Khilafah Tidak Hanya Sebatas “Khalifah”

Khilafah Tidak Hanya Sebatas “Khalifah”

0
BAGIKAN
Foto: Ilustrasi khalifah / Fimela.com

Opini – Jemmy (Mercusuar Institute)

Dalam sistem pemerintahan di Indonesia, sudah beberapa kali coba ganti dengan berbagai macam varian. Mulai dari sistem parlementer, otoriter Orla dan orba, hingga liberal-kapitalistik seperti sekarang.

Jauh sebelum ada Indonesia, kita menggunakan sistem Kerajaan keagamaan seperti kerajaan Hindu-Budha. Juga secara paralel sistem Kesultanan digunakan oleh mayoritas Kerajaan pra Indonesia.

Bahkan berdirinya Kesultanan dan masifnya konversi politik Hindu-Budha menjadi Islam, Kesultanan, dalam naungan Khilafah Turki Utsmani, menurut Guru besar sejarah, Prof. Mansur Suryanegara, tidak lepas dari agresi imperialisme Barat yang mula-mula masuk ke Nusantara. Hadirnya Kolonialisme Barat men-trigger berdirinya Kesultanan-Kesultanan.

Para Sultan, Mereka ingin melindungi wilayahnya dari aneksasi Barat yang berusaha memonopoli dan menguasai negeri maritim Nusantara, pra Indonesia. Sehingganya tidak bisa tidak, mereka mesti segera masuk Islam dan merubah Institusi politiknya menjadi Kesultanan.

Para Sultan mengakui Khalifah yang berkuasa di Istanbul. Sebut saja Aceh yang dengan nyata mendaulat dan membaiat Khalifah Turki Utsmani, begitu juga Mataram. Pun demikian Banten yang mendapat gelar Sultan pertama dari Khalifah.

Banten misalnya, sejak 1526-1926 adalah waktu yang bukan sebentar. Selama 400 tahun Kesultanan ini berdiri terlepas dari eksistensinya di bayang-bayangi oleh imperialisme Barat.

Baca Juga :   Banten Feminist in Western Education 1895-1929

400 tahun Kesultanan-Kesultanan di Nusantara menggunakan hukum Syariat dengan adil. Baik Kesultanan Maluku, Ternate, Tidore yang menguasai wilayah Timur, yang notabene mayoritas disana pada saat pra Indonesia pun masih banyak yang non Islam. Syariat Islam berlaku dan menjadi sumber hukum positif dalam bernegara.

Selama menjadi Indonesia, kita belum juga mencapai masa keemasan. Tahun 2045 yang digadang-gadang sebagai Indonesia Emas, masih menjadi perdebatan, optimistis dan pesimistis, seolah-olah menjadi paradigma umum.

Tapi ketika menjadi sebuah Kesultanan, katakanlah Banten, sudah pernah mencapai masa keemasan. Yakni sejak era Sultan Abul Mafakhir hingga akhir masa Sultan Ageng Tirtayasa. Dimana Banten dengan kemakmurannya, memaksa Barat untuk tunduk, dan mengakui eksistensi Kesultanan Banten.

Kekhalifahan sebagaimana Buya Hamka menyebut, adalah sebentuk politik Islam yang memiliki varian dalam menjalankannya. Jika ada bentuk politik Barat dengan variannya, ataupun Politik Timur, seperti Tiongkok, Korea dan Jepang pra modern, juga ada politik Islam, yang menjadi opsi lain dari macam-macam jenis politik.

Hamka menyebut, memang tidak ada bentuk baku dari politik Islam, awalnya kekuasaan dipegang mutlak oleh Rasulullah saw. Kemudian oleh orang-orang terpilih Khulafa Rasyidah, kemudian menjadi Kerajaan Dinasti, Kesultanan. Dan hingga saat ini eranya politik Pos Modernisme, Pos Kolonialisme. Disamping banyaknya variasi tersebut, ada satu yang utama, yang menjadi ciri khasnya, yakni berlakunya sistem Tuhan semesta alam, yang dikenal dengan terminologi Syariat Islam.

Baca Juga :   Jangan Menyalahgunakan Agama

Khilafah tidak hanya sebatas “Khalifah”. Dia bisa disebut Raja, Sultan, Daulat Tuanku, King of King ataupun Presiden. Yang jelas adalah adanya political will dalam bernegara, untuk menjujung keadilan, membangun adab, dan kejujuran.

Siapapun pemimpinnya, asalkan menjadikan hukum Tuhan (Syariah) dalam daulatnya, itu sudah sebentuk Khilafah. Kita pun sebagai Indonesia sudah mengakui bahwa Tuhan itu esa, yang termaktub dalam dasar negara, Pancasila. Sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa tiada lain adalah Tauhid, begitu interpretasi Bung Hatta dan mayoritas Founding Father di awal Kemerdekaan Republik Indonesia.

Jadi sebenarnya jika Yang Mulia Junjungan, Daulat Tuanku Raja, Presiden yang Terhormat bapak Haji Insinyur Joko Widodo dengan kekuasaannya, hendak menegakkan keadilan yang seadil-adilnya, yakni hukum Tuhan, Syariat Allah, tentulah sudah pantas untuk disebut sebagai Khalifah.

 

(Ilham/Fitra)

TINGGALKAN KOMENTAR

six + eleven =