Kemerdekaan Indonesia dan Dekolonisasi Bangsa-Bangsa Asia dan Afrika

Kemerdekaan Indonesia dan Dekolonisasi Bangsa-Bangsa Asia dan Afrika

0
BAGIKAN
Foto: Pengibaran bendera RI saat Proklamasi / merdeka.com

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi (Pemred banteninfo.com)

Serang – Bagaimanapun kolonialisme adalah sejarah masa kelam yang pernah dialami oleh bangsa-bangsa di Asia dan Afrika, terutama Indonesia bangsa yang besar ini. Meskipun ketika masih dalam bentuk Kesultanan-Kesultanan, Nusantara pernah mengalami masa-masa keemasannya, setidaknya dalam hal ekonomi politik, sebelum kehadiran Bangsa Barat, Kesultanan di Nusantara adalah negeri makmur dan berdaulat.

Sebelum menjadi Indonesia, Kesultanan di Nusantara abad ke 13-17 pernah mengalami masa romantisme kegemilangannya, meskipun dianggap klise oleh sebagian orang, narasi besar bangsa-bangsa Kesultanan di Nusantara niscaya adanya.

Jika dianggap kosong sama sekali, maka tidak akan mungkin ada perlawanan yang berarti terhadap bangsa Barat yang melakukan upaya kolonialisasi. Imperialisme Barat di Nusantara tidak sekonyong-konyong dan berlangsung dengan mudah begitu saja, banyak perlawanan dan perjuangan para Raja dan Sultan sehingga Barat mesti berjibaku dengannya.

Singkatnya sampai di abad 19, dimana beberapa Kesultanan itu sudah menjadi puing dan tunduk atas kolonialisme Barat, muncullah semangat baru dalam dekolonialisasi, atau semangat nasionalisme yang di gawangi oleh Sarekat Islam.

Dekolonisasi Asia-Afrika yang terjadi setidaknya sejak tahun 1940-an tidak lepas dari semangat nasionalisme yang mulai menggelora ini. Sebagai pemain tunggal pembangkit nasionalisme, Sarekat Islam berhasil mengkader anak bangsa yang bakal mengambil peran kemerdekaan Indonesia atas Barat.

Baca Juga :   Ikhtiar Mengembalikan Kejayaan Banten, Manuskrip Banten di Belanda

Kemerdekaan ini sebagai wujud dekolonisasi yang diraih dengan jalan yang tidak mudah, bahkan sampai berlinang airmata dan berdarah-darah yang menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang berhasil lepas dari kungkungan kolonialisme.

Sesudahnya Indonesia menjadi inspirasi bagi negara-negara terjajah lainnya untuk juga merdeka. Peran signifikan Indonesia dalam mempolopori kemerdekaan negara Asia-Afrika, pernah menjadikan Indonesia memimpin suatu gerakan yang kemudian memberikan daya tawar tinggi, yakni Gerakan Non Blok (GNB), yang berisi negara-negara dekolonisasi yang baru merdeka.

Semangat ini tidak lepas dari salah satu falsafah politik luar negeri Indonesia, yaitu politik luar negeri “bebas aktif”, hal ini adalah sebuah seni diplomasi luar negeri yang menjadikan Indonesia memiliki daya tawar tinggi dihadapan globalisme.

Sofwan Al Banna Choiruzzad. Ph.D, Akademisi Universitas Indonesia dalam diskusi yang diadakan oleh Mercusuar Institute menguraikan bahwa kolonialisme dalam pandangan ekonomi politik, masih tetap eksis dan niscaya.

Asisten Professor Fakultas FISIP UI ini menegaskan bahwa, meskipun secara fisik normatif kolonialisme telah tidak ada lagi, secara substansi dan sistem, kolonialisme itu masih mencengkram negara-negara lemah di dunia.

Baca Juga :   Doa Perang Sabil Syeikh Asnawi Caringin di Peci KH TB Achmad Chatib

Secara generik kolonialisme dapat diartikan sebagai pembatasan hubungan diplomatik dan intervensi suatu negara kepada negara lain, sehingga membatasi distribusi kesejahteraan satu negara, dan menguntungkan satu negara disisi lain.

Kolonialisme juga di definisikan sebagai sebuah struktur ekonomi, dimana sistem ini memaksa orang lain dalam hal ini adalah negara, untuk tunduk atas kehendak dan kepentingan pihak yang superior atas pihak lain yang terintervensi.

Secara historis katakanlah, kolonialisme sudah mulai terasa ketika Kerajaan dan Kesultanan di Nusantara tidak lagi bisa bebas berdagang dan memproduksi komoditas dengan leluasa.

Rasisme yang terjadi baru-baru ini di Amerika, menurut Sofwan Al Banna tak lain dari subsistem kolonialisme. Secara psikologis bangsa Barat kulit putih masih menganggap rendah bangsa-bangsa kulit berwarna.

Rasisme muncul bukan dari ruang hampa, dia berangkat dari sikap superior suatu bangsa atas bangsa yang lain. Ketidakadilan dari rasisme ini akan tetap ada, selama masih ada pihak-pihak yang merasa tinggi atau superior atas pihak yang lain.

TINGGALKAN KOMENTAR

seven − 6 =