Hari Pahlawan, KAMMI Gelar Diskusi Sejarah Perjuangan Rakyat Tangerang Selatan

Hari Pahlawan, KAMMI Gelar Diskusi Sejarah Perjuangan Rakyat Tangerang Selatan

0
BAGIKAN

Tangerang Selatan – Memperingati hari Pahlawan, PD KAMMI Tangerang Selatan menggelar diskusi bertajuk “Napak Tilas Perjuangan Rakyat Tangerang Selatan dalam Kemerdekaan”, Rabu (11/11/2020) di Kafe Sembilang Cilenggang, Serpong.

Dalam kesempatan tersebut hadir Asda III Tangsel, Teddy Meiyadi dan Budayawan, Tb. Sos Rendra sebagai narasumber utama diskusi.

Teddy Meiyadi berpesan kepada para peserta agar anak muda mengambil nilai dan hikmah dari sejarah.

“Anak muda tidak melupakan sejarah, mengutamakan agama di mana pun berada, serta melek terhadap perkembangan teknologi. Teknologi yang dilakukan berdasarkan sejarah dan agama akan menghasilkan sesuatu yang bernilai,” ucapnya.

Arsandi, Ketua PD KAMMI Tangerang Selatan berharap warisan sejarah dapat diperkuat dengan adanya Perda yang mendukung pelestarian budaya sebagai upaya mengingat sejarah.

“Pelestarian situs bersejarah sudah diatur dalam Undang-undang no 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Sayangnya, di Tangsel masih ada beberapa situs bersejarah yang belum terurus dengan baik. Dulu pernah ada pembahasan Perda Cagar Budaya tapi sampai hari ini belum juga terealisasi. Harusnya situs bersejarah ini dapat diperkuat dengan adanya Perda. Diusia kota Tangsel yang hampir genap 12 tahun, berharap kedepan lebih peduli terhadap sejarah karena sejarah adalah identitas bangsa, sejarah juga memperkuat karakter bangsa,” ungkapnya.

Baca Juga :   Ini Kritik dan Evaluasi KAMMI Tangsel terhadap Kepemimpinan Jokowi-JK

Ahmad Kurniawan, Staf Kebijakan Publik PD KAMMI Tangsel juga menyoroti krisis identitas kota Tangerang Selatan.

“Sangat miris pemkot Tangsel telah menjadikan anggrek Vanda douglas sebagai icon Tangsel berbanding terbalik dengan kondisi 70% lahan yang sudah dipenuhi oleh perumahan serta belum ada usaha yang kongkrit dari pemkot untuk melestarikan anggrek tersebut. Kenapa tidak menjadikan simbol sejarah perjuangan rakyat Serpong ini sebagai iconik kota Tangsel?, harusnya dilibatkan para sejarawan, budayawan agar Tangsel ini punya ikon kebanggaan,” tegas Ahmad Kurniawan.

Dalam kesempatan itu, Budayawan Tb. Sos Rendra owner ‘Tangsel Ada Sejarah’ menceritakan kisah heroik perjuangan rakyat serpong dalam mempertahankan kemerdekaan.

Indonesia telah merdeka sejak tahun 1945. Namun di tahun 1946 daerah Serpong masih diduduki oleh tentara NICA (Nederlands Indies Civil Administration) bersama pasukan sekutu yang bermarkas di PTPN Cilenggang. Rakyat Serpong ketika itu merasa risih dengan kehadiran para tentara NICA. Kemudian Lurah HM Yusuf meminta bantuan KH Ibrahim untuk mengusir tentara NICA dari tanah Serpong. Di bawah pimpinan KH Ibrahim Laskar Rakyat Banten mulai bergerak dari Rangkasbitung, Lebak, bergabung rakyat Cisauk, Serpong, Lengkong, Cicayur dan sekitarnya menyerbu pasukan Belanda di wilayah Cisauk.

Baca Juga :   Mahasiswa Banten se-Indonesia, Gelar Silatnas

Pertempuran berdarah itu terjadi saat bulan puasa, Kamis 26 Maret 1946 pukul 8 pagi. Ratusan pahlawan gugur di Medan pertempuran. Jasad para pahlawan yang ada di TMP Seribu Serpong ini, sebelumnya telah dimakamkan lokasi pertempuran pertigaan Cisauk. TB Sos Rendra meyakini sebanyak 700 pahlawan gugur di medan pertempuran.

“700 pahlawan gugur, termasuk KH Ibrahim. Mereka dimakamkan dalam dua lobang satu lobang untuk KH Ibrahim dan satu lobang untum 699 pasukan yang dimakamkan secara massal,” tuturnya. (MAS)

TINGGALKAN KOMENTAR

one + 11 =