Jejak Islamofobia dan Wajah Persaudaraan Islam

Jejak Islamofobia dan Wajah Persaudaraan Islam

0
BAGIKAN

Oleh: Alzeiraldy Idzhar Ghifary (Ketua KAMMI Serang Bidang Kebijakan Publik)

Beberapa waktu lalu dunia dikejutkan dengan pernyataan kontroversial dari Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang mengatakan Islam sebagai agama yang mengalami krisis dan terinfeksi oleh manifestasi radikal, hal itu ia sampaikan dengan dalih penanganan terhadap separatisme Islam. Tak ayal hal tersebut menimbulkan gelombang protes, aksi demonstrasi dan gerakan boikot produk Prancis pun terjadi di berbagai belahan dunia, terutama negara-negara muslim.

Pernyataan Macron dianggap telah melukai umat Islam dan semakin memperkuat narasi Islamofobia yang terus berkembang di Barat. Sebelumnya, tahun 2016 Majalah Polandia, wSieci atau The Network, menerbitkan edisi kontroversial bertema “The Islamic rape of Europe”, dengan cover gambar perempuan yang memakai baju Uni Eropa sedang dilecehkan dan akan diperkosa oleh tangan-tangan berbulu halus, yang secara semiotik diartikan sebagai orang Islam.

Kasus serupa juga pernah terjadi, Charlie Hebdo yang merupakan majalah sayap kiri Prancis, menerbitkan karikatur anti-Islam, yang kemudian menimbulkan kemarahan di seluruh dunia Muslim. Karikatur tersebut diadopsi dari penerbitan surat kabar Denmark Jylllands Posten pada tahun 2006, yang juga memicu gelombang protes. Termasuk insiden mengerikan, penembakan oleh Brenton Tarrant yang menewaskan 51 Jema’ah Sholat Jum’at Masjid Al-Noor dan Linwood di Christchurch, Selandia Baru pada 15 Maret 2019.

Rangkaian peristiwa di atas menunjukan bagaimana jejak Islamofobia terus terjadi beranekaragam jenisnya. Hal itu diperkuat oleh data European Islamophobia Report (EIR) terkait gejala Islamofobia di Eropa yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Laporan 25 negara anggota Uni Eropa di Brussel, Belgia, merekam jejak Islamofobia di berbagai negara di Eropa sejak 2015. Dimana hasilnya, usai insiden penembakan di Charlie Hebdo, sentimen anti muslim di Prancis naik 500 persen. Dan korbannya 75 persen adalah perempuan, karena hijab yang dikenakan.

Mengenal Islamfobia

Secara bahasa, Islamofobia berasal dari kata Islam dan fobia (ketakutan berlebih). Istilah ini pertama kali diperkenalkan sebagai sebuah konsep dalam laporan Runnymede Trust Report tahun 1991, yang didefinisikan sebagai “permusuhan tidak berdasar terhadap umat Islam, dan ketakutan atau kebencian terhadap semua atau sebagian besar umat Islam”, atau secara singkat dapat diartikan sebagai sikap anti Islam. Istilah ini dirumuskan berdasarkan kerangka xenophobia (ketakutan dan kebencian terhadap orang asing), dimana dalam konteks ini adalah umat Islam Eropa pada umumnya.

Laporan tersebut juga didasarkan pada serangkaian pandangan bahwa:

  • Islam adalah agama monolitik (tunggal-kaku tanpa variasi) dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan realitaa-realitas baru.
  • Islam memiliki nilai-nilai yang berbeda dengan yang diajarkan agama-agama besar lainnya.
  • Islam adalah agama inferior dalam pandangan barat. Ia adalah agama yang kuno, biadab, dan tak rasional.
  • Islam merupakan agama kekerasan dan mendukung terorisme.
  • Islam adalah ideologi politik yang luas.

Sementara itu, Pusat Kajian Ras dan Gender Universitas California-Berkeley menyebutkan bahwa Islamofobia merupakan ketakutan atau prasangka yang direkayasa dan dipicu oleh struktur global yang bersifat Eropa sentris dan Orientalis. Ketakutan ini diarahkan pada isu bahwa orang-orang Islam adalah ancaman–baik berupa kesan maupun nyata–dengan mempertahankan kesenjangan yang ada di dalam hubungan ekonomi, sosial, politik, dan budaya, sembari melakukan rasionalisasi bahwa kekerasan perlu digunakan, sebagai cara melakukan “pembenahan peradaban” pada komunitas yang disasar, yaitu umat Muslim.

Baca Juga :   Toleransi, Penegakan hukum dan Kearifan lokal

Narasi Islamofobia menemukan momentumnya pasca tragedi ledakan di Gedung World Trade Center (WTC), New York, Amerika Serikat (AS) pada 9 September tahun 2001. Dalam perspektif Barat, peristiwa tersebut menjadi bukti atas fanatisme, dan ekstremisme Islam, juga sinyal bahwa Islam adalah agama teror, pembunuh, dan menyukai kekerasan. Peristiwa tersebut juga mendorong konsekuensi dan reaksi negatif terhadap Islam yang bergema hingga saat ini.

Bahkan beberapa Minggu setelahnya, Presiden George W. Bush menginstruksikan militer AS bersama puluhan sekutunya menginvasi Afghanistan dengan tujuan menghancurkan Al-Qaeda, dan kelompok pemberontak Taliban yang melindunginya. Dan Irak, negara yang tak berhubungan dengan peristiwa 9/11 juga menjadi korban dari arogansi invasi militer AS dengan tuduhan yang tak terbukti; mempunyai senjata pemusnah massal.

Munculnya Islamofilia

Meski gelombang Islamofobia seolah tak kunjung surut, namun Islam tak pernah kehilangan simpatisannya, kaum Islamofilia–orang yang menyukai Islam atau bersimpati pada Islam dan Muslim–bermunculan sebagai respon terhadap para pembenci Islam. Karen Armstrong misalnya, seorang Orientalis Inggris, bekas Biarawati, banyak menulis buku yang memuat pembelaannya terhadap Islam dan Muslim.

Armstrong mengatakan bahwa Nabi Muhammad sebagai seorang panutan yang hebat, membawa ajaran penting tidak hanya untuk Muslim, tetapi juga untuk orang-orang di Barat, “Dia adalah angin sepoi damai yang menenangkan Jazirah Arab yang sudah lelah oleh perang dan konflik, dan hari ini kita membutuhkan orang-orang yang siap mengambil peran seperti itu”. Pun menurutnya Islam bukan agama yang kecanduan perang dan memaksakan kehendak dengan pedang, kata ‘Jihad’ yang bermakna perjuangan banyak disalahpahami sebagai kata yang menakutkan.

Menurutnya juga, kelompok-kelompok ekstremis semacam ISIS, Al-Qaeda, dan sejenisnya yang kerap diasosiasikan pada ajaran Islam, tak memiliki jejak sejarah yang mendalam, melainkan berakar pada ideologi Wahabisme yang baru dipraktikkan di Arab Saudi pada abad ke-18, dan dibesarkan oleh pihak Kerajaan pasca Revolusi Iran 1979 dalam rangka menandingi eksistensi kelompok Syiah. Hal tersebut didasarkan juga pada pernyataan Parlemen Uni Eropa tahun 2013 yang menyebut Arab Saudi dan Wahabismenya sebagai sumber utama terorisme global.

John L. Esposito guru besar Centre for Muslim-Christian Understanding di Georgetown University, Washington DC, orang yang banyak mengkaji tentang Islam, dikenal sebagai pakar yang melihat Islam dan Muslim dengan objektif dan empati. Ia juga banyak mengupayakan harmonisasi hubungan Islam dan Barat melalui karya-karyanya, meski tak jarang menjadi target kemarahan kalangan Barat.

Esposito menilai Islam merupakan komponen signifikan dari identitas agama serta budaya secara global. Dan stereotip yang ditujukan pada Islam bagian dari kampanye yang dilakukan orang-orang yang gemar berpolemik, ideologis, dan memang memiliki agenda anti Islam. Termasuk ia menyoroti pemberitaan media AS dan Eropa dimana selama periode 10 tahun terakhir tak ada peningkatan mengenai pemberitaan umat Muslim sehari-hari, melainkan hanya yang negatif sehingga berkontribusi pada pertumbuhan Islamofobia.

Padahal menurutnya tindakan ekstremisme dan terorisme merupakan ketidakpuasan politik yang kerap berjalin-berkelindan dengan penyalahgunaan agama, dan itu ada pada semua agama, bukan hanya Islam. Mayoritas Muslim sering disamaratakan dengan jenis ekstremisme militan yang dipraktikkan oleh hanya sebagian kecil umat Islam, yang faktanya sebagain korban teroris itu justru umat Islam sendiri.

Baca Juga :   KAMMI Serang Serukan Boikot Produk Perancis dan Menggalakkan UMKM

Wajah Islam yang Damai

Data Pew Research Center (PRC) menunjukan bahwa pemeluk agama Islam terus mengalami peningkatan dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, dimana sejak tahun 1973 jumlah umat Islam di seluruh dunia naik sebesar 300%, dari 500 juta jiwa menjadi 1,57 milliar di tahun 2017. Bahkan Lembaga riset asal Amerika Serikat (AS) tersebut memprediksikan Islam akan menjadi agama terbesar di dunia pada 2075 seiring dengan terus bertambahnya kelahiran di keluarga Muslim. Termasuk beberapa negara di Eropa seperti Prancis, Jerman, Swedia yang terus melahirkan para mualaf, hal itu menjadi bukti bahwa di Barat Islam tak kehilangan peminatnya meski disudutkan dengan beragam stigma negatif.

Pada akhirnya, beragam sentimen dan framing dari kaum Islamofobia yang ditujukan pada Islam dan Muslim, yang mengatakan bahwa Islam merupakan agama yang ekstrem, kejam, gemar berperang, menolak demokrasi, bahkan agama misoginis yang merendahkan perempuan, harus kita lawan. Umat Islam harus menyampaikan pada dunia wajah Islam sesungguhnya dengan cara tampil dalam sikap, perkataan, dan perbuatan yang mencerminkan wajah persaudaraan yang damai.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat (QS. Al-Hujurat ayat 10). Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti (QS. Al-Hujurat ayat 13)”.

Muhammad Asad dalam The Message of The Qur’an, memberi ulasan tentang etika sosial yang terkandung pada QS. Al-Hujurat di atas, “Bermula dengan penghormatan yang ditujukan kepada Nabi (ayat 2-7) dan implikasinya, lalu atas kepemimpinan umat yang benar sesudahnya, prinsip persaudaraan di antara orang-orang beriman (ayat 10), dan disksursus puncaknya dalam pengertian: persaudaraan seluruh umat manusia (ayat 13).

Inilah yang mesti dipedomani muslim sedunia, bahwa keturunan, latar belakang sejarah, suku, bangsa tak boleh menghalangi bangunan persaudaraan Islam yang universal. Demikian halnya internal umat Islam, harus terus berbenah dengan menghentikan bergam pertikaian yang kerap dipicu syak wasangka, dan ego-ego sektoral. Berkomunikasi satu sama lain, agar pesan-pesan mulia dalam Islam tak menjadi angin lalu. Dengan begitu, umat Islam dapat mencapai identitas yang dicita-citakannya sebagai khaira ummah yang tampil sebagai golongan tengahan (ummatan wasathan), dan berperan sebagai syuhada a’alannas sehingga kehadirannya menjadi rahmat bagi semesta alam. Wallahu a’lam..

Referensi
Armstrong, K. L Esposito, J. dkk. (2018). Islamofobia Melacak Akar Ketakutan terhadap Islam di Dunia Barat. Bandung: PT Mizan Pustaka
Syafii Maarif, A. (2018). Krisis Arab dan Masa Depan Islam. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka
https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200423152502-269-496604/setahun-usai-teror-masjid-di-selandia-baru-kian-ramai-jemaah
https://www.republika.id/posts/10169/pertumbuhan-muslim-di-eropa-signifikan
https://m.republika.co.id/berita/pour71385/media-barat-islamophobia-getar-adzan-sekujur-bumi

TINGGALKAN KOMENTAR

1 × 3 =