Kasunyatan Pusat Pendidikan Kesultanan Banten

Kasunyatan Pusat Pendidikan Kesultanan Banten

0
BAGIKAN

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi, M.Pd.I
Co-Founder Mercusuar Institute

Kasunyatan dalam beberapa catatan historis Kesultanan Banten, khususnya Naskah Kuna Sajarah Banten adalah pusat lembaga pendidikan yang mencetak ulama dan cendikiawan yang ahli di bidangnya masing-masing. Kehadiran Syeikh Madinah yang kelak dikenal sebagai Pangeran Kasunyatan dan populer juga dengan nama Kiyai Dukuh, menjadikan Kesultanan Banten sebagai destinasi utama oleh sebagian besar penuntut ilmu di pulau Jawa di abad ke-16. Sebagaimana diketahui, lembaga pendidikan Islam ini dikemudian hari populer dengan istilah Pesantren.

A.H Johns seperti dikutip oleh Zamakhsyari Dhofier berjudul Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, mengatakan bahwa lembaga pendidikan Islam berupa Pesantren memiliki peran besar dalam proses pengembangan Islam di Nusantara, lebih lanjut A.H. Johns mengatakan, “Lembaga-lembaga pesantren itulah yang paling menentukan watak ke-Islam-an dari kerajaan-kerajaan Islam, dan yang memegang peranan paling penting bagi penyebaran Islam sampai ke pelosok-pelosok. Dari lembaga-lembaga pesantren itulah asal usul sejumlah manuskrip tentang pengajaran Islam di Asia Tenggara, yang tersedia secara terbatas, yang dikumpulkan oleh pengembara-pengembara pertama dari perusahaan-perusahaan dagang Belanda dan Inggris sejak abad ke-16. Untuk dapat betul-betul memahami sejarah Islamisasi di wilayah ini, kita harus mulai mempelajari lembaga-lembaga pesantren tersebut, karena lembaga-lembaga inilah yang menjadi anak panah penyebaran Islam di wilayah ini.”

Sejak permulaan abad-16 telah banyak pesantren-pesantren yang mahsyur menjadi pusat pendidikan Islam di Nusantara. Lembaga pendidikan Islam ini mengajarkan berbagai kitab Islam klasik dalam bidang jurisprudensi, teologi, dan tasauf. Tradisi pesantren di pulau Jawa umumnya adalah kombinasi antara madrasah dan pusat kegiatan tarekat. Sebelum munculnya kalangan modernis Islam, dikotomi antara fiqh dan tasauf tidak terlalu kentara.

Baca Juga :   Doa Perang Sabil Syeikh Asnawi Caringin di Peci KH TB Achmad Chatib

Buya Hamka mencatat dalam bukunya Dari Perbendaharaan Lama bahwa Syeikh Yusuf Al Makasari dalam perjalanannya dari Makasar ke Mekkah tinggal beberapa saat di Banten, dan bahkan Syeikh Yusuf menjalin persahabatan dengan putra mahkota yaitu Pangeran Surya atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Keterangan tersebut juga diamini oleh Michael Laffan dalam bukunya The Makings of Indonesians Islam, bahwa Syeikh Yusuf Al Makasari sempat belajar di Banten.

Keberadaan Syeikh Yusuf mula-mula di Banten dapat dipastikan saat itu Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir sedang berkuasa. Jatuhnya Malaka kepada Portugis sejak 1511 menjadikan Banten dan pesisir barat Sumatera sampai Aceh sebagai perlintasan utama perjalanan ke Mekkah. Sebagai penguasa selat Sunda, Sultan Abul Mafakhir mengerti betul secara geopolitis betapa strategisnya posisi Kesultanan Banten, sehingga tidak heran jika Banten menjadi bandar pelabuhan internasional, terlebih lagi menjadi salah satu pusat pendidikan Islam di Nusantara, dimana ulama-ulama dari berbagai mancanegara singgah dan bahkan mukim dan membangun keluarga di Banten.

Posisi Kasunyatan sebagai pusat perguruan Islam akhirnya menjadi primadona bagi penuntut ilmu agama Islam. Apalagi menurut Naskah Kuna Sajarah Banten, lembaga pendidikan Islam yang berkembang di Banten, pimpinan Syeikh Madinah ini ramai di datangi oleh para pelajar dan ulama internasional baik dari Nusantara seperti Aceh, Minangkabau, Cirebon, Demak, juga dari Timur Tengah, India, dan Turki. Keberadaan Syeikh Madinah di Banten menjadi daya tarik tersendiri yang menjadi Banten sebagai center of excellence Islam di pulau Jawa.

Menurut Mufti Ali, Kasunyatan menjadi tempat kawah candradimuka khususnya bagi lingkaran elit istana, para bangsawan, khususnya anak-anak Sultan. Disini di ajari berbagai macam keilmuan, baik ilmu agama, ilmu pemerintahan, ilmu militer juga ilmu perdagangan internasional. Sebagai pusat perdagangan di pulau Jawa, sudah semestinya bagi para pangeran memahami dan mengerti konsep-konsep perdagangan dunia. Buah dari pendidikan di Kasunyatan ini, katakanlah dalam bidang ekonomi, dikemudian hari mampu menjadikan Banten memiliki sebuah kamar dagang yang disegani di Eropa dimana orang Eropa menyebutnya dengan Kompeni Banten.

Baca Juga :   Kemerdekaan Indonesia dan Dekolonisasi Bangsa-Bangsa Asia dan Afrika

Perguruan Kasunyatan adalah penanda bahwa Kesultanan Banten terdepan dan maju dalam sistem pendidikan di zamannya. Kita menjadi mengerti, bahwa Kesultanan Banten tidak identik dengan tahayul, bid’ah dan khurafat, karena masa keemasan Kesultanan Banten berdasar atas rasionalitas keilmuan di Banten yang dibangun atas pondasi keilmuan Islam yang kokoh. Institusi pendidikan Kasunyatan menjadi titik penting dalam masa keemasan Islam di Banten

Martin van Bruinessen dalam makalahnya yang berjudul Shari’a court, tarekat and pesantren: religious institutions in the Sultanate of Banten, menunjukan bahwa mula-mula lembaga pendidikan Islam awal di Kesultanan Banten mapan ditahun 1630an, yang menurutnya ada di Gunung Karang, dimana seorang ulama yang berasal dari Arab bernama Syeikh Ibrahim bin Abu Bakar alias Ki Ageng Karang menjadi pemimpin dilembaga pendidikan tersebut. Lembaga pendidikan ini menurut Bruinessens, lebih fokus pada penekanan latihan asketis dan pertapaan, bukan untuk studi kitab-kitab keilmuan Islam. Migrasi besar-besaran ulama-ulama dari berbagai negeri terjadi pada tahun 1596, dimana Bruinessens mengatakan bahwa, Kesultanan Banten banyak memiliki guru-guru yang berasal dari Mekkah dan Madinah, dimana Masjid dijadikan sebagai tempat basis pembelajaran. Bruinnesens mengamini bahwa Syeikh Madinah alias Pangeran Kasunyatan alias Kiyai Dukuh adalah pimpinan dari lembaga pendidikan Islam di Kasunyatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

17 − 17 =