Upacara Seba dan Ritual Kawalu, dalam Budaya Masyarakat Baduy

Upacara Seba dan Ritual Kawalu, dalam Budaya Masyarakat Baduy

0
BAGIKAN
Ribuan warga Baduy berjalan menuju ke kantor Gubernur Banten untuk mengikuti tradisi Seba, Sabtu (14/5). ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman.

Banteninfo- Masyarakat Baduy dalam atau masyarakat baduy luar sebutan lainnya dikenal Urang Kanekes (orang Kanekes) sebagaimana mereka tinggal di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak – Provinsi Banten. Adalah masyarakat yang sampai saat ini masih mengikuti adat-istiadat secara ketat. Sejak berdirinya Kesultanan Banten yang berawal sekitar tahun 1526, ketika Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Baduy secara rutin melaksanakan Seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993).

Upacara Seba ini digelar setelah musim panen dan menjalani ritual Kawalu selama tiga bulan. Perayaan kawalu ini sangat sakral bagi masyarakat Baduy Dalam.

seba baduy
seba baduy

Selama acara Kawalu ini berlangsung, wisatawan luar dilarang memasuki kawasan baduy Dalam yang tersebar di 3 Kampung, kampung Cibeo, Kampung Cikartawana, dan kampung Cikeusik.

Tradisi Kawalu biasanya dirayakan oleh warga baduy dalam, tiga kali selama tiga bulan dengan berpuasa seharian. Kawalu Pertama dimulai pada Februari dan Maret, Kawalu dua serta Kawalu ketiga pada April mendatang.

Selama melaksanakan Kawalu, kondisi kampung baduy dalam sepi karena mereka biasanya meninggalkan aktivitas kegiatan diladang dan lebih memilih tinggal dirumah-rumah.

Baca Juga :   Diberikan Dana Desa, Masyarakat Adat Baduy Tolak Rp 2,5 Miliar dari Pemerintah

Masyarakat Baduy Dalam dengan ciri khas berpakaian putih-putih dengan lomar ikat kepala putih, Ritual kawalu ini dilaksanakan oleh warga baduy dalam dengan cara berpuasa selama tiga bulan serta melakukan do’a meminta keselamatan bangsa dan negara yang aman, damai dan sejahtera. Selama wisatawan kawalu ini berjalan.

Upacara Seba Baduy

Selama ratusan tahun hingga sekarang, Upacara Seba terus dilaksanakan setahun sekali, berupa seserahan hasil bumi. Seserahan hasil bumi ini berupa Padi, Palawija, buah-buahan, gula aren dll. Dalam setiap upacara Seba warga Baduy memberikan pesan untuk selalu menjaga kelestarian alam, hutan dan lingkungan, pesan ini diberikan kepada Ibu Gede atau Ibu Bupati Kabupaten Lebak dan Bapak Gede atau Gubernur Provinsi Banten.

Seba Baduy ke Gubernur Banten
Seba Baduy ke Gubernur Banten

Masyarakat Baduy Percaya bahwa alam adalah satu titipan yang maha Kuasa untuk dilestarikan. Amanah dan kewajiban melestarikan alam jatuh pada masyarakat baduy. Oleh karenanya, semua sistem kehidupan Masayarakat Baduy berpedoman pada filosofi “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung” (Panjang tidak boleh /bisa dipotong, pendek tidak boleh/bisa disambung). Tidak terkecuali dalam sistem hukum adat baduy.

Upacara Seba Baduy ini biasanya diikuti oleh seluruh warga Baduy dalam, warga yang ikut bisa mencapai 2000 orang berbondong-bondong membawa hasil bumi dengan berjlan kaki, pertemuan pertama dengan Ibu Gede atau Bupati Lebak, pertemuan kedua dengan Bapak Gede atau Gubernur Provinsi Banten. Biasanya pertemuan pertama bersama Ibu Gede dengan Babacakan Jeung Urang baduy (makan bersama warga baduy) sapeuting jeung urang baduy (semalam bersama warga baduy) dengan dimeriahkan dengan menampilkan berbagai hiburan yang menarik perpaduan seni budaya warga baduy.

Baca Juga :   Hujan deras, Lima Kecamatan di Lebak Dilanda Banjir

Hari keduanya warga baduy masih dalam upacara seba taunan ini, berlanjut menuju ke Pendopo Gubernur Banten. Pertemuan kedua ini adalah acara puncak warga baduy, puncak acara ini biasa diisi oleh warga baduy dengan berbaur bersama wrga luar baduy. Masyarakat umum pun bebas bertanya-tanya langsung berinteraksi dengan warga baduy asli mengenai kehidupan warga baduy dilingkungannya.

Keteguhan masayarakat Baduy dalam mengikuti adat istiadatnya memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana manusia menghargai dan menghormati alam sekitar, diantaranya prinsip hidup masyarakat baduy tercermin dalam petuah-petuahnya.

Gunung tak diperkenankan dilebur, Lembah tak diperkenankan dirusak, Larangan tak boleh dirubah, Panjang tak boleh dipotong, Pendek tak boleh disambung, Yang bukan harus ditolak yang jangan harus dilarang yang benar haruslah dibenarkan.  

Penulis, Awadudin Angkrih (warga banten)

TINGGALKAN KOMENTAR