Dampak Positif Dan Negatif Pandemi Covid-19 Terhadap Lingkungan

Dampak Positif Dan Negatif Pandemi Covid-19 Terhadap Lingkungan

0
BAGIKAN

Oleh: Hera Yulianti
(Mahasiswa Pendidikan Kimia, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa)

Saat ini Virus Corona atau yang biasa kita kenal Covid-19 telah mendunia menjadi pandemi, salah satunya di negara Indonesia tercinta. adanya pandemi ini menyebabkan pemerintah di berbagai belahan dunia menerapkan sejumlah kebijakan baru yang bertujuan untuk memutus mata rantai penularan virus berbahaya tersebut,  begitupun dengan pemerintah Republik  Indonesia. Melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 21 tahun 2020, Pemerintah Republik Indonesia menerapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB/social distancing) terkait dengan aktivitas kerja, dunia usaha, pendidikan, perkantoran,  keagamaan, ekonomi dan aktivitas-aktivitas sosial lainnya.  Demikian juga dengan Kabupaten Serang, Banten, dalam Peraturan Gubernur Banten No. 25 Tahun 2020 pasal 6 telah disebutkan kebijakan mengenai pembatasan sosial berskala besar (social distancing).

Semenjak adanya  pandemi  tersebut, banyak menuai dampak dikalangan masyarakat. Pandemi ini telah membuat pergerakan manusia menjadi sangat terbatas. Beberapa negara telah menetapkan kebijakan lockdown seperti di negara Indonesia, selain itu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hingga dilakukannya karantina sehingga telah mengurangi berbagai  aktivitas sehari-hari manusia secara signifikan. Hal tersebut dianggap dapat memberi beberapa dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif pada kondisi lingkungan saat ini, terutama pada persoalan sampah plastik dan sampah medis serta persoalan lingkungan. Persoalan sampah plastik sudah menjadi masalah yang sangat memprihatinkan dan membutuhkan penanganan secara serius. Seperti yang diketahui bersama, bahwa sampah plastik terbuat dari bahan yang tidak ramah lingkungan dan sangat sulit untuk terurai atau didaur ulang yang kemudian akan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Sampah plastik yang mendominasi adalah sampah plastik sekali pakai yang terbuat dari bahan dasar plastik, seperti lateks sintetis atau polyethylene, thermoplastic synthetic polymeric.

Selama masa pandemi covid-19 ini telah terjadi peningkatan volume sampah plastik (sampah rumah tangga) di negara indonesia. Karena semenjak pandemi, banyak warga yang melakukan pekerjaanya di rumah. Sebelum pandemi biasanya banyak warga yang makan di luar. Akhirnya selama pandemi ini banyak warga yang memesan makanan secara online yang pastinya menggunakan kemasan plastik. Tidak hanya makanan saja yang menjadi buruan warga, namun barang-barang seperti pakaian pun banyak diburu oleh warga, dan hal itu bisa menambah kuantitas sampah plastik di negara indonesia. Berdasarkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menyebutkan bahwa semenjak pandemi ini, sampah plastik domestik meningkat mulai dari 1-5 menjadi 5-10 gram per hari per individu. Demikian pula  menurut Laporan Pusparisa (2020), adanya pandemi Covid-19 menyebabkan jumlah limbah medis di negara indonesia meningkat, sebelum pandemi tercatat bahwa sekitar 296 ton per harinya yang kemudian menjadi sekitar 382 ton per hari atau naik sekitar 30% selama pandemi ini.  Limbah-limbah tersebut berasal dari rumah sakit sebanyak 2.852 rumah sakit, 9.909 puskesmas, dan 8.841 klinik. Kenaikan produksi limbah medis berbanding lurus dengan peningkatan penggunaan peralatan medis. Sebab tiap satu pasien Covid-19 dapat menghasilkan 20 limbah Alat Pelindung Diri (APD) dan berdasarkan studi kasus di negara Tiongkok, bahwa tiap satu pasien memproduksi 14,3 kilogram limbah medis untuk setiap harinya.

Baca Juga :   Ketua DPRD Banten Ingatkan Masyarakat Terkait Bahaya Covid-19 dan Larangan Berkumpul

Sampah plastik sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia, dampak yang terjadi dari sampah plastik ini antara lain seperti menggangu sistem syaraf,  menyebabkan kanker, depresi, pembengkakan hati, gangguan reproduksi dan radang paru-paru Tidak hanya berdampak pada kesehatan saja, hal ini juga berdampak terhadap lingkungan, karena sampah plastik ini menjadi faktor penyebab rusaknya rantai makan, dapat membunuh hewan juga mencemari air dan tanah, serta polusi udara bahkan dapat menyebabkan banjir. Telah banyak kita temukan seperti hewan, baik burung, ikan, maupun hewan darat lainnya yang mati karena sampah plastik yang termakan oleh hewan tersebut.

Dengan Adanya kebijakan pembatasan sosial dan lockdown yang diterapkan di beberapa negara, ternayata ada sisi positifnya bagi keanekaragaman hayati flora dan fauna. Karena berdasarkan laporan organisasi nirlaba Plantlife, berbagai jenis tanaman dan bunga terlihat tumbuh lebih banyak dari biasanya. akibatnya kehadiran hewan seperti  kupu-kupu, burung, dan lebah di setiap tanaman pun kian meningkat, dan efek lain yang terjadi di masyarakat pun mendukung untuk penumbuhan tanaman di daerahnya. Karena semenjak pandemi ini masyarakat lebih sering berada dirumah dan memanfaatkan waktunya untuk menanam bunga di sekitar pekarangan rumah. Masyarakat sangat antusias untuk menanam tanaman/ membudidayakan tanaman seperti tanaman cabai, serta tanaman bunga hias.

Baca Juga :   Kedudukan Islam dalam kebhinekaan

Dampak negatif dengan adanya pandemi pada lingkungan saat ini. sebaiknya diiringi dengan kebijakan-kebijakan yang mendukung keberlangsungan lingkungan seperti mitigasi, adaptasi, serta program yang memberikan sumbangan dalam rangka menghambat krisis lingkungan. Dalam menangani persoalan sampah sebaiknya dilakukan secara menyeluruh dari sumber sampah hingga kepada pembuangan akhir serta penambahan sarana dan prasarana untuk bagaimana sampah tersebut diolah dengan baik  pada pengelolaan limbah medis maupun limbah plastik. Sebagai upaya pemanfaatan sampah plastik, bisa dilakukan dengan membuat suatu kerajinan tangan seperti membuat bunga berbahan dasar kantong plastik yang memiliki nilai estetis dan nilai jual. Selain dari pada itu penegakan hukum pun harus  berperan aktif. Penegakan hukum perlu terus dijalankan guna meminimalisir perusakan lingkungan. Perlu juga  Revisi UU Persampahan dan Kehutanan untuk menghasilkan payung hukum yang lebih baik bagi kelestarian lingkungan. Hal penting lainnya ialah masyarakat harus berperan aktif untuk mengurangi sampah plastik misalnya dengan cara Penggunaan plastik sekali pakai harus diganti dengan bahan lain yang dapat digunakan berulang-ulang atau bahan yang ramah terhadap lingkungan, misalnya tumbler dan sejenisnya.

Referensi

  • https://adi-journal.org/index.php/adimas/article/view/247
  • (2020). Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Implementasi Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19). Jakarta: Kemendikbud.
  • Pemerintah Republik Indonesia. (2020). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19). Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
  • Peraturan gubernur banten no 25 tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Penanganan Corona Virus Disease.
  • “Limbah Plastik dan Medis Meningkat karena Covid-19,” 8 Juni 2020. https://www.idnfinancials.com/ id/news/34596/householdplastic-waste-medical-wasteincrease-covid-pandemic, diakses 11 maret 2021
  • https://faktabanten.co.id/blog/2020/07/07/efek-wfh-volume-sampah-plastik-paling-dominan-di-kota-serang/ diakses 12 maret 2021.

TINGGALKAN KOMENTAR

9 + 19 =