Elegi Perdamaian Untuk Suriah

Elegi Perdamaian Untuk Suriah

0
BAGIKAN

Oleh : Cendhy Vicky Vigana (Pegiat Politik Internasional FORMACI)

Banteninfo (opini)- Ban Ki-Moon merasa kecewa dengan PBB, yang dinilai kurang memiliki komitmen menyangkut isu perdamaian di Suriah. Menurut Ban, kekacauan dunia saat ini bukan disebabkan oleh warganya, melainkan oleh para pemimpin dunia yang lebih memikirkan persoalan kepemimpinan di PBB sendiri seta hubungan Amerika dan Rusia yang tengah memanas.
Aleppo sudah hancur. Krisis kemanusiaan bertambah parah. Hal ini diperburuk dengan perebutan kekuasaan antara pemerintah dan pasukan pemberontak yang mencoba untuk mengambil alih kekuasaan. Begitu pun persoalan mengenai NIIS tak kunjung mereda.
Beberapa bulan lalu sekitar 230 warga sipil tewas di Aleppo. Serta diperkirakan telah menewaskan lebih dari 300.000 orang. Jutaan warga Suriah terpaksa bersusah payah untuk mengungusi ke banyak negara, yang disinyalir aman untuk berteduh dan bertahan hidup. Ditambah dengan beberapa negara Eropa yang enggan dan berat menerima pengungsi dari Suriah. Dengan berbagai alasan.
Meskipun usaha gencatan senjata antara Amarika dan Rusia—menurut berbagai sumber— bersifat sementara. Setidaknya hal itu dapat memberikan sedikit waktu bagi warga Suriah untuk “menarik nafas”. Juga agar orang-orang bisa berfoto membuat kenang-kenangan untuk mengenang mereka dimasa yang akan datang. Serta melanjutkan “pelarian”, menghindari perang.
Perang belum usai. Lalu apa alternatif yang kita dapat berikan untuk meredakan bunyi genderang perang ini ?
Nada sebagai jeda
Musik sebagai prototype perubahan, sarana mediasi, dan upaya pencegahan dalam bencana, konflik, dan perang bukanlah hal yang baru. Dalam film dokumenter berjudul Searching For Sugar Man, Sixto Rodroguez, digambarkan sebagai musisi Detroit, Amerika, yang berhasil menginsiprasi perubahan di Afrika Selatan lewat album yang ditulisnya. Tanpa dirinya sendiri mengetahui hal tersebut. Perubahan tersebut adalah disetarakannya kulit hitam dan kulit putih.
Karena hampir semua album Sixto Rodroguez di Amerika tidak laku dijual. Menurut Clarent Event, albumnya hanya laku ‘enam’ di Amerika Serikat. Tetapi itu tidak membuat karyanya hilang dari muka bumi. Justru sebaliknya, dengan ajaib karyanya “berlabuh” sampai Afrika Selatan.
Entah bagaimana caranya, karya tersebut mendapat sambutan hangat, dan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk melakukan perubahan sosial-politik. Disini musik sebagai alternatif bagi kegamangan titik temu antara masyarakat dan negara. Serupa dengan kisah tersebut, Prammodya Anantatoer mengatakan,”buku-buku saya seperti anak saya, yang mempunyai jalan dan takdirnya sendiri.” Begitulah kisah ajaib antara karya dan musik Sixto Rodriguez.
Bob Marley dapat menjadi contoh kongkret lainnya, ketika ia membuat sebuah konser berjudul One Love Peace Concert yang diselenggarakan pada 22 April 1978 bertempat di The National Stadium in Kingston, Jamaika.
Konser tersebut sangat bersejarah karena berhasil mendamaikan dua kubu politik yang selalu bersitegang di Jamaica. Antara Jamaican Labour Party yang dipimpin oleh Edward Seaga dan the People’s National Party yang dipimpin oleh Perdana Menteri Michael Manley.
Bob Marley menjadi mediator politik, karena membuat Michael Manley dan Edward Seaga saling berjabat tangan demi Jamika, pasca konflik besar-besaran. Sementara Bob berdiri di tengah, merangkul mereka berdua.
Selain itu terdapat kisah unik lainnya, yaitu pada tahun 1944 terjadi peristiwa langka dimana antara prajurit Amerika dan prajurit Jerman saling melupakan perang demi merayakan malam Natal. Peristiwa ini digambarkan lebih lanjut dalam film Silent Night (2002), dimulai dari seorang prajurit yang memaikan lagu Natal dan akhirnya mereka saling balas-membalas meneruskan lagu tersebut sampai selesai.
Kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk melakukan gencatan senjata, hanya untuk di malam Natal. Setelah perjanjian gencatan senjata tersebut, mereka saling bertukar minuman dan menari bersama.
Inisiasi gencatan senjata tersebut dapat dimaknai—yang menurut Immanuel Kant jika diterjemahkan—sebagai suara hati. Yang menolak mengatakan, kau harus membunuh. Karena pembunuhan dalam kondisi perang adalah keniscayaan.
Bahwa dalam kondisi berperang, mereka masih mempunyai sisi humanitas dan religiusitas yang tidak hilang dan mengetuk hati mereka.Meskipun mereka saling berperang, cahaya-cahaya Ilahi menyertai mereka lewat lagu Natal. Peristiwa tersebut seharusnya dapat menjadi pelajaran bahwa keberagaman dan keber-agama-an dalam kondisi perang bukanlah hal yang mustahil untuk melakukan perdamaian. Meskipun hanya sementara.
Pada 1990 Scorpions merilis album berjudul Crazy World. Lewat album ini nama Scorpions meledak dan meraih puncak kesuksesan, karena terdapat lagu fenomenal yang berjudul Wind of Change. Lagu Wind of Change merefleksikan perubahan politik di Eropa Timur: runtuhnya tembok berlin dan hancurnya Uni Soviet sebagai rezim Komunis.
Lewat lagu ini Scorpions ingin memberikan harapan bahwa peperangan telah berakhir, dan bencana kemanusiaan telah berhenti. Tidak ada nyawa lagi yangh harus jatuh karena politik dan ideologi. Sehingga semua dapat bersaudara. Dan mimpi semua manusia dapat terwujud.
Bencana kemanusiaan dan lagu
45 musisi pop yang menyebut diri mereka USA for Africa (United Support of Artists for Africa) pernah membuat single dengan tujuan amal untuk penanggulangan kelaparan dan krisis kekeringan di Ethiopia pada 1984-1985.
Artis dan penyanyi Amerika juga pernah melakukan kegiatan amal untuk korban gemba bumi yang menimpa Haiti pada 2010, dengan membuat singel lagu yang sama dari Michael Jackson dan Lionel Richie berjudul We Are the World 25 for Haiti.
Bencana alam yang mengakibatkan bencana kemanusian ini membuat para penyanyi terketuk hatinya untuk membantu mereka keluar dari krisis. Dimana hasil penjualan lagu tersebut akan didonasikan untuk dibelikan bantuan yang dibutuhkan oleh korban di Haiti.
Jika di Haiti korban kemanusiaan adalah akibat dari bencana alam, di Suriah karena perang. tentu tidak ada alasan politik yang menyebabkan bencana manusia di Haiti. Bencana alam, khususnya gempa bumi sulit untuk diprediksi.
Akan tetapi seharusnya bencana kemanusiaan yang menimpa di Suriah dapat di cegah atau di minimalisir dengan menguatnya peran dari pihak yang tidak terkait dalam campur tangan urusan politik.
Musisi, seniman, penyair, dll dapat andil dalam hal ini. Karena bencana kemanusiaan tetaplah bencana kemanusiaan, terlepas dari sebabnya. Iktikad baik demi kemanusiaan ini dapat menjadi contoh bahwa bencana kemanusiaan, kapan, dimana, dan untuk siapa tidak dapat menjadu alasan untuk berbuat baik dan membantu sesama. Bukankah kita,“we are the world? we are the children of the world?
Bimbo untuk Suriah
33 tahun yang lalu Bimbo, lewat album Bimbo 84 (terdiri dari sepuluh lagu) yang dirilis pada tahun 1984, Bimbo menawarkan kritik sosial kepada para pendengar. Dengan lagu utamanya ialah Antara Kabul dan Beirut, Bimbo memberikan tema segar yang tidak lazim dalam karyanya, yaitu anti peperangan dan anti perlombaan senjata nuklir.
Bersama album tersebut, Bimbo menyerukan elegi kritis, bertolak dari adanya: perlombaan senjata nuklir pada saat perang dingin, gejolak perang di Timur Tengah, dan kengerian bahaya nuklir dari peristiwa pengeboman Hirosima, yang terdapat pada lagu Musuuno Hiroshima.
Setelah “Antara Kabul dan Beirut”, kini Suriah kembali menjadi sorotan dunia pasca Amerika Serikat dan Rusia sepakat untuk melakukan gencatan senjata dan menghentikan aksi militernya di Suriah mulai 12 September 2016. Perjanjian ini merupakan buah kesepakatan dari pertemuan“Yang Mulia” Menteri Luar Negeri AS John Kerry dengan“Yang Mulia” Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Jenewa, Swiss. Perjanjian tersebut pengecualian dalam menghadapi Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS).
Meminjam kata dari salah satu lagu Bimbo, “hymne perang berlagu kencang” yang telah dikumandangkan sejak 2011 ini, harus diganti menjadi elegi berkabung atas bencana kemanusiaan yang tak ternilai. Dengan dolar atau banyaknya sumber daya minyak di Timur Tengah.
Menarik disimak bahwa, lirik dari judul lagu Surat Buat TN Reagan dan TN Andropov— mempunyai relevansi dengan apa yang terjadi di Suriah saat ini. Lirik tersebut berbunyi:
Yang mulia tuan Reagen dan tuan Andropov/diri anda berdua orang tua terhebat di dunia/dan hanya dengan satu kata dari anda berdua/dunia bisa berobah/…………..
bersama surat ini kami ingin usut sebelum perang dunia ketiga/berikan pengumuman terlebih dahulu/agar orang orang bisa berfoto/membuat kenang-kenangan/untuk mengenang mereka/dimasa yang akan datang dan juga mengenang anda
Mungkin untuk kali ini, lagu tersebut bukan untuk “Yang mulia tuan Reagen dan tuan Andropov”, tetapi Donald Trump (AS) dan Vladimir Putin (Rusia). Mengingat bahwa sentralnya peran antara Amerika Serikat dan Rusia dapat mencegah peperangan dan timbulnyan korban jiwa lebih lanjut.
Bimbo bermaksud memberitahukan, bahwa kengerian perang dunia dikhawatirkan oleh seluruh umat manusia di dunia. Perang boleh dimana saja, tetapi trauma akan perang menyelimuti seluruh dunia. Karena hampir di setiap jengkal belahan dunia pernah merasakan dampak destruktif dari perang.
Selain itu terlepas dari siapa dan pihak mana saja yang berperang—entah NIIS, pro pemerintah, kubu oposisi, Amerika Serikat, Rusia,dll—kita semua menanggung implikasi yang dihasilkan. Setidaknya banyak negara ikut serta dalam menampung pengungsi yang berasal dari Suriah.
Jika peperangan diselesaikan dengan peperangan juga. Atau minimal dengan kekerasan, niscaya terdapat “dendam” yang masih membekas bagi pihak yang kalah. Alternatif meredakan konflik salah satunya dapat lewat jalan musik. Dalam situasi yang chaos ini musik dapat mengetuk suara hati para pihak yang bertikai, tanpa harus meyinggung mereka. Neitzsche mengingatkan kita bahwa “without music, life would be an error”. Selain itu “satu hal yang baik tentang musik, ketika menyentuh anda, tidak akan ada rasa sakit” ucap Bob Marley. Terlebih lagu yang dibuat oleh Bimbo dapat tertuang menjadi “surat ajaib”.
Karena musik mempunyai bahasa universal tersendiri, yang mampu menembus batas teritorial negara dan melampaui ideologi serta kepentingan yang mencekam. Memang musik jauh lebih lembut dari pangkal peluru. Lebih merdu dari deru mesiu. Lebih enak dan perlu didengar dari racauan politik yang penuh kepentingan.
Serta mengapa tidak para musisi dunia memberikan respon bersama untuk Suriah. Seperti apa yang pernah dilakukan ketika Haiti di guncang gempa besar
Siapa yang akan jadi pahlawan dari konflik ini? Koalisi? Oposisi? atau fundamentalis seperti NIIS? Kehancuran atau kebangkitankah yang dapat di raih oleh negara Suriah? Akankah Bimbo kembali menulis “syair khusus” dan piringan hitam, yang bukan untuk Amerika serta Rusia saja? Ataukah elegi berkabung itu disampaikan ke PBB?
Meminjam lirik kalimat dari lagu Surat Buat TN Reagan dan TN Andropov,“sekian opini ini maaf bila ada yang salah, hormat saya penulis.”

Baca Juga :   Membangun Sinergi Gerakan Untuk Indonesia Yang Lebih Baik

TINGGALKAN KOMENTAR

sixteen + 20 =