Dampak Covid-19 Terhadap Lingkungan: Terlindungi atau Tercemar?

Dampak Covid-19 Terhadap Lingkungan: Terlindungi atau Tercemar?

0
BAGIKAN

Oleh: Lela Saro
(Mahasiswa Pendidikan Kimia, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa)

Coronavirus disease 2019 (Covid-19) merupakan suatu wabah yang melanda hampir seluruh dunia. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), per 6 September 2020, virus ini diklaim telah menyebar di 216 negara, wilayah atau teritori dengan kematian 876.616 manusia dari 26.763.217 kasus yang dikonfirmasi, dan jumlahnya meningkat pesat seiring berjalannya waktu. Berbagai upaya pencegahan telah dilakukan dengan tentu saja adanya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh lembaga kesehatan dunia maupun negara. Kebijakan-kebijakan tersebut lebih seperti pembatasan sosialisasi yang tentunya memengaruhi berbagai sektor dalam kehidupan. Sudah ada banyak dampak yang ada pada literatur terkait dampak terhadap soial, ekonomi, kebudayaan, apalagi sektor ekonomi. Namun adapula dampak lain yang berpengaruh terhadap lingkungan.

Peneliti dari beberapa menemukan bahwa lingkungan berubah dengan cepat akibat pandemi Covid-19. Laju penggundulan hutan berubah di beberapa tempat, polusi udara berkurang, kualitas air membaik, dan salju menjadi lebih kritis di beberapa daerah sejak pandemi dimulai awal tahun ini serta berbagai dampak lainnya yang berhubungan dengan perilaku manusia pada era ini.

Adapun berbagai dampak yang ditimbulkan Covid-19 terhadap lingkungan baik dampak positif maupun dampak negatif adalah sebagai berikut:

  • Dampak Positif
  1. Pengurangan polusi udara dan emisi GRK

Seperti yang kita ketahui bahwa berbagai aktivitas diluar rumah sangat dibatasi. Hal ini dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) yang membahayakan keberlangsungan makhluk hidup. Sehingga, karena industri, transportasi, dan perusahaan tutup, hal ini menyebabkan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) secara tiba-tiba. Diperkirakan hampir 50% pengurangan N2O dan CO terjadi karena penutupan industri berat di China (Caine, 2020). Selain itu pula, berdasarkan Badan Lingkungan Eropa (EEA) terjadi penurunan emisi NO2 sekitar 30-60% di banyak kota Eropa termasuk Barcelona, ​​Madrid, Milan, Roma, dan Paris. Kendaraan dan penerbangan merupakan kontributor utama emisi dan masing-masing berkontribusi hampir 72% dan 11% dari emisi GRK sektor transportasi (Henriques, 2020) dan di negara China yang mengurangi hampir 50–90% kapasitas keberangkatan dan 70% penerbangan domestik karena pandemi, yang pada akhirnya mengurangi hampir 17% emisi CO2 nasional (Zogopoulos, 2020). Kebijakan lockdown juga mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Dimana, penggunaan bahan bakar fosil yang berkurang akan mengurangi emisi GRK.

2. Pengurangan polusi air

Hal ini terjadi misalnya di sungai Gangga dan Yamuna telah mencapai tingkat kemurnian yang tinggi karena tidak adanya pencemaran industri. Peningkatan kualitas air di Haridwar dan Rishikesh ini disebabkan oleh penurunan mendadak jumlah pengunjung dan pengurangan 500% limbah dan limbah industri (Singhal dan Matto, 2020; Somani et al., 2020). Grand Canal of Italy pun menjadi bersih, dan muncul kembali banyak spesies air (Clifford, 2020). Pencemaran air dan tanah akibat sampah yang dihasilkan dari proses konstruksi dan manufaktur juga berkurang. Selain itu, dengan berkurangnya bisnis ekspor-impor, pergerakan kapal dagang dan kapal lainnya berkurang secara global, yang juga mengurangi dampak negatif serta pencemaran lain.

Baca Juga :   Waste Democracy (From Waste By Waste To Waste) : Kreasi Sulap Alat Penyaringan Alami Berbahan Dasar Limbah Organik

3. Pengurangan polusi suara

Polusi suara adalah peningkatan tingkat suara, hasil dari aktivitas manusia yang berbeda (misalnya, mesin, kendaraan, dan pekerjaan konstruksi), dan berefek bukuk terhadap manusia dan makhluk hidup lain. Biasanya kebisingan berdampak negatif pada kesehatan fisiologis, bersama dengan gangguan kardiovaskular (sakit jantung), hipertensi, dan sesak pada manusia (Kerns et al., 2018). Adapun dampak kebisingan terhadap lingkungan yaitu apabila invertebrata yang membantu mengendalikan proses lingkungan, terganggu dengan suatu kebisingan yang mengganggu dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem (Solan et al., 2016).

4. Pemulihan ekologis dan pengurangan tempat wisata

Biasanya wisata merupakan kegiatan yang dilakukan dengan tujuan rekreasi selama masa libur maupun survival bagi seseorang, namun terkadang karena alasan inilah bisa meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK). Hal itu karen pembangunan di sekitar kawasan wisata yang tidak sesuai dengan AMDAL (analisis dampak lingkungan) yang malah merusak lingkungan.

Selain itu, wisatawan terkadang membuang sampah sembarangan yang merusak keindahan alam dan menciptakan ketidakseimbangan ekologi. Maka, dengan kebijakan di masa pandemi ini tidak memungkinkan seseorang melakukan perjalanan secara bebas menjadikan tempat wisata yang ada sedikit dikunjungin sehingga alam/lingkungan pun akan lebih terjaga dan akan terjadi pemulihan ekologi.

 

  • Dampak Negatif
  1. Peningkatan timbulan limbah biomedis

Sejak wabah Covid-19, limbah medis meningkat secara global, yang merupakan ancaman besar bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan. Misalnya di kota Ahmedabad (India), jumlah limbah medis meningkat dari 550-600 kg/hari menjadi sekitar 1000 kg/ hari pada masa awal pembatasan (Somani et al., 2020). Tentu saja limbah-limbah ini sangat merugikan baik terhadap tubuh maupun alam/lingkungan yang sedang kita pijak ini.

Baca Juga :   Tantangan Organisasi Serikat Buruh dalam Menghadapi Perubahan Sosial New Normal dan Industri 4.O

2. Penggunaan peralatan keamanan dan pembuangan sembarangan

Tentu saja, penggunaan peralatan medis diterapkan demi mengurangi infeksi virus maupun memutus penyebarannya. Namun nyatanya, limbah alat pelindung diri (APD) yang digunakan di buang dengan tidak seharusnya mengakibatkan dampak negatif bagi lingkungan. Seperti membuang sampah sembarangan dapat menyebabkan penyumbatan di saluran air dan memperburuk pencemaran lingkungan (Singh et al., 2020; Zambrano-Monserrate et al., 2020).

3. Produksi limbah padat kota, dan pengurangan daur ulang

Kebijakan karantina yang ditetapkan di banyak negara telah menyebabkan peningkatan permintaan belanja online yang pada akhirnya meningkatkan jumlah limbah rumah tangga dari bahan paket yang dikirim ke rumah (Somani et al., 2020; Zambrano-Monserrate et. al., 2020). Memang sebaiknya untuk mengurangi limbah tersebut dapat dengan melakukan daur ulang. Namun untuk saat masa pandemi ini, pendaur-ulangan ditunda agar dapat mengurangi penyebaran inveksi Covid-19. Karena terganggunya pengelolaan sampah kota rutin, pemulihan sampah dan kegiatan daur ulang, maka meningkatkan penimbunan sampah dan polutan lingkungan di seluruh dunia.

4. Efek lain terhadap lingkungan

Di masa pandemi sekarang ini, disinfektan dalam jumlah besar diaplikasikan di jalan, komersial, dan pemukiman untuk membasmi virus Covid-19. Namun penggunaan desinfektan ini pun dapat membunuh spesies menguntungkan tertentu, sehingga dapat terjadilah ketidakseimbangan ekologi. Selain itu pun, pemanfaatan limbah air menggunakan klorin dalam pembuatan desinfektan dapat berefek buruk pada air maupun lingkungan sekitarnya.

Ternyata banyak dampak yang ditimbulkan akibat pandemi Covid-19 yang memengaruhi lingkungan yang kita sadari maupun tidak. Dari berbagai dampak yang ditimbulkan tersebut, kita harus dapat menanggapi dengan cermat. Bersyukur atas dampak positifnya, serta berpikir untuk mencari solusi terbaik untuk mengatasi dampak negatifnya. Solusi-solusi tersebutlah yang akan memelihara keberlangsungan lingkungan dalam jangka waktu panjang. Sebagai solusi awal yang dapat dilakukan yakni dengan kesadaran dalam diri masing-masing individu agar mencintai diri sendiri dengan memelihara lingkungan. Lingkungan yang baik juga akan memberi hal yang baik pada sekitarnya.

 

Referensi:

Rume, T, S. M., Didar-UI Islam. 2020. Environmental Effects of COVID-19 Pandemic and Potential Strategies of Sustainability. Journal Heliyon. 6(2020): e0495

Pusat Penerbangan Luar Angkasa NASA / Goddard. (2020, 8 Desember). Dampak lingkungan dari pandemi COVID-19, seperti yang diamati dari luar angkasaScienceDaily. Diakses pada 11 Maret 2021 dari www.sciencedaily.com/releases/2020/12/201208162957.htm

TINGGALKAN KOMENTAR

thirteen + 4 =