terletak di Kelurahan Pamulang Barat dan Pondok Benda. Luas situ, menurut data Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Tangerang Selatan, saat ini sekitar 19,3 hektar.

Baca Juga :   KPU Kota Serang dan UNBAJA Bangun Sinergitas Penyelenggaraan Pemilu

Sementara, pengelola TPU Jombang Tangerang Selatan, Shohibin Na’im saat ditemui mengatakan, lahan pemakaman tersebut hanya tersisa lahan untuk memakamkan 100 jenazah lagi. Dalam satu hari lokasi tersebut mampu menampung 30-50 jenazah Covid-19.

Di beberapa tempat jenazah pasien covid-19 yang isoman menunggu berjam-jam untuk bisa diproses pemakaman. Warga bingung harus diapakan jenazah Covid-19 di lingkungan mereka.

Permasalahan utama antrean pemakaman jenazah Covid-19 di lokasi tersebut, karena adanya penolakan dari pemilik pemakaman wakaf untuk memakamkan jenazah yang terindikasi positif Covid-19. (MAS/001)

TINGGALKAN KOMENTAR

eighteen − fifteen =