Anak Jalanan dan Pengemis di Kota Serang

Anak Jalanan dan Pengemis di Kota Serang

0
BAGIKAN

Oleh, Robiah (Mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNTIRTA)

Kota Serang sebagai ibu kota Provinsi Banten dengan jumlah penduduk mencapai 666.600 orang pada tahun 2017 (sumber : BPS Kota Serang). Pembangunan infrastruktur di wilayah kota serang untuk penataan kota. Kota serang adalah salah satu kota penuh cerita mulai dari tempat wisata dan ibu kota provinsi, ada pula cerita urbanisasi, industri, pedagang kaki lima, kemacetan(transportasi), kemudian cerita berikutnya adalah anak jalanan dan pengemis. Anak jalanan dan pengemis merupakan kelompok anak dan para tunawisma yang sering ditemui serta menghiasi kota-kota besar di Indonesia termasuk kota serang. Dalam UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak pada pasal 4 dijelaskan bahwa berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Begitupun dalam pasal 8 menyatakan setiap anak berhak memperoleh pelayaan kesehatan dan jaminan sosial sesuaidengan kebutuhan fiik, mental, dan sosial. Ditabah pada pasal 34 UUD 1945 ditegaskan fakir miskin dan anak terlanntar pelihara oleh Negara.

ANAK JALANAN DAN PENGEMIS DI KOTA SERANG

Sosok anak jalanan, gelandangan, dan pengemis adalah kelopok yang selalu dipandang hina di mata masyarakat. Ketika menyebut anak jalanan, perhatian kita akan tertuju pada sosok kumuh, dekil, liar nakal dan sellau hadir di perempatan jalan, tumpukan sampah, pusat-pusat hiburan, kermaian atau terminal-terminal. Penampilannya yang jorok, ekonomi keluarganya yang miskin, lingkungan pemukimannya di daerah-daerah kumuh atau tidak mempunyai tempat tinggal tetap, perangainya yang liar dan sering melakukan kejahatan dan kekhasan lain anak jalanan menyebabkan pandangan masyarakat terhadapanya sangat rendah. Ironisnya lagi, masyarakat bahkan tidak menganggap mereka sebagai manusia lazimnya. Anak jalanan adalah sampah yang tidak mempunyai masa depan, tidak dapat diharapkan sebagai generasi penerus pembangunan dan tidak mempunyai manfaat generasi penerus pembangunan dan tidak mempunyai manfaat bagi masyarakat (Frans van Dijk, 1993: 11 dalam buku Adon, sosiologi perkotaan). Statusnya sebagai anak jalanan menyebabkan anak-anak itu harus rela dengan berbagai hinaan, cacian, maiian, kekejaman, kekerasan, dan kesan buruk masyrakat. Ini artinya ketika permasalahan sosial menimpa keluarga dan dirinya, ia mengalami penghilangan hak sebagai manusia dan hak sebagai anak oleh masyarakat (Adon, 2015 : 299-300).

Baca Juga :   GUBERNUR BANTEN KALAH DI PTUN DAN HARUS MEREVISI SOAL UMK KOTA SERANG 2017

Melihat kondisi anak jalanan dan pengemis di kota Serang sangat memprihatinkan, banyak warga yang resah akan adanya anak jalana dan pengemis. Anak jalanan dan pengemis semakin meningkat jumlahnya, hal terseut di karenakan beberapa sebab dan alasan. Hasil dari wawancara yang dilakukan dengan anak jalanan dan pengemis sekitar lampu merah warjok dan lampu merah kebon jahe, Serang Banten. Ada beberapa alasan kuat yang mengharuskan mereka menjadi anak jalanan salah satunya karena keadaan ekonomi keluarga yang sangat kurang. “Jangankan untuk jajan dan beli mainan kaya anak-anak lain untuk makan keluarga saja sudah pas-pas an bahkan pernah sampai tak makan” ujar Rifta salah satu anak jalanan yang berusia 13 tahun kalau sekolah dia duduk di bangku SMP kelas VII. Rifta berdomisili di Palima kota Serang Banten, ayah dan ibunya masih lengkap, ayahnya tidak bekarja karena sakit dan tulang punggung kelurga adalah ibunya. Ketika sedang dilakukan wawacara mengenai kehidupan dan mengapa memilih menjadi anak jalanan ia langusng menangis bersedu-sedu. “ anak jalanan bukan pilihan, saya juga memiliki cita-cita tinggi menjadi orang sukses dan bisa membahagiakan kedua orang tua, tapi apa daya mungkin harus seperti ini dulu scenario hidup saya, tapi suatu saat nanti saya akan suskses” kata Rifta.

Baca Juga :   Beragama secara Humanis, Radikalis, atau Liberalis

Hasil survey yang dilakukan pun mengahsilkan sebuah jawbaan dari alasan lain mengapa mejadi anak jalanan. Ternyata hasil dari wawancara bebrapa alasan menjadi anak jalana atau turun ke jalan hanya sekedar mengisi kekosongan dan kejenuhan dengan keadaan keluarga yang tidak harmonis. Begitupun dengan pengamen yang menyebar disetiap jalan raya, bukan alasana kekurangan ekonomi akan tetapi karena hal diatas.

Pentingnya pemerintah kota Serang menaggulangi masalah anak jalanan dan pengemis di kota Serang. Tidak hanya melakukan razia saja akan tetapi sebaiknya lebih diberikan pengajaran dan pelatihan seperti tempat binaan khusus anak jalanan. Agar terciptanya sebuah ketentraman kota dari anak jalanan dan pengemis pun pemberdayaan sumber daya manusia untuk kemajuan kota Serang.

TINGGALKAN KOMENTAR

8 + 5 =