Kiyai Haji Raden Mas Wangsakara: Imam Besar Kesultanan Banten 1638-1665

Kiyai Haji Raden Mas Wangsakara: Imam Besar Kesultanan Banten 1638-1665

0
BAGIKAN
Foto: Ilustrasi Kesultanan Banten / merdeka.com

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi (Peneliti Mercusuar Institute)

Setelah ekspansi Kesultanan Banten ke Palembang gagal, dan harus dibayar mahal dengan gugurnya Maulana Muhammad atau Sultan Banten ke-3 tahun 1596, Abul Mafakhir naik tahta. Di usianya yang sangat dini, Sultan Abul Mafakhir di dampingi oleh Mangkubumi Jayanegara dan Ibu Ratu Nyai Gede dalam menjalankan roda pemerintahannya. (Hamka, Sejarah Umat Islam, hal: 578) Pada saat yang sama,  VOC pimpinan Cornelis van Houtman datang ke Banten, dan menjadi penanda awal persentuhan Banten dengan VOC.

Sebelum Sultan Abul Mafakhir  berkuasa secara penuh, karena usianya yang masih kanak-kanak. Selama itu roda pemerintahan dijalankan oleh Mangkubumi Jayanegara yang merupakan ayah tirinya, dan tahun 1608 karena intrik politik di dalam istana, ayah tiri Sultan Abul Mafakhir ini diganti oleh Mangkubumi Ranamanggala.

Sultan Abul Mafakhir mengutus orang-orang kepercayaannya ke Haramain, bertemu Syarif Mekkah, dan kembali tahun 1638, membawa berbagai hadiah dari Syarif Zaid Mekkah, dan yang lebih penting adalah gelar Sultan sebagai legitimasi penguasa negeri Muslim di Banten. Jadilah namanya Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir, dan menjadikan dirinya sebagai Raja Nusantara pertama yang menggunakan gelar Sultan resmi dari tanah suci. (Martin van Bruineseen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, hal : 249).

Baca Juga :   Mau Bahagia di Dunia, Lakukanlah Hal ini!

Tidak hanya legitimasi gelar Sultan, Kakek dari Sultan Ageng Tirtayasa ini, mengirimkan utusan kepercayaannya kepada Syarif Zaid penguasa Mekkah,  untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang Islam, lebih khusus tentang ilmu tasawuf. Sultan mengutus tiga orang kepercayaannya, yakni Lebe Panji, Tisna Jaya, dan Wangsakara. (Mufti Ali, Dkk, Konsep Manusia Tuhan, hal. 197-198) Mufti Ali, Sejarawan Kesultanan Banten ini mengatakan, Lebe Panji meninggal di tanah suci, sehingga ketika kembali ke Banten, tinggallah Tisna Jaya dan Wangsakara.

Utusan Banten ini, menyalin Al Qur’an dan beberapa Kitab-Kitab penting dalam keilmuan Islam. Pada satu kesempatan mereka bertemu dengan Syeikh Muhammad Ali Ibn ‘Alan dan membujuknya untuk menetap di Banten. Namun upaya itu gagal Syeikh Ibnu’ Alan lebih memilih tetap di Haramain. Namun demikian Syeikh Ibnu ‘Alan menulis sebuah risalah untuk Sultan Abul Mafakhir, yakni risalah yang berjudul Al Mawahib Al Rabbaniyah an Al-As’ilah Al-Jawiyah yang merupakan jawaban atas pertanyaan Sultan Abul Mafakhir tentang Islam. (Martin van Bruineseen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, hal : 251).

Menurut Mufti Ali,  yang juga adalah ketua tim penulis naskah akademik kepahlawanan K.H. Brigjen Sjam’un, dalam diskusi bersama penulis mengatakan, jika dalam rentan tahun diutusnya Wangsakara, besar kemungkinan dirinya bertemu dan belajar kepada ulama besar tanah suci Syeikh Ahmad Al Qushashy.

Baca Juga :   Keraton Kaibon, Rumah Islami Persembahan Sang Anak untuk Ibunda

Sepulang dari tanah suci, Wangsakara dan Tisna Jaya disambut dengan suka cita, Sultan Abul Mafakhir merasa puas dengan kinerja utusan terbaiknya tersebut. Sebagai hadiah kemudian, Wangsakara diberikan gelar Raden Mas oleh Sultan Abul Mafakhir, juga sebidang tanah yang luas di Lengkong, Tangerang. Dalam perjalanannya selepas Sultan Abul Mafakhir mangkat, oleh Sultan Ageng Tirtayasa, Raden Mas Haji Wangsakara diangkat menjadi Imam Besar Kesultanan Banten, sedangkan Tisna Jaya diusir dari Kesultanan Banten karena melakukan perbuatan tercela, jelas Mufti Ali.

Kemudian ketika terjadi konfrontasi dengan VOC Belanda, Sultan Ageng Tirtayasa mengirimkan sejumlah pasukan terbaiknya. Pasukan perang ini didampingi juga oleh Imam Kesultanan Banten, Wangsakara, untuk memperkuat spritualitas pasukan. Kedudukannya yang tinggi sebagai ulama, selama dalam perjalanan beliau ditandu sampai ke medan perang. Imam Kesultanan Banten Wangsakara ini dikenal dengan ketinggian ilmunya. Tidak hanya dalam hal fikih, dirinya juga dikenal sebagai ulama tasawuf yang disegani. Dirinya menghabiskan masa usianya di Lengkong, Tangerang, sehingganya Lengkong dikenal sebagai salah satu spot utama dalam penyebaran ilmu-ilmu tasawuf di Kesultanan Banten.

TINGGALKAN KOMENTAR

eleven − four =