Dari Banten Girang Menjadi Tirtalaya, Basis Pertahanan Kesultanan Banten

Dari Banten Girang Menjadi Tirtalaya, Basis Pertahanan Kesultanan Banten

0
BAGIKAN

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi
Co-Founder Mercusuar Institute

Banten Girang adalah pusat kekuasaan kerajaan Banten pra Islam. Disini terdapat watu gigilang (batu yang bersinar) yang merupakan tahta Prabu Pucuk Umun, Ratu Pandita ‘Hindu’ yang terakhir. Disana juga terdapat dua makam keramat kakak beradik, Ki Mas Jong dan Agus Ju, yang merupakan penduduk Banten Girang pertama yang memeluk Islam dan berpihak kepada Maulana Hasanuddin.

Ki Mas Jong sendiri menurut Sajarah Banten adalah seorang Ponggawa penting dari Pakuan Pajajaran yang ditempatkan di Banten Girang. Ki Mas Jong adalah pendukung utama Maulana Hasanuddin, dan kemudian diangkat sebagai Mahapatih atau Tumenggung. Ki Mas Jong memainkan peranan penting dalam penaklukan Pakuan Pajajaran pada pertengahan abad ke-16.

Banten Girang sendiri tidak dihancurkan oleh Maulana Hasanuddin saat menaklukan Banten, meskipun awal mulanya adalah pusat pemerintahan Banten pra Islam, oleh penguasa Kesultanan Banten tetap digunakan sebagai tempat pesanggrahan selama beberapa ratus tahun lamanya.

Sebuah laporan arkeologis tahun 1996 yang dibuat oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerja sama dengan École Française dÈxtrême-Orient Prancis, berjudul Banten Sebelum Zaman Islam, Kajian Arkeologi di Banten Girang, Claude Guillot menunjukan bahwa wilayah ini tetap menjadi pusat, atau sekurang-kurangnya tempat penting bagi keluarga lingkungan istana Kesultanan Banten.

Penguasa Kesultanan Banten pertama, Maulana Hasanuddin beserta istri dan keluarganya sempat menghuni Banten Girang untuk beberapa lama. Pusat kekuasaan baru dipindahkan oleh Maulana Hasanuddin ke Pesisir Pelabuhan pada tahun 1530an, besar kemungkinan Maulana Yusuf, penguasa kedua Kesultanan Banten juga lahir dan bertumbuh di Banten Girang.

Baca Juga :   Kasunyatan Pusat Pendidikan Kesultanan Banten

Saat Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir (1596-1651) berkuasa, oleh East Indies Company (EIC) Inggris, melaporkan bahwa Sultan Abul Mafakhir sempat beberapa kali menghuni dan tinggal di Banten Girang. Laporan Belanda juga tahun 1678 pun menyebut Sultan Haji, raja muda Banten beberapa waktu menghuni Banten Girang yang bertempat di “hulu Kelapadua” (boven Clappadoa).

W. Caeff, Residen Belanda peranakan yang lancar berbahasa Jawa dan bertahun-tahun tinggal di Banten, mengirim informasi ke Batavia bahwa ditahun itu, 1674, Caeff membocorkan rahasia bahwa Sultan Ageng Tirtayasa telah memutuskan untuk mengadakan rapat pemerintahan tidak di Banten lagi, tetapi di ‘Keraton lama’ yaitu Banten Girang (Bantam Gieram of Oudt Bantam). Dua tahun kemudian W. Caeff melaporkan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa memutuskan untuk membangun istana di Banten Girang sebagai tempat berlindung kaum keluarga Kesultanan Banten jika meletus perang dengan Batavia Belanda.

Banten Girang kemudian berganti nama menjadi Tirtalaya pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, tempat ini digunakan sebagai benteng tempat perlindungan keluarga istana saat meletusnya peperangan melawan Belanda pada tahun 1682, Ibu Suri dan para Pangeran yang berselisih dengan Sultan Haji pindah ke Tirtalaya. Di sini para pangeran bersatu dan menjadikan basis pertahanan (vastigheid) yang dipimpin oleh Pangeran Purbaya.

Baca Juga :   Komunitas Baca Pandeglang gandeng DPAD Kab.Pandeglang Gelar Dongeng Anak

Banten Girang dihubungkan oleh Sungai Cibanten yang bersumber dari kaki gunung Karang. Sungai ini merupakan sumbu penghubung antara laut pesisir dan Gunung Karang, Pula Sari dan Aseupan. Sepanjang sungai tersebut terdapat situs-situs yang berkaitan dengan perkembangan Banten, yaitu Kasunyatan, Odel, Kelapadua, Serang dan Banten Girang, yang artinya Banten Hulu. Di kanan dan kiri sungai Cibanten terdapat dua jalan lama, yang disebut dengan “jalan Sultan.”

Dua jalan ini yang satu dari pelabuhan barat dan yang satu dari pelabuhan timur. Keduanya menyusuri sungai ke arah selatan, yaitu ke arah gunung Karang, Pulasari dan Aseupan. Jalan di tepi kanan bercabang, salah satunya menuju Lebak terus ke Bogor terus ke Karawang, terus ke Cirebon. Jalan ini diyakini sudah ada sejak zaman pra Islam.

Hal ini terbukti dalam catatan , Maulana Hasanudin bersama ayahnya Sunan Gunung Jati pergi melalui jalan darat dari Banten Girang ke gunung Pulasari, dan membawa pasukan sampai ke Pakuan. Jalan Banten Girang ke Pulasari ini semestinya sudah ada sejak abad ke-10, karena gunung tersebut merupakan gunung keramat bagi kerajaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

14 − three =