Guru SMA IT Latansa Cendekia Bagikan Tips Praktikum IPA di Rumah saat...

Guru SMA IT Latansa Cendekia Bagikan Tips Praktikum IPA di Rumah saat Social Distancing

0
BAGIKAN
Foto: Budiman Prastyo

Tangerang – Semenjak penyebaran COVID-19 telah diberlakukan Work From Home atau viral tagar #dirumahAja. Pada beberapa aktivitas memang terdapat pembatasan dalam aktivitasnya, terutama dalam dunia Pendidikan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud) menginstruksikan kepada instansi Pendidikan untuk mengadakan pembelajaran dari rumah. Bahkan beberapa kementerian juga menerapkan pembatasan sosial berskala besar dengan mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Kementerian Kesehatan. Misalnya untuk saat ini daerah Jabodetabek.

Pembatasan sosial untuk beberapa aktivitas harus dilakukan dengan sistem daring yang dalam prosesnya ditemukan kendala-kendala. Contohnya, pada pembelajaran berbasis praktikum dinilai hampir mustahil dilakukan. Pasalnya, praktikum membutuhkan alat dan bahan yang terdapat di laboratorium sekolah.

Kini, guru atau wali murid yang sedang mengajar di rumah sekarang tidak perlu khawatir. Guru SMA IT Latansa, Budiman Prastyo membagikan salah satu alternatif melakukan aktivitas praktikum kimia di rumah. Pembelajaran pada praktikum ini didasarkan juga dari arahan Kemendikbud yaitu pencegahan COVID-19 melalui instansi pendidikan.

Praktikum dilakukan dengan mengambil tema mengenai pencegahan penularan COVID-19 menggunakan masker.

Akhir-akhir ini, Kemenkes mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk menggunakan masker saat berpergian, baik itu sehat maupun dalam keadaan yang tidak fit.

Beberapa kali juga mengalami revisi dan kini terakhir Kemenkes mengunggah imbauannya pada revisi ke-4 tanggal 27 Maret 2020. Dalam imbauan tersebut penggunaan masker dilakukan bertujuan menghindari penularan melalui droplet (percikan).

Dalam ilmu kimia, droplet ini merupakan salah satu bentuk dari cairan koloid, yaitu aerosol cair. Materi kimia aerosol ini juga terinspirasi dari penelitian yang akhir-akhir ini viral yaitu riset dari Dr.dr. Budi Laksono, MHSc, dari Universitas Diponegoro, yang melakukan simulasi batuk menggunakan uji spray pada masker buatannya.

Dr. Budi Laksono mengusulkan masker (masker kain biasa) berlapis tisu yang dinilai lebih efektif menangkap droplet, ini sudah melalui serangkaian uji menurut laman Instagram Undip.official. Usulannya ini dinilai lebih terjangkau masyarakat umum dibanding sebelumnya Universitas Diponegoro juga merilis penciptaan masker nanofilter yang hanya dapat diakses oleh tenaga medis saja.

Baca Juga :   BNPT dan FKPT Banten: Literasi Informasi Upaya Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

Baik, untuk lebih memahami praktikum ini lebih jauh, mari kita mengenal materi, alat, bahan dan teknis pelaksanaannya.

Apa aitu Koloid?

Koloid merupakan zat yang mengalami dispersi (zat terdispersi) melalui medium zat lainnya (disebut medium pendispersi). Misalnya suatu zat cair yang terdispersi oleh fase zat padat (pendispersi) akan menjadi Gel. Untuk zat cair zat cair atau padat, apabila terdispersi oleh fase gas akan menjadi Aerosol (disebut juga Aero-Solution).

Jika fase terdispersi itu zat cair, maka menjadi aerosol cair. Sedangkan, jika fase terdispersi itu zat padat, maka menjadi aerosol padat. Pada kesempatan kali ini, jenis aerosol yang akan kita angkat menjadi materi praktikum koloid adalah jenis aeorol cair, atau dalam kehiduoan sehari-hari dapat berupa droplet.

Droplet yang dimaksud pada artikel ini merupakan percikan cairan liur yang bisa dikeluarkan dari saluran pernapasan melalui batuk atau bersin. Artinya, droplet yang dimaksud World Health Organization (WHO) dapat menjadi medium penularan COVID-19 yaitu droplet yang mengandung virus corona.

Percikan atau droplet tersebut melayang-layang dan bisa juga jatuh ke permukaan benda dengan virus yang masih aktif. Jadi, dapat kita ketahui bahwa virus tersebut terdapat pada medium aerosol yang dihasilkan dari batuk, bersin atau aktivitas lainnya yang dapat menyebabkan percikan.

Pada tanggal 6 April 2020, WHO secara khusus menganjurkan untuk menggunakan masker guna pencegahan virus corona, yang akhirnya kini diwajibkan di Indonesia.

Untuk alat dan bahan yang digunakan cukup sederhana, di antaranya: Masker (bisa masker kain dan sebagainya), botol semprot (bisa botol spray atau botol parfume), sendok teh, air bersih dan tisu.

Baca Juga :   IDRI Banten Gelar Seminar Nasional Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI)

Ada dua pelaksanaan pengujian, pertama ada pengujian kualitatif, dilakukan dengan praktikan mengenakan masker, kemudian disemprotkan dari jarak 1,5-2 meter menggunaan air (pada botol spray).

Praktikan akan menilai bagaimana perbedaan antara menggunakan masker dengan tanpa mengenakan masker saat disemprotkan air menggunakan botol spray. Aerosol pada hasil semprotan ini merupakan simulasi bersin (droplet). Perhatikan gambar berikut ini!

Foto: Ilustrasi

Gambar 1. Uji kualitatif kemampuan masker dengan penyemprotan pada pengguna masker (bawah) dengan tanpa masker (atas).

Kedua, ada pengujian kuantitatif, dilakukan seperti pada gambar berikut ini,

Foto: Ilustrasi

Gambar 2. Percobaan perbandingan penyemprotan droplet dengan tisu dilindungi masker (atas) dengan tanpa dilindungi masker (bawah)

Praktikan menyemprotkan air, sebagai simulasi bersin ke arah masker dengan jarak 1,5-2 meter, kemudian praktikan mengamati tisu yang berada di belakang masker. Tisu di sini berfungsi sebagai detektor air, untuk menjerap droplet yang lolos dari tangkapan masker.

Praktikan selanjutnya bisa membandingkan ketika air disemprotkan langsung ke arah tisu tanpa adanya perlindungan masker dengan adanya perlindungan masker.

Praktikan juga bisa menghitung berapa banyak cairan droplet yang ditampung pada tisu, pada masing-masing percobaan. Untuk menghitung berapa milliliter air pada tisu dapat menggunakan sendok teh sebagai alat ukur sementara. Ukuran satu sendok teh ini kira-kira 5 ml.

Memang, perhitungan seperti ini dinilai kurang akurat. Namun, setidaknya perhitungan ini dapat dijadikan alternatif sementara untuk pengukuran. Setelah memperoleh kesimpulan, harapannya siswa dapat menyadari pentingnya menggunakan masker sebagai penghalang droplet yang mengandung virus guna pencegahan COVID-19.

Pada intinya kita bisa menciptakan eksperimen sederhana materi pelajaran apapun di rumah asalkan aman dilakukan. (FN)

TINGGALKAN KOMENTAR

4 × 4 =