Kiyai Natalan?

Kiyai Natalan?

0
BAGIKAN
Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id

 

Beredar viral potongan video perayaan natal, berisi ucapan selamat natal dari seorang ulama sepuh dan ditambah lagi, seorang menteri menghimbau untuk merayakan kelahiran tuhan dengan suka cita.

Kelihatan raut kebahagiaan dalam video tersebut. Memang apa salahnya sih cuma merayakan? Toh juga cuma ucapan selamat, santei aja kali.

Merayakan sesuatu setentunya akan melahirkan ekspresi lahir dan batin. Batinnya merasa senang bahagia, lahirnya akan nampak dari gerakan, dan ucapan.

Kebahagiaan akan memunculkan reaksi fisik berupa senyum di wajah, dan gelak tawa. Keluar bunyi dari mulut berupa kata dan ucapan, sehingga ucapan selamat pun adalah bagian dari ekspresi kebahagian setentunya hal tersebut dirayakan. Karena berupa kalimat aktif, raya mendapatkan imbuhan me- dan -kan, jadilah ianya merayakan. Jadi, ucapan selamat pun adalah bagian dari merayakan.

 

Merayakan Natal Haram!

Pada 7 Maret 1981 MUI  menetapkan fatwa haram merayakan perayaan agama lain. MUI pimpinan Buya Hamka pada waktu itu mendapat tekanan yang hebat dari Pemerintah, dalam hal ini menteri Agama Alamsjah Ratoe Perwiranegara, penggagas mula perayaan natal bersama.

Baca Juga :   Perjuangan Patih Wargadireja Menjemput Surga Menjadi Syuhada (Bagian 2)

Buya Hamka tegas mengatakan hingga akhir hayatnya bahwa merayakan natal haram hukumnya. Daripada memilih kompromi untuk mengubah fatwa, Buya memilih mundur dari jabatan ketua MUI.

Toleransi umat beragama jangan di tafsirkan mesti ikut pula merayakan agama lain. Perayaan kelahiran Yesus tidak sama dengan Maulidan nabi Muhammad.

Natalan adalah kelahiran tuhan, ini artinya dalam akidah Islam, menganggap ada tuhan selain Allah yang baru lahir. Mengakui ada tuhan selain Allah dihukumi kafir, syirik, murtadin.

Sebagai seorang muslim kita harus menghormati keyakinan umat beragama lain. Umat Islam tidak perlu ikut-ikutan merayakan perayaan akidah umat lain. Apalagi meyakini ada tuhan yang dilahirkan.

Dalam hal ini Buya Hamka menasihati, “Janganlah lupa kawan bahwa sebagai Muslim kita percaya kelak di belakang hidup yang sekarang ini, ada lagi hidup. Itulah hidup yang kekal dan itulah yang sejati hidup. Tindak tanduk kita selama di dunia ini yang hanya sejenak, akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak di Hari Akhirat.”

Baca Juga :   Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud Menggelar Pertemuan Dengan Beberapa Tokoh Islam Indonesia

Ulama adalah pelita dari zamannya, ucapan dan perbuatannya akan menjadi dalil bagi orang awam. Sebagai ulama sepuh, Buya Hamka pada masanya tetap teguh pada pendiriannya. Mengokohkan bahwa haram merayakan natal bersama.

Pada sebuah ceramah di Masjid Al Azhar Buya Hamka berkata, “Akhirnya pada sisa umur yang masih tinggal ini, dapatlah hendaknya saya memperkukuh iman dan beramal saleh, sekedar tenaga yang masih ada. Moga-moga diterima oleh Tuhan dan tetaplah saya jadi khadam dari semua, tidak berpihak-pihak dan tidak untuk satu golongan saja.”

24 Juli 1981, empat bulan setelah fatwa haram natal yang dikeluarkan MUI, Buya Hamka kembali keharibaan ilahi. Dengan pendirian teguh dan akidah yang selamat. Ini menjadi legacy penting bagi generasi muda, bahwa Tauhid adalah akidah kita hingga maut menjemput nyawa.

 

Jemmy Ibnu Suardi, Peneliti Mercusuar Institut

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

18 − 6 =