Doa Perang Sabil Syeikh Asnawi Caringin di Peci KH TB Achmad Chatib

Doa Perang Sabil Syeikh Asnawi Caringin di Peci KH TB Achmad Chatib

0
BAGIKAN
Foto: Dr. Mufti Ali (kiri) dan Prof. Nico Kaptein (kanan)

Oleh: Mufti Ali, Ph.D  (Direktur Sultan Abul Mafakhir Institut/SAMI)

Serang – Ketika penulis melaksanakan tugas dari Gubernur Banten untuk merekapitulasi sumber-sumber sejarah Banten di Belanda 7-17 Februari 2020 yang lalu, dalam inventory koleksi spesial perpustakaan Universitas Leiden, penulis menemukan 50 halaman arsip rahasia tentang Syeikh Asnawi Caringin dan KH TB Achmad Chatib, diantara ribuan halaman catatan arsip yang ditulis Gubernur Jenderal dan pejabat pemerintah kolonial lainnya kepada Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda yang memainkan dua peran: sebagai akademisi dan sekaligus penasehat politik kementerian kolonial, termasuk Gubernur Jenderal dan pejabat tinggi kolonial lainnya. 50 halaman arsip rahasia pemerintah kolonial tentang dua tokoh besar Banten (awal) abad dua puluh itu adalah arsip catatan Asisten Wedana Munjul, jaksa Pandeglang, Hakim Pengadilan di Serang, penghulu kepala PA Serang (Rd. Muhammad Isa), Bupati Serang, Residen Banten, Penasehat urusan pribumi, dan Gubernur Jenderal antara November 1926 – April 1927 terkait dengan catatan rahasia terkait peran penting Syeikh Asnawi dalam peristiwa pemberontakan melawan Pemerintahan Kolonial. Arsip catatan tersebut juga berisi keputusan Gubernur Jenderal untuk memberikan hukuman interneering (atau penahanan dan pembuangan) Syeikh Asnawi ke Batavia dan Cianjur dan penahanan Kh. Achmad Chatib di Batavia.

Dalam dossier arsip Syeikh Asnawi Caringin tersebut terselip tiga lembar salinan jimat (doa) perang sabil yang ditulis Syeikh Asnawi Caringin. Jimat tersebut ditemukan oleh marsose Belanda di peci menantunya, KH TB Achmad Chatib, yang merupakan salah satu pucuk pimpinan peristiwa pemberontakan tersebut. Tiga lembar salinan jimat tersebut memuat dua bagian: jimat besar dan jimat kecil. Bahasa asli jimat tersebut adalah bahasa Arab dengan tulisan Arab. Penulis mendapatkan salinan terjemahannya dalam bahasa Melayu dan tulisan latin. Penyalin dan penterjemah jimat Syeikh Asnawi tersebut tidak lain adalah seorang Penghulu Kepala (hoofdpenghulu) Serang, Rd. M. Isa.

Pemberontakan 1926

Sudah umum diketahui bahwa KH TB Achmad Chatib merupakan salah satu pucuk pimpinan dalam peristiwa yang dikenal dengan pemberontakan 1926. Pemberontakan ini dianggap sebuah mobilisasi masa yang massif di hampir seluruh wilayah Banten dengan Labuan dan Menes sebagai epicentrum-nya. Kalau saja Pemerintah Kolonial Belanda tidak berhasil mendeteksi eskalasi pemberontakan lebih awal, mungkin pemberontakan KH TB Achmad Chatib, Puradisastra, TB. Alipan, Achmad Basaif, yang mulanya memilih epicentrum-nya di Serang ini akan menjadi peristiwa yang akan mengubah jalannya pemerintahan kolonial di Pulau Jawa.

Seminggu sebelum meletusnya pemberontakan ini pada 12 November 1926, KH TB Achmad Chatib, Puradisastra, Achmad Basaif, dan TB Alipan diciduk di Serang dan langsung ditahan di Batavia. Rencana pusat kendali pemberontakan di Serang gagal, maka kemudian pucuk pimpinan diambil alih oleh Buya Moekri Karabohong Labuan dan Kiai Emed, salah seorang putera Syeikh Asnawi Caringin. Pemberontakan meletus pada malam tanggal 11 November 1926 diawali dengan doa perang yang dipimpin oleh Buya Moekri di sebuah lapangan di Bama Labuan di hadapan lebih dari 1300 milisi.

Baca Juga :   Ikhtiar Mengembalikan Kejayaan Banten, Manuskrip Banten di Belanda

Pemberontakan pun meletus. kantor-kantor Gubernemen dibakar, dan pejabat Belanda dan pribumi dihabisi. Eskalasi meluas tidak hanya di Labuan tetapi juga di Menes, Petir, Rangkasbitung, Cadasari, Baros dan Karundang. Setelah dua hari meletus pemberontakan, Pemerintah Kolonial Belanda melakukan aksi penumpasan besar-besaran. Ribuan orang ditahan dan dikumpulkan di alun-alun Pandeglang dan Menes. 5 orang dihukum gantung, lebih dari 100 orang dibuang ke tahanan Boven Digoel Papua (Barat), ribuan orang dipenjara di Pandeglang, Serang dan Jakarta. Syeikh Asnawi, sebagai tokoh spiritual pemberontakan, yang dianggap berperan penting dalam konsolidasi dan militansi massa, juga turut ditahan beberapa bulan di Batavia dan kemudian hampir 24 bulan di tahan di Cianjur. KH Achmad Chatib, bersama dengan 100 lebih pejuang Banten lainnya dibuang ke tahanan neraka Boven Digoel, dan mendekam di sel tahanan di tengan hutan selama lebih dari 17 tahun. Dibebaskan saat awal pendudukan Jepang pada maret 1942.

Salinan Jimat Besar

Bismillahirachmanirrahim, adalah engkau Muhamad tidak mengetahui ihwal perkumpulan dari pada orang Bani Israil setelah meninggalkan Nabi Musa, waktu mereka itu berkata pada Nabi Syanwil: datangkanlah pada kami seorang raja supaya kami bisa menjalankan perang Sabil. maka bersabda Nabi Syanwil:

Barangkali kamu tidak mau menjalankan perang sabil jika telah diwajibkan kepada kamu, maka berkata mereka itu, mengapakah kami tidak mau menjalankan perang sabil, padahal kami telah diusir oleh musuh dikeluarkan dari negeri kami dan terpisah dengan anak-anak kami. Oleh karena itu Nabi Syanwil berdoa kepada Tuhan agar didatangkan seorang Raja. Maka didatangkan oleh Tuhan seorang Raja bernama Tholut.

Maka apabila telah diwajibkan perang sabil pada mereka itu, mangkirlah semuanya, hanya sedikit saja yang masih menepati janji, maka diketahui oleh Tuhan yang tidak menepati janji itulah yang menganiaya dirinya akan mendapatkan murka Tuhan, kuasalah Tuhan akan melanjutkan hal apa yang dikehendakinya.

Sesungguhnya Tuhan telah mendengar perkataan orang-orang yang menyebutkan bahwa Tuhan itu miskin dan kami orang yang kaya. Maka Tuhan berfirman: Nanti aku tulis dalam buku, perkataan mereka itu dan aku tulis dosanya mereka karena telah membunuh sekalian nabi yang tidak dengan haq, dan aku berkata pada mereka itu rasakanlah olehmu siksaku yang amat pedih. Tuhan maha kuasa, tidak berkendak atas segala bantuan.

Adalah engkau Muhamad tidak melihat pada mereka yang diucapkan. Laksanakanlah perang, dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat.

Maka apabila telah diwajibkan perang bagi mereka, maka sebagian dari merekai takut pada manusia, seperti takut pada Tuhan, malah lebih takut. Maka mereka bersembah dan berkata kepada Tuhan: hai Tuhan hamba mengapakah engkau wajibkan perang sabil pada kami apakah tidak lebih baik kalau engkau urungkan sampai waktu dekat. Maka Tuhan berfirman: bahwa perkara dunia itu sedikit, tapi perkara akhirat lebih baik bagi orang yang takut pada Tuhan, dan tidak nanti kamu teraniaya sebab dikurangkan pahalamu.

Baca Juga :   Tb. Achmad Chatib dalam Revolusi Banten 1926

Bacalah dengan sebenar-benarnya oleh engkau Muhammad pada mereka itu wartanya dua anak dari Nabi Adam “Kabil dan Habil”. Keduanya melakukan kurban pada Tuhan. Maka diterimalah kurbannya Habil dan tidak diterima kurbannya Kabil. Maka berkata Kabil kepada Habil dengan amat murkanya; niscayalah aku bunuh engkau, maka berkata Habil bahwa yang menerima kurban itu Tuhan, bukan kemauanku. Tuhan menerima kepada orang yang takut kepada-Nya, Tuhan itu amat suci menunjukan jalan baik pada orang yang dikehendaki-Nya.

Sabdakan olehmu hai Muhammad, siapakah yang mempunyai langit dan bumi itu? qul man rabbussamawati wal ard, qulillah… ialah Tuhan juga.

Adalah kamu melihat barang yang disembah selainnya Tuhan, maka barang itulah yang tidak bisa memberi manfaat dan mudarat, adakah sama orang yang buta dengan orang yang bisa melihat dan adakah sama gelap dengan terang? Apakah mereka itu bisa menjadikan Tuhan bersekutu dengan lainnya. Apakah mereka itu bisa menjadikan sesuatu hal sebagai yang dijadikan oleh Tuhan sehingga perbuatan Tuhan itu bisa keliru dengan perbuatan lainnya, Tuhan juga yang menjadikan semua hal, Tuhanlah yang haq dan sangat niscaya bisa memberi kekuatan pada orang yang dikehendakinya.

Salinan Jimat Kecil

Bismillahi, Tuhan itu yang menjadikan segala mahluk dan amat besar penjagaan dari pada barang yang aku takuti, tidak berkuasa bagi makhluk akan melawan pada kekuasaan Tuhan, kaf ha ya ain sod ha mim sin sin kaf. Segala badan tunduklah pada Tuhan, dan luputkanlah maksudnya orang yang membuat aniaya dan mencukupi bagi kita pertolongan Tuhan dan sebaik-baiknya Tuhan itu yang dipasrahi segala hal.

Hari inilah mereka itu tidak berkata serta tidak diizinkan untuk berkata, maka menjarah mereka itu dan jatuhlah perkataan haq pada mereka itu dan rusak hal yang diperbuat oleh mereka itu serta jatuhlah perkataan siksa pada mereka, sebab mereka telah membuat aniaya, padahal mereka itu tidak bisa berkata ha mim ain sin kaf. Kaf ha ya sin sod, telah cukuplah bagiku.

Aku telah menyimpul akan engkau yang membawa tulisan ini dari pada segala lidah mahluk dan manusia, perempuan dan laki-laki dengan berkatanya beribu-ribu “la haula wala quwwata illa billahil azim” artinya: tiada seorang berdaya upaya dan kuat hanya dengan pertolongan Tuhan yang Maha Agung.

Mudah-mudahan Tuhan memberi Rahmat dan selamat pada junjung kita Nabi Muhamad dan keluarganya serta para sahabatnya.

Editor : JIS/FN

TINGGALKAN KOMENTAR

twenty − thirteen =