BAGIKAN

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi (Peneliti Mercusuar Institute)

17 Agustus 1945 adalah tanggal yang sakral bagi bangsa Indonesia, dimana pada tanggal tersebut Proklamator Republik Indonesia, Soekarno dan Hatta mendeklarasikan sebuah negeri yang bebas dari tirani kolonialisme lahir dan bathin, Indonesia Merdeka.

Cita-cita kemerdekaan yang sudah sejak lama dinanti akhirnya tiba. Bertepatan dengan bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan dan di hari yang agung bagi umat Islam, hari Jum’at, kemerdekaan itupun menjadi niscaya. Kemerdekaan yang diraih dengan banyak tertumpahnya darah syuhada disetiap jengkal tanah air, yang tidak terhitung jumlahnya, dari Sabang sampai Merauke.

Buya Hamka menyebut, sejatinya negeri ini tidak ada sejengkalpun yang tidak dibasahi oleh darah syuhada, demi kemerdekaan yang hakiki. Beratus tahun kata sebagian sejarahwan, negeri ini tidak bisa lepas dari tirani kolonialisme Barat, Belanda. Namun meskipun demikian, tidak pernah henti pejuang bangsa, terus menanamkan keyakinan yang diwariskan turun-temurun hingga anak cucu, bahwa kita adalah bangsa yang terjajah, kita mesti melawan dan menjadi bangsa yang merdeka!

Adalah H.O.S. Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Abdul Moeis, Tan Malaka, Kiyai Hasyim Asy’ari, Kiyai Muhammad Dahlan, Syeikh Karim Amrullah, Muhamad Natsir, Soekarno, Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir dan segenap founding fathers, guru bangsa Republik Indonesia, memainkan peran penting dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia setelah luluh lantaknya Kesultanan-kesultanan di Nusantara, tak berdaya dihadapan kolonialisme. Awal abad ke-20 menjadi penanda perjuangan ditempuh dengan cara-cara yang baru, cara modern dalam berorganisasi. Sebuah harapan yang tidak pernah pupus, dengan retorika dan kecakapan dalam berorganisasi, katakanlah, H.O.S. Tjokroaminoto ibarat gunung meletus, yang meledakkan hakikat tentang kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga :   Undang-Undang Banten, Konstitusi Kesultanan Banten

Meskipun terdengar baru zaman itu, istilah nasionalisme seperti menjadi mantra magis yang membuat setiap orang bergejolak lahir dan bathinnya. Inilah katanya, Nasionalisme Indonesia, rasa kebangsaan rakyat yang terjajah, negeri yang hilang daulatnya. Hidup merdeka atau mati mulia, tidak lain adalah buah dari pohon iman dalam sanubari rakyat Indonesia, yang konon jauh sebelum Barat menemukan jalan ke Nusantara, masyarakat kepulauan ini sudah lama menjadi muslim. Islam sudah menjadi agama mayoritas bahkan jauh sebelum Barat di abad-18 tiba di Nusantara.

Bangsa Barat penjajah pun heran, katakanlah tatkala armada laut Spanyol yang sukses mengusir daulah Islam Umayyah di Cordova, tetiba di Nusantara, didapatinya agama Muhammad ini kata mereka, sudah menjadi mayoritas adanya, semua rakyatnya tidak makan babi dan minum arak, setiap lima waktu kumandang azan terus menggema, semakin dengkilah hati mereka. Dengki bahwa Nusantara sudah menjadi Muslim seutuhnya.

Prinsip kesamaan manusia dihadapan Tuhan yang menjadi spirit dalam ajaran Islam, menjadi palang pintu yang sulit dirobohkan bagi penjajah. Meskipun kedaulatan mayoritas Kesultanan di Nusantara telah dikebiri, jiwa merdeka tetap bersemayam dalam tiap diri.

Baca Juga :   Melacak Tarekat Syattariyah di Banten

75 tahun adalah usia yang cukup tua bagi manusia, tapi tidak bagi sebuah peradaban, angka ini barulah permulaan. Meskipun 75 tahun yang lalu bangsa ini mendeklarasikan dirinya merdeka, sejatinya kemerdekaan itu belum diraih seutuhnya. Butuh perjuangan untuk benar-benar mewujudkan kemerdekaan ini seutuhnya.

Masih banyak kita dapati anak-anak dinegeri ini yang tidak mendapatkan gizi yang baik. Masih banyak pemuda-pemudi bangsa ini yang sulit mencari kerja, masih banyak rakyat, segenap tumpah darah bangsa Indonesia yang masih sulit hidupnya. Apalagi dengan kondisi sekarang ini, bangsa Indonesia benar-benar diuji. Keterbelahan di masyarakat yang sering membuat gaduh, hutang negara yang entah kapan bisa dilunasi, jumlah pengangguran yang tinggi, kolonialisme gaya baru baik aseng maupun asing, benar-benar menjadikan negeri ini sudah jatuh dalam kuasa bangsa lain, sekali lagi.

Cita-cita besar tentang sebuah kemerdekaan yang membuat negeri ini, menjadi sejahtera belum tercapai agaknya. Bangsa ini mestilah melahirkan anak-anak pejuang pembela bangsa. Pejuang bagi kaumnya bangsa Indonesia, perjuangan ini belum selesai, mesti ada golongan dari bangsa ini yang rela berjuang melanjutkan tongkat estafet perjuangan, agar Indonesia merdeka seutuhnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

5 × 5 =