Ikhtiar Mengembalikan Kejayaan Banten, Manuskrip Banten di Belanda

Ikhtiar Mengembalikan Kejayaan Banten, Manuskrip Banten di Belanda

0
BAGIKAN
Foto: Mufti Ali, Ph.D. (Sejarawan Banten) /FN

Oleh: Mufti Ali, Ph.D
Peneliti Sejarah dan Kebudayaan Banten, Sultan Abul Mafakhir Institut (SAMI)

Seri Tulisan Menggali Khazanah intelektual Banten Masa Lalu di Belanda dalam Mendukung Ikhtiar Gubernur Mengembalikan Kejayaan Banten.

Manuskrip Banten di Belanda

Dalam prakata bukunya, Banten Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, seorang sejarawan besar Prancis, Claude Guillot (2008:11) , menyatakan bahwa ‘di antara beberapa keistimewaannya, Banten adalah negeri yang kaya sekali akan sumber-sumber sejarah.’ Pernyataan ini benar adanya bila kita berkunjung ke perpustakaan Universitas Leiden, National Archief Den Haag, the British Library London, atau Archives Nationales de France Paris atau bahkan ke Arsip Nasional (ANRI) di Jakarta, yang menyimpan berbagai jenis sumber-sumber sejarah Banten, terutama arsip dan manuskrip.

Sebagai salah satu universitas tertua di Eropa yang berdiri pada abad ke 15, Universitas Leiden merupakan salah satu universitas yang perpustakaannya menyimpan koleksi manuskrip nusantara terbanyak di dunia. 26 ribu manuskrip kuno dari Indonesia disimpan di perpustakaan universitas tertua di Belanda ini. dari 26 ribu manuskrip tersebut, 200 lebih di antaranya berasal dari Banten.

Manuskrip yang tersimpan di Banten tersebut memuat kajian berbagai disiplin ilmu dari mulai sejarah, tasauf, hukum tata negara, teologi, geografi, ekonomi, pertanian, tata bahasa, tafsir, fikih, dll. Manuskrip yang terdiri dari 20.000 halaman lebih ini adalah khazanah budaya dan intelektual Banten berharga yang memuat informasi dan pengetahuan menarik untuk dikaji.

Manuskrip bidang sejarah seperti Hikayat Hasanuddin, Babad Banten, Sadjarah Banten, wawacan syeikh Mansur, wawacan dari Tanara, dengan jumlah halaman bervariasi dari 542 sampai 45 halaman adalah koleksi manuskrip Banten paling banyak. 14 manuskrip tentang babad dan sadjarah Banten berada dalam tumpukan koleksi manuskrip Banten yang ada di Leiden. Kajian terhadap manuskrip ini telah mengantarkan putera Banten terbaik, Hussein Djajadiningrat mendapatkan gelar doktor dengan yudisium cum laude di usianya yang baru menginjak 26 tahun di Universitas Leiden pada tahun 1913.

Kesuksesannya mengkaji Sadjarah Banten ini membuatnya mendapatkan penghargaan dan menjadikannya putera Hindia Belanda pertama yang mengenyam pendidikan strata tiga di Belanda. Tahun penganugerahan gelar doktornya tahun 1913 dijadikan terminus untuk peringatan seratus tahun hubungan pendidikan dan kebudayaan Indonesia dan Belanda pada tahun 2013. Sebagai penghargaan akan sosoknya patung Hussein didirikan di Aula Universitas Leiden pada saat peringatan 100 tahun hubungan Belanda Indonesia bidang pendidikan tersebut.

Baca Juga :   Tb. Achmad Chatib dalam Revolusi Banten 1926

Undang-Undang Banten, ditulis dalam rentang waktu dua abad (17 dan 18) adalah manuskrip khazanah masa lalu Banten dalam bidang hukum dan tata kelola pemerintahan yang tidak ternilai harganya, yang termasuk dalam koleksi manuskrip Banten yang ada di perpustakaan Universitas Leiden. 5 bundel manuskrip dengan jumlah total 2.639 halaman ini adalah khazanah intelektual masa lalu Banten yang sangat berharga. Melalui pengkajian terhadapnya kita menjadi mengerti bagaimana kesultanan Banten dahulu sebagai sebuah emporium besar dengan mitra dagang dan aliansi politik internasional memiliki undang-undang, yurisprudensi, peraturan, dan acuan hukum dalam tata kelola pemerintahannya. Kajian terhadap undang-undang Banten secara filologis telah dilakukan oleh Ayang Utreza di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris, Perancis tahun 2008-2013.

Manuskrip kitab insan kamil, tentang manusia sempurna, karya Abdul Karim al-Jilli, yang digandrungi oleh Sultan ke-4 Banten, Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir, dua jilid dengan jumlah 1703 halaman dengan terjemah antar baris dalam bahasa jawa kuno Banten adalah salah satu khazanah kekayaan rohani dan intelektual Banten yang sangat berharga yang masih utuh dan bisa reproduksi dan dibaca isinya.

Kegandrungan Sultan dan para bangsawan Banten untuk mempelajari ajaran tasawuf memberikan pelajaran bagi kita tidak hanya informasi bahwa kejayaan dan kemakmuran material berjalan seiring dengan perhatian terhadap ketahanan rohaniah dan spiritual tetapi juga bahwa para Sultan Banten tersebut memiliki visi kuat untuk terlibat dalam memahami wacana-wacana keislaman tingkat tinggi sebagaimana yang sedang aktual dibicarakan saat itu di pusat-pusat kekuasaan Islam.

Diantara koleksi manuskrip Banten di Leiden yang membanggakan adalah 12 pucuk surat para sultan Banten abad ke-18 dan awal abad ke-19 kepada Gubernur Jenderal Belanda. Kondisi surat-surat yang bermotif daun cengkeh, bertinta emas, dan berstempel indah yang dicetak di atas kertas Eropa terbaik pada masanya tersebut masih utuh dan bisa dinikmati keindahan tulisannya. Keindahan surat-surat Sultan Banten dan kerapihan dalam tata kelola administrasi pemerintahannya telah membuat kagum seorang peneliti manuskrip Asia dari Oxford University Inggris, Annabel Teh Gallop. Kekagumannya membuatnya terus meneliti tidak hanya surat-surat Sultan Banten tetapi juga stempel dan kertas suratnya.

Baca Juga :   Doa Perang Sabil Syeikh Asnawi Caringin di Peci KH TB Achmad Chatib

62 surat Sultan Banten dan 150 stempel kesultanan Banten telah ia kaji. Kajian terhadap surat-surat dan stempel kesultanan Banten pada tahun 2003 ini telah membuatnya dipercaya oleh Pemerintah Inggris untuk menjadi kepala kurator manuskrip asia Tenggara di British Library.

Surat-surat Sultan Banten yang disimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda dan berbagai lembaga di Inggris, Perancis, Denmark, Rusia, menunjukan intensitas hubungan internasional kesultanan Banten dengan berbagai emporium di seluruh dunia. Kegigihan dalam menjalankan perdagangan internasional dan memperkuat aliansi politik dan pertahanan dengan emporium-emporium besar di seluruh dunia.

Asal Usul Manuskrip Banten di Leiden

Pada tanggal 11 juli 1906, Snouck Hurgronje, seorang orientalis legendaris Belanda, yang baru tiba di Leiden dari Hindia Belanda berkirim surat kepada kolega nya, M.J. de Goeje, seorang kurator manuskrip di perpustakaan Universitas Leiden.

Snouck menjelaskan bahwa manuskrip tersebut ia dapatkan dari seorang pejabat pribumi di Serang tahun 1890 dan Snouck menyimpannya selama 16 tahun di kantor tempat tugasnya di Batavia. Manuskrip tersebut menurut Snouck disimpan di kantor bupati Serang dan merupakan ‘harta rampasan’ yang diambil pasukan Belanda saat menduduki Surosowan. Kondisi manuskrip saat itu dalam kondisi memprihatinkan. Sebagian lembaran-lembarannya robek, berdebu dan tulisannya sebagian sulit dibaca karena sebagian tintanya memudar.

Saat Snouck kembali ke Belanda pada awal tahun 1906, 1 peti besar berisi manuskrip-manuskrip Banten yang dibawanya dari Hindia Belanda diberikan ke perpustakaan Universitas Leiden, demikian riwayat asal usul manuskrip Banten di Leiden.

Membawa Kembali Manuskrip Banten

Ikhtiar Gubernur Banten untuk membawa kembali sumber-sumber sejarah Banten termasuk manuskrip di Belanda patut diapresiasi. 200 lebih manuskrip Banten di Belanda adalah kekayaan intelektual dan khazanah kebudayaan yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk bahan pengetahuan dan referensi nilai dan moral. 20.000 lebih halaman manuskrip tersebut bila dikaji dan hasil kajiannya disebarluaskan ke masyarakat Banten akan memberikan dampak besar pada pembangunan moral dan spiritual masyarakat Banten.

Di tengah arus modernisasi dan globalisas serta era disrupsi informasi, menggali pengetahuan dari sumber-sumber khazanah intelektual dan kultural masa lalu Banten harus terus digalakan agar jati diri dan identitas kebantenan kita memiliki fondasi dan akar yang kokoh.

JIS/FN

TINGGALKAN KOMENTAR

seventeen − three =