Al-Qur’an, Ramadan, dan Pesan Kemanusiaan

Al-Qur’an, Ramadan, dan Pesan Kemanusiaan

0
BAGIKAN

Oleh: Alzeiraldy Idzhar Ghifary
(Pengurus DKM Al-Makmun FKIP Untirta)

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)

Bulan Ramadan 1442 Hijriyah sudah memasuki hari ke-19, kurang lebih dua pekan lagi kaum muslimin menjalani ibadah puasa. Sebagai bulan yang memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan, tentu sayang jika dilewatkan begitu saja, mesti ada kesan yang bermakna sebelum kita melepas kepergiannya. Karena itu, di sisa waktu Ramadan, selain berupaya menuntaskan target amalan yang direncanakan, ada baiknya kita coba memahami kembali hikmah, dan tujuan dari puasa itu sendiri.

Imam Ibnu Rajab –dalam Lathaiful Ma’arif– mengatakan “Puasa disyari’atkan agar yang berkecukupan turut merasakan bagaimana rasanya lapar sehingga dia akan mengingat mereka yang tengah kelaparan.” Senada dengan Imam Ibnu Rajab, Muhammad Asad, seorang mufassir kelahiran Ukraina –dalam The Message of the Qur’an– menyampaikan setidaknya ada tiga tujuan umum dari puasa Ramadan. Pertama, untuk mengenang permulaan Wahyu Al-Qur’an yang terjadi pada bulan Ramadhan, sekitar 13 tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Kedua, untuk memberikan latihan disiplin, dan ketiga, untuk membuat setiap orang menyadari lewat pengalamannya sendiri merasakan dahaga dan lapar, sehingga dengan cara itu diperoleh definisi hakiki tentang keperluan orang miskin.

Tentang orang miskin, Ahmad Syafi’i Ma’arif mengungkapkan bahwa Al-Quran adalah kitab suci yang pro orang miskin, tetapi anti kemiskinan pada waktu yang sama. Maksudnya, kemiskinan harus bersifat sementara tak boleh mengitari hidup sepanjang hayat. Perintah mengeluarkan ZIS (zakat, infak, sedekah) adalah bukti umat Islam tidak boleh miskin. Jika kita mentadabburi ayat-ayat Al-Quran, perintah salat sering kali diiringi dengan perintah zakat. Aqimisholah wa atuzzakah “Dirikan salat dan tunaikan zakat”, ini menandakan bahwa salat sebagai ibadah spiritual seorang hamba dengan Allah tak bisa terlepas dari keharusan untuk peduli pada kondisi masyarakat di sekitarnya.

Karena itu, hikmah dari puasa Ramadan adalah selain untuk ikut merasakan haus dan lapar seperti yang dirasakan orang miskin, juga supaya orang berpuasa tidak melupakan mereka. Apalagi Ramadan sering disebut sebagai bulan kemurahan (syahrul judd), dimana banyak keutamaan bagi orang yang bermurah hati, suka menolong atau membantu sesama. Dan mengeluarkan ZIS (zakat, infak, sedekah) selain sebagai wujud filantropi dalam Islam, juga sekaligus instrumen penting dalam upaya pengentasan kemiskinan dan kesenjangan sosial di masyarakat.

Baca Juga :   Pesan Untuk Ibu Pertiwi dalam Naskah Drama "Jangan Menangis Indonesia" Karya Putu Wijaya

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183).

Setiap ibadah dalam Agama Islam selalu mengandung dimensi ketuhanan (hablum minAllah) dan dimensi kemanusiaan (hablum minannas), begitupun ibadah puasa di bulan Ramadan. Dimensi ketuhanan dalam ibadah puasa sebagaimana Allah sampaikan, bahwa puasa Ramadan itu adalah milik Allah dan Allah yang akan memberikan balasannya. Sementara dimensi kemanusiaannya ada pada solidaritas untuk ikut merasakan haus dan lapar seperti yang dirasakan orang miskin.

Islam diturunkan untuk memanusiakan manusia, yang sarat akan tuntutan agar manusia tetap mempertahankan eksistensinya sebagai manusia. Islam juga menerintahkan persaudaraan universal bagi umat manusia tanpa sekat-sekat etnis, ras, suku, agama dan budaya. Kemanusiaan adalah pesan mulia yang menjadi esensi dari ajaran Islam. Bahkan Allah menegaskan dalam QS. Al-Ma’un bahwa celakalah orang yang melaksanakan salat namun mengabaikan persoalan-persoalan kemanusiaan, dan disebut sebagai; yukazzibu biddiin, orang yang mendustakan Agama (menghardik anak yatim, tidak memberi orang miskin, dan enggan memberi bantuan).

Kemudian, jika merujuk QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183, tujuan utama dari puasa adalah agar bertakwa, la’allakum tattaquun. Dimana dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menyampaikan kriteria seseorang disebut bertakwa, salah satunya (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 177) : “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Berdasarkan ayat di atas, Al-Quran menggambarkan orang yang bertakwa itu selain beriman kepada Allah, hari akhir, kitab-kitab, para malaikat dan beriman kepada para nabi, serta mendirikan salat (ibadah individual), juga mau memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir, yang memerlukan pertolongan, orang yang meminta-minta, memerdekakan hamba sahaya, menunaikan zakat, menepati janji, serta bersabar dalam kesempitan dan penderitaan (ibadah sosial).

Hal tersebut menunjukan bahwa dalam Islam kesalehan individual dan kesalehan sosial harus saling berhubungan erat, terintegrasi, dan tak boleh dipisahkan sebagai syarat seorang muslim disebut bertakwa. Konsep dan gagasan inilah yang kemudian diperkenalkan oleh Prof. Amien Rais –Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah– dengan istilah Tauhid Sosial. Paradigma tauhid yang mengajarkan bagaimana orang bertauhid berdampak pada perubahan sosial dan adanya keberpihakan pada kaum tertindas, lemah, dan orang-orang miskin (mustadafin dhuafa wal masakin). Artinya, dikatakan umat Islam yang baik apabila senantiasa memposisikan secara beriringan antara ibadah individual dan ibadah sosial, antara hablum minAllah dan hablum minannas.

Saat ini kita malalui bulan Ramadan di tengah Pandemi Covid-19, yang diprediksi masih akan terus berlangsung hingga beberapa bulan kedepan. Belakangan kita pun tak asing mendengar berita pekerja di-PHK oleh perusahannya, para pedagang yang kehilangan penghasilan, pengemudi transportasi online dan angkutan umum yang sepi penumpang, hingga orang-orang yang terjebak di tanah perantauan karena larangan mudik oleh pemerintah. Akibat Pandemi Covid-19 ada banyak pengangguran baru lahir, orang miskin bertambah, dan dampak lainnya pada kehidupan masyarakat. Pada situasi seperti ini, rasa kemanusiaanlah yang membuat kita memiliki empati dan kepedulian terhadap beragam permasalahan tersebut.

Baca Juga :   Semangat Berbangsa Dalam Kekayaan NKRI

Dan ini menjadi kesempatan untuk kita lebih memaknai Ramadan sebagai bulan kemurahan (syahrul judd), bermurah hati, tolong-menolong, dan saling membantu sesama. Dalam konteks ini, puasa yang diharapkan dapat membentuk kaum muslimin pada proses kesalehan individual bisa ditransmisikan juga menjadi kesalehan sosial yang berpihak pada cinta kasih kemanusiaan sebagai manifestasi ketakwaan pada sang Maha Kuasa.

Ramadan kali ini selain sebagai medium taqarrub kepada Allah juga momentum untuk kita lebih bermanfaat dengan membantu orang-orang yang membutuhkan dan kesulitan di sekitar. Momentum untuk kita menunjukan keberpihakan pada kaum tertindas, lemah, dan orang-orang miskin (mustadafin dhuafa wal masakin). Karena sesungguhnya solidaritas dan semangat saling membantulah yang membuat kita kuat dan mampu menghadapi situasi sulit ini.

Puasa Ramadan mendidik manusia untuk memancarkan kepedulian dan empati pada sesama, membuang egoisme, serta menjadikan seseorang bersih jiwanya. Karena itu, hendaknya puasa Ramadan juga menjadi momentum evaluatif–konstruktif atas proses keberagamaan kita selama sebelas bulan kebelakang, dan menjadi momentum aktualisasi diri dalam pola kehidupan sehari-hari, terutama dalam membumikan nilai-nilai kemanusiaan sebagai implementasi ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Sehingga pada titik ini kita mampu mengkorelasikan antara Al-Qur’an, Ramadan, dan pesan mulia kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana disampaikan Rasulullah: “Khairunnas Anfa’uhum Linnas, sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya”.

TINGGALKAN KOMENTAR

eight + ten =