Badai Virus, Kebimbangan Tanpa Henti di Negeri Wakanda

Badai Virus, Kebimbangan Tanpa Henti di Negeri Wakanda

0
BAGIKAN

Oleh: Rizaldy Alif Syahrial (Sekretaris Jenderal Pondok Pemuda Indonesia)

“Kepada seluruh masyarakat, apabila ditemukan tidak mengunakan masker, akan dikenakan denda sebesar sekian juta,” ujar pemegang otoritas di Negeri Wakanda.

Dalam sekejap, ketakutan menghinggapi para penduduk Negeri Wakanda. Rasa-rasanya penduduk negeri lebih takut mendengar nominal uang denda dibanding virus yang didengung-dengungkan. Wajar saja merasa takut. Sebab, penduduk negeri Wakanda hidup dalam kemelaratan.

Meski melarat, konon katanya Negeri Wakanda adalah negeri agraris, tetapi negeri ini masih mengimpor beras dan gandum untuk mengatasi kelaparan. Juga, Negeri Wakanda katanya negeri maritim, sayangnya garam untuk penduduk negeri harus impor. Pun, Negeri Wakanda katanya negeri kaya, tetapi apa mau dikata. Penduduk Wakanda berada dibawah garis kemiskinan. Untuk makan dan memenuhi kebutuhan gizi, para penduduk Negeri Wakanda pusing tujuh keliling. Belum lagi ditambah ancaman denda dari otoritas negeri. Terasa para penduduk ingin mengakhiri hidup sebab tak tahan penderitaan yang mendalam di Negeri Wakanda.

Saat ini Negeri Wakanda sedang dihantam badai virus. Rakyat terombang-ambing dalam gelombang ketidakpastian. Sudah dua kali lebaran penduduk Negeri Wakanda tak dapat mudik ke kampung halaman. Pun, sudah hampir dua tahun peserta didik tak lagi menginjak tanah sekolah. Padahal, notabenenya mereka akan menjadi generasi penerus Negeri Wakanda. Besar harapan, orang tua di Negeri Wakanda dapat mendidik anak-anak mereka agar masa depan negeri wakanda tetap cerah.

Sayang beribu sayang, ternyata para orang tua di negeri wakanda tak sempat mengajari anak mereka. Bukannya mereka tak ingin mengajari. Hanya saja, ada dua hal yang menghalangi. Pertama, mereka harus sibuk mencari sesuap nasi untuk keluarga. Kedua, mereka tak punya ilmunya.

Para orang tua banting tulang demi penghidupan. Sebab, di Negeri Wakanda terdapat wacana kenaikan pajak untuk sembako, pendidikan dan kesehatan. Pun soal ilmunya, otoritas Negeri Wakanda belum menyelesaikan persoalan pendidikan sejak zaman orang tua ini bersekolah. Banyak aspek yang belum selesai. Misalnya soal ketimpangan dan kualitas pendidikan. Mayoritas dari mereka tak mendapatkan akses yang sama terhadap pendidikan. Itulah menjadi sebab mereka tak memiliki ilmunya.

Baca Juga :   Dihadapan Anak-anak Muda, Akademisi Ini Bicara Bonus Demografi

Kelihatan saat ini otoritas negeri wakanda pusing tujuh keliling. Mungkin sedikit lagi pingsan. Persoalannya sangat kompleks. Selain soal pendidikan, ekonomi, infrastruktur, politik, dan sebagainya, otoritas saat ini bingung menghadapi badai vurus. Katanya, badai virus ini mengakibatkan ekonomi ambruk. Rakyat percaya saja apa yang dikatakan oleh otoritas, meski rakyat tahu bahwa pemegang otoritas tak lagi mampu memegang amanah. Toh, rakyat tak punya daya untuk menghempaskannya.

Pemegang otoritas di Negeri Wakanda terkesan gagap menghadapi badai virus. Mereka sibuk gonta-ganti kebijakan. Bahkan ada kebijakan yang terkesan mengenyampingkan kepentingan penduduk negeri. Imbasnya langsung kepada rakyat kecil di Negeri Wakanda. Contoh kebijakanya soal pemberlakuan jam malam untuk pedagang. Pukul 9 pm batas rakyat kecil menjual. Terbayang kondisi mamang somay, nasi goreng, pecel lele, martabak, tahu sumedang dan mamang-mamang lain yang bernasib di ujung tanduk. Mereka membuka lapak dagangan paling cepat sore hari sekitar pukul 5 pm. Target pasar mereka berduyun-duyun datang pukul 10 pm. Kecil kemungkinan bagi mamang-mamang bisa bertahan di masa badai virus.

“Gimana mau menjual?, wong disuruh tutup pukul 9 toh. Jangan-jangan virus ini milih waktu untuk menyebar. Kok virus ini macam maling aja beroperasi waktu malam?,” curhat seorang mamang penjual nasi goreng di Negeri Wakanda.

“Tega benar pemegang otoritas. Kebijakan untuk kami tanpa solusi. Wong mereka gak ngasih makan kita, kok mereka tega membatasi waktu nyari duit. Lapak harus tutup sedangkan kongres partai terbuka dengan meriah. Kami harus pulang sedangkan acara pernikahan dihadiri oleh pemimpin negeri. Kami dilarang berdagang, sedangkan pak pejabat asyik ketawa-ketiwi sembari membahas harta karun negeri. Terjajahlah kami di negeri sendiri. Nampak jelas perbedaan perlakuan untuk para jelata. Kenapa ya, Mas, negeri kita seperti negeri paradoks,” tutur bapak tua sambil menyeruput kopi hitam pahitnya sebab uangnya tak cukup beli gula.

Baca Juga :   Pesan Untuk Ibu Pertiwi dalam Naskah Drama "Jangan Menangis Indonesia" Karya Putu Wijaya

Curhatan rakyat seperti itu sangat familiar di Negeri Wakanda. Terlebih setelah rakyat menonton sepak bola di negeri seberang. Ada perhelatan akbar yang diberi nama Piala Eropa. Dalam agenda akbar ini, terlihat stadion ramai dan padat. Tak ada yang namanya protokol kesehatan. Penduduk Negeri Wakanda sempat kepikiran, jangan-jangan obat mujarab untuk menghentikan badai virus adalah perhelatan sepak bola. Eh, tapi rakyat kembali realistis. Jangankan perhelatan sepak bola, jualan untuk menafkahi keluarga saja dibatasi. Nasib ya nasib.

Berkaitan dengan protokol kesehatan, sejujurnya hal ini yang paling membingungkan bagi mamang-mamang di Negeri Wakanda. Katanya ada protokol kesehatan untuk menghindari paparan virus. Protokolnya dijuluki dengan sebutan 5 M yaitu mencuci tangan, memakai masker, menjauhi kerumunan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas. Tujuanya sangat sederhana, agar badai virus ini segera berlalu. Para mamang sepakat dengan tujuan bersama menyelesaikan persoalan badai virus ini. Tetapi, mereka bingung diminta menutup lapak meski menerapkan protokol kesehatan. Otoritas seakan tutup mata bahwa para mamang sedang bimbang sebab susu dan pampers anaknya hampir habis. Meski badai virus mengancam, mau tak mau para mamang harus buka lapak agar dapat membeli kebutuhan anak, istri, orang tua dan dirinya sendiri. Mereka hanya minta, jangan batasi haknya untuk berjualan. Toh mereka telah menerapkan protokol kesehatan. Mengapa harus dibatasi waktu jualannya. Sungguh, badai virus ini menyebabkan kebimbangan tanpa henti di Negeri Wakanda.

Jika ditanyakan, Keinginan para mamang sangat sederhana. Sesederhana lapak jualan malam mereka.

“Biarkanlah kami bebas berjualan tanpa di atur waktu-waktunya. Kami sangat berharap kearifan dan kebijaksanaan para pemegang otoritas dalam mengambil keputusan. Jika tak mampu mengambil kebijakan yang arif dan bijaksana, mending tanggalkan otoritas yang dimiliki. Berikan kepada orang yang lebih mampu. Hayuklah para pemegang otoritas, cintailah rakyatmu dengan sederhana. Jika kalian tak mampu membuatnya tertawa, cukuplah untuk tidak membuatnya terluka,” harap mamang somay dipersimpangan jalan Negeri Wakanda.

TINGGALKAN KOMENTAR

4 × four =